Techland secara resmi mengumumkan Dying Light: The Beast, game survival horror generasi baru yang membawa pengalaman parkour brutal, pertarungan jarak dekat intens, dan atmosfer horor khas waralaba ke level selanjutnya.
Game ini ditampilkan secara live dalam ajang Summer Game Fest 2025 oleh Geoff Keighley dan langsung menarik perhatian lewat trailer gameplay perdananya.
Dying Light The Beast Key Visual ENG – Anime News Plus – Prima Channel
“Dying Light: The Beast adalah hasil dari satu dekade pengalaman kami di genre survival horror,” ujar pihak Techland dalam pernyataan resminya.
Tabel Konten Artikel
Rilis Global pada 22 Agustus 2025
Dying Light: The Beast dijadwalkan rilis secara global pada 22 Agustus 2025 untuk platform:
PC
PlayStation 5 Pro
PlayStation 5
Xbox Series X|S
Para pemain dapat melakukan pre-order sekarang untuk mendapatkan bonus eksklusif berupa Hero of Harran Bundle, yang berisi item kosmetik spesial bertema karakter legendaris dari game sebelumnya.
Hero of Harran Bundle: Hadiah Eksklusif Pre-order
Hero of Harran Pre-order Bundle Key VisualHero of Harran Pre-order Bundle Beautyshot
Paket bonus ini termasuk:
Kostum bertema Harran Survivor
Skin senjata klasik dengan efek visual khas
Animasi parkour ikonik
Pemain yang melakukan pre-order akan otomatis menerima bundle ini saat game dirilis.
Trailer Gameplay dan Versi Extended
Techland tidak hanya membagikan trailer utama berdurasi pendek, namun juga merilis versi extended berdurasi 30 menit yang memperlihatkan secara mendalam atmosfer, pertarungan, dan sistem dunia terbuka dalam game.
Tonton trailer resmi dan gameplay extended di bawah ini:
Trailer Resmi Summer Game Fest
Versi Bahasa Inggris
Versi Bahasa Jepang
Versi Bahasa Tiongkok/China/Mandarin
Extended Gameplay Trailer (30 Menit)
Cuplikan & Trailer Sebelumnya
Untuk kamu yang ingin mengejar seluruh histori promosi gamenya, berikut beberapa trailer tambahan dari fase pengenalan sebelumnya:
Oslo, Norwegia – 6 Juni 2025 – Dune: Awakening, game survival multiplayer berskala besar dengan dunia terbuka yang terinspirasi dari semesta Dune, kini telah tersedia bagi semua pemain yang memiliki Edisi Deluxe atau Ultimate. Peluncuran penuh game ini akan dilakukan pada 10 Juni 2025, namun pemain sudah bisa melakukan pre-load sekarang juga di Steam, untuk semua edisi.
Bagi siapa saja yang melakukan pre-purchase edisi Deluxe atau Ultimate sebelum 10 Juni, bisa langsung terjun ke planet Arrakis dan memulai petualangan mereka lebih awal.
Tabel Konten Artikel
Versi Paralel Semesta Dune Hadir dalam Format Game Survival Open World
Dikembangkan oleh Funcom, Dune: Awakening menghadirkan realitas alternatif dari semesta Dune karya Frank Herbert, serta terinspirasi dari film-film sukses arahan Denis Villeneuve dan produksi Legendary Entertainment. Dalam versi ini, Paul Atreides tidak pernah lahir, membuka ruang bagi narasi baru yang belum pernah dijelajahi sebelumnya.
Trailer peluncuran perdana telah dipamerkan di ajang Summer Game Fest, menampilkan atmosfer dan visual yang mendalam dari dunia Arrakis. Kamu bisa menyaksikannya langsung melalui tautan berikut:
Trailer
Trailer Perilisan
Soundtrack Resmi Juga Telah Dirilis Secara Global
Tidak hanya gamenya, soundtrack resmi Dune: Awakening juga dirilis pada hari ini. Kamu bisa menikmatinya melalui platform seperti Spotify, Apple Music, dan Amazon Music di: 👉 https://duneawakening.lnk.to/soundtrack
OST ini terdiri dari musik latar sinematik termasuk dua lagu bonus dari Story Trailer dan Launch Trailer. Musiknya disusun oleh Knut Avenstroup Haugen, komposer pemenang penghargaan yang melakukan rekaman di studio legendaris AIR Lyndhurst di London.
“Menyusun musik untuk Dune: Awakening adalah perjalanan epik yang menantang dan menginspirasi,” ujar Haugen. “Aku ingin menciptakan skor yang merefleksikan misteri dan kemegahan Arrakis. Ini pengalaman luar biasa yang tak akan aku lupakan.”
Gameplay yang Masif: Dari Bertahan Hidup hingga Mengendalikan Spice
Dune: Awakening adalah game survival multiplayer open world pertama yang mengambil latar di planet Arrakis. Pemain akan menjelajahi padang pasir yang brutal bersama ratusan pemain lain di dunia yang dikuasai oleh matahari, badai pasir, dan cacing raksasa legendaris — sandworm.
Kamu akan memulai dari titik bertahan hidup, lalu naik ke level yang lebih tinggi dengan mengendalikan spice, sumber daya paling berharga di alam semesta Dune. Fraksi seperti Atreides dan Harkonnen bisa kamu pilih, dengan pengaruh yang berdampak ke seluruh dunia game, termasuk dalam konflik politik seperti Landsraad.
Komentar Resmi dari Pengembang dan Mitra Franchise
“Dengan Dune: Awakening, kami berusaha menciptakan ulang Arrakis seperti dalam buku dan film ke dalam bentuk video game,” kata Joel Bylos, Creative Director dari Funcom. “Kami sangat antusias melihat para pemain mulai menjelajah semua yang telah kami bangun.”
Sementara itu, Sam Rappaport, VP Digital dari Legendary Entertainment, menambahkan:
“Game ini benar-benar menangkap intensitas dan keajaiban Arrakis. Setiap keputusan bertahan hidup dan strategi memiliki dampak besar. Ini adalah evolusi penting dalam franchise Dune.”
Tanpa Mikrotransaksi, Hanya DLC dan Konten Gratis Pasca-Rilis
Dune: Awakening menggunakan model bisnis klasik berbasis DLC, tanpa sistem toko dalam game atau langganan. Setelah peluncuran, Funcom akan merilis konten tambahan gratis dan DLC lengkap. Untuk informasi peluncuran lengkap dan peta waktu rilis, kamu bisa membaca blog resmi Funcom.
Rilis 10 Juni 2025 – Peluncuran Resmi Global
Game ini sudah bisa dimainkan sekarang oleh pemilik Edisi Deluxe dan Ultimate. Untuk pemain lain yang ingin bergabung saat rilis penuh, jangan lupa lakukan pre-order dan pre-load sebelum tanggal 10 Juni!
Ghostrunner adalah game aksi orang pertama yang intens, cepat, dan brutal. Di tengah dunia pasca-apokaliptik penuh neon dan duka, kamu adalah seorang ninja sibernetik yang berjuang menaklukkan menara raksasa penuh jebakan dan musuh. Tapi ini bukan sekadar permainan aksi—Ghostrunner menuntut fokus tinggi, refleks secepat kilat, dan kesabaran tingkat dewa. Setelah menamatkan game ini, satu hal yang pasti: tidak semua gamer cocok untuk tantangan seperti ini.
Tabel Konten Artikel Review Ghostrunner
Review Ghostrunner Versi Narasi
Silakan tonton ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih memilih untuk menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengaksesnya.
Gameplay Ghostrunner
Gameplay: Mati Bukan Akhir, Tapi Proses
Setiap level dalam Ghostrunner menyuguhkan pengalaman parkour dan pertempuran pedang dalam sudut pandang orang pertama, dengan sistem one-hit kill—baik kamu maupun musuh. Hal ini membuat tiap gerakan harus presisi. Salah melangkah, salah waktu, dan kamu harus mengulang. Tapi di sinilah daya tarik game ini: belajar dari kesalahan, memperbaiki ritme, dan menyempurnakan strategi.
Salah satu skill yang paling kusuka adalah Surge, serangan energi jarak jauh yang dapat melumpuhkan musuh dalam satu garis lurus. Skill ini memberikan keleluasaan taktis tanpa kehilangan rasa tegang yang menjadi inti game ini.
Level Desain: Antara Frustrasi dan Kepuasan
Ghostrunner menghadirkan desain level yang sangat menantang, namun terasa adil. Setiap area menguji kemampuan navigasi dan adaptasi pemain. Level Inward and Upward, misalnya, membuatku mati lebih dari 100 kali. Tapi begitu berhasil melewati rintangan itu, ada rasa kepuasan luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan game lain.
Pertarungan bos juga menyimpan kejutan. Anehnya, bos pertama justru terasa paling sulit dibandingkan yang lain. Sebuah peringatan dini bahwa game ini tak akan memberi ampun sejak awal.
Sistem Upgrade: Kreatif tapi Kurang Praktis
Sistem peningkatan karakter menggunakan grid puzzle, di mana modul harus disusun rapi agar sesuai kapasitas. Konsep ini unik, namun implementasinya terasa kurang maksimal. Kesalahan kecil dalam penempatan bisa membuat penggunaan modul skill jadi sedikit, dan banyak pemain mungkin akan memilih untuk tidak terlalu pusing memikirkannya karena kurang intuitif.
Visual dan Atmosfer: Gaya Minimalis yang Kuat
Ghostrunner tidak menampilkan dunia cyberpunk megah seperti game AAA lainnya, namun cukup efektif dalam membangun atmosfer. Tata cahaya neon, dunia gelap dengan sentuhan industrial, serta efek partikel yang konsisten menciptakan suasana yang pas—dingin, kejam, dan mekanis.
Soundtrack elektroniknya menjadi elemen penting yang mendongkrak ketegangan saat aksi berlangsung. Sayangnya, efek suara pembantaian terasa kurang dramatis untuk sebuah game aksi cepat.
Performa dan Masalah Teknis
Secara umum, performa game di PC cukup stabil dan kontrol terasa presisi. Namun, aku sempat mengalami satu bug fatal: saat aku dan musuh mati bersamaan di titik checkpoint, karakterku tidak bisa digerakkan saat respawn. Solusinya? Restart game. Ini tidak menggangu tapi cukup menyebalkan karna harus mengulang gamenya. Mengingat betapa game ini sangat bergantung pada momentum dan ritme bermain, jadi hal kecil ini bisa sangat menyebalkan.
Layak Dimainkan, Tapi untuk Gamer Tertentu
Ghostrunner bukanlah game untuk semua orang. Tapi buat kamu yang suka tantangan, gameplay cepat, dan adrenalin tinggi—ini salah satu yang terbaik di genrenya. Setiap level dirancang dengan detail dan tantangan tersendiri, bahkan bisa bikin frustrasi kalau kamu tidak sabar atau kurang refleks. Tapi justru di situlah letak keseruannya.
Game ini sangat layak dibeli, apalagi kalau kamu memang tipe pemain yang suka “mati berkali-kali tapi tetap penasaran.” Saat review ini ditulis, harganya sekitar Rp 345.000 untuk versi standar. Kalau kamu menemukan game ini diskon di harga sekitar 100-200 ribu, itu deal yang sangat bagus, bahkan kalau kamu cuma pengin coba-coba. Untuk versi bundling dengan DLC, harganya bisa jadi lebih mahal, tapi tetap worth it kalau kamu suka tantangan dan ingin konten tambahan.
Kalau kamu merasa game ini sudah “jadul” karena sekuelnya sudah rilis, maka menunggu harga turun adalah pilihan bijak. Tapi kalau kamu ingin merasakan desain level yang menantang dan pengalaman platforming yang benar-benar intens, jangan ragu untuk langsung beli.
Rekomendasi: Cocok untuk gamer yang suka gameplay cepat, reflek tinggi, dan siap frustrasi karena mati terus. Tidak cocok buat kamu yang lebih suka cerita dalam game daripada tantangan gameplay.
Kesimpulan
Ghostrunner adalah kombinasi sempurna antara kecepatan, tantangan, dan gaya. Bukan game untuk semua orang—ini bukan soal cerita, bukan pula soal eksplorasi luas. Ini soal menguasai kontrol, membaca pola serangan, dan menghadapi rintangan yang terus berkembang.
Bagi gamer yang mencari tantangan intens dengan level desain cerdas dan gameplay yang adiktif, Ghostrunner adalah pilihan yang tidak akan mengecewakan. Tapi untuk mereka yang tak sabar atau tidak tahan mati puluhan bahkan ratusan kali? Lebih baik pikir ulang.
Serial ini berasal dari novel ringan bergenre fantasi-petualangan karya Chinkururi, yang pertama kali diluncurkan di situs Shousetsuka ni Narou pada Januari 2016. Novel ini kemudian diterbitkan oleh Micro Magazine di bawah label GC Novels dari November 2016 hingga Agustus 2020.
Manga adaptasinya yang digambar oleh Shuu Haruno mulai diserialkan melalui majalah daring Comic Ride sejak Maret 2018. Volume ke-11 dirilis pada Oktober 2024, sementara volume ke-12 menandai pengumuman adaptasi animenya.
Penerbit asal Amerika, Kaiten Books, telah melisensikan manga versi bahasa Inggris sejak Desember 2020 dan merilis volume ketujuh secara digital pada September 2024.
Sinopsis
Heihachi adalah seorang pecandu game gacha biasa, hingga suatu hari ia mendapatkan item spesial yang secara ajaib membawanya ke dunia lain. Dalam keadaan terdesak karena diserang monster, satu-satunya pilihan yang ia tahu hanyalah… gacha!
Dari putaran gacha tersebut, muncullah seorang gadis cantik yang nyata di hadapannya—tidak lagi sekadar karakter di layar ponsel. Bersama Norl, gadis tangguh dengan kemampuan tempur luar biasa, Heihachi memulai petualangan membentuk pasukan gadis-gadis terkuat dari hasil gacha, demi bertahan hidup dan mencari tujuan di dunia baru tersebut.
Lagu penutup: “Marie” oleh Myuk Kedua lagu tema ini ditampilkan dalam video promosi terbaru yang kini telah dirilis.
Tentang Produksi Anime
Anime ini disutradarai oleh Takayuki Kitagawa di studio LandQ Studio. Kenta Ihara bertanggung jawab atas komposisi seri dan penulisan naskah, sementara Akiko Satou menangani desain karakter. Musik dikomposisi oleh Kujira Yumemi.
Asal-usul Cerita
Tobirano memulai serialisasi cerita roman fantasi ini di situs Shousetsuka ni Narou pada Oktober 2019. Light novel ini kemudian diakuisisi oleh Futabasha dan diterbitkan melalui label M Novels F, dengan ilustrasi oleh Mai Murasaki. Volume kedelapan terbit pada 10 Januari 2025.
Adaptasi manga yang digambar oleh Chikage Nakakura dimulai di situs Gaugau Monster pada Juli 2020. Volume kedelapan manga telah dirilis pada 25 Desember, dan volume kesembilan dijadwalkan rilis pada 25 Juni 2025.
Dirilis lebih dari satu dekade lalu, Battlefield 4 tetap jadi salah satu game FPS berskala besar yang masih dicintai. Namun di 2025, pertanyaannya bukan lagi soal kehebohan pertempuran masifnya—melainkan: apakah game ini masih pantas dimainkan dan dibeli, terutama saat server mulai kehilangan pemain aktif?
Tabel Konten Artikel Review Battlefield 4
Review Battlefield 4 Versi Narasi
Tontonlah ulasan dalam bentuk video yang tersedia di bawah ini. Jika kamu lebih memilih menonton daripada membaca, klik di sini untuk mengaksesnya.
Gameplay Multiplayer Battlefield 4
Gameplay Campaign Battlefield 4
Multiplayer: Masih Menyala Tapi Mulai Redup
Jantung dari Battlefield 4 adalah multiplayer-nya. Mode Conquest tetap jadi favorit karena skala besar dan fleksibilitas gaya bermain. Saya sendiri cenderung memilih class Assault dan sesekali mencoba Engineer, namun jarang menyentuh Recon. Pilihan senjata saya jatuh pada AUG, SAR, dan G36C—senjata tipe bullpup dan carbine dengan efisiensi peluru tinggi di medan perang menengah.
Sayangnya, pengalaman bermain di 2025 sangat ditentukan oleh lokasi geografis. Sebagian besar server aktif berada di wilayah barat seperti Oseania dan Eropa, membuat ping di Asia Tenggara cenderung tinggi, rata-rata 180–200ms. Ini jelas memengaruhi performa tembak-menembak, terutama saat kontak langsung.
Meski begitu, sistem VOIP dan voice-line otomatis karakter membuat suasana tetap hidup, bahkan ketika bermain dengan random player yang diam. VOIP yang baik dan respons karakter tetap menjaga atmosfer pertempuran tetap imersif, walaupun komunitas sudah mulai mengecil.
Fitur Unik: Commander Mode
Salah satu fitur paling underrated di BF4 adalah Commander Mode—fitur yang unik dan hanya ada di seri ini. Mode ini memungkinkan pemain mengatur strategi dan memberi dukungan seperti UAV, supply drop, atau missile strike tanpa terlibat langsung dalam pertempuran. Ini adalah fitur taktis yang memberikan variasi dalam gaya bermain, terutama bagi pemain yang ingin berkontribusi tanpa terjun ke garis depan.
Campaign: Gagal Menyampaikan Cerita
Kampanye di Battlefield 4 patut dikritik habis-habisan. Ceritanya tidak jelas, konfliknya tidak kuat, dan koneksinya dengan Battlefield 3 hanya terasa lewat kemunculan dua karakter lama yang bahkan tidak diberi pengaruh signifikan pada plot. Bahkan hingga 2025, bug di campaign masih belum diperbaiki—beberapa misi bisa rusak total karena AI yang mogok atau event yang tidak bisa dipicu.
Namun, voice acting dari tiap karakter masih terasa solid. Sayang, naskah yang lemah membuat semua potensi itu tidak terasa maksimal. Secara keseluruhan, campaign bisa dilewati tanpa rugi apa-apa.
Visual dan Performa: Masih Stabil di 2025
Secara teknis, Battlefield 4 masih layak dipuji. Dengan engine Frostbite yang disempurnakan dari BF3, visual game masih terlihat enak di mata. Efek ledakan, kehancuran bangunan, dan pergerakan karakter masih terasa mulus dan realistis.
Multiplayer berjalan lancar di PC modern, bahkan saat adu tembak masif. Tidak ditemukan bug mayor di sisi gameplay online—hanya campaign yang masih dihantui oleh isu klasik.
Progres dan Sistem Unlock
Progres senjata terasa rewarding, meskipun beberapa item butuh map atau kondisi tertentu untuk dibuka. Ini bisa jadi tantangan tersendiri, tapi menambah nilai replayability. Sistem level terasa standar, tanpa adanya fitur tambahan seperti perk atau skill tree yang signifikan.
Apakah Masih Worth It di 2025?
Jawaban singkatnya: masih, tapi dengan syarat.
Dengan harga penuh yang masih bisa menyentuh Rp500.000-an, Battlefield 4 jelas tidak layak dibeli tanpa diskon. Namun, saat diskon 80–90% muncul, apalagi untuk Premium Edition, maka ini adalah pembelian yang masuk akal. Dengan harga di bawah Rp100.000, kamu mendapat akses ke semua DLC, map, dan pengalaman multiplayer yang masih punya jiwa meski komunitasnya mulai sepi.
Kesimpulan
Battlefield 4 adalah bukti bahwa game dengan usia lebih dari satu dekade masih bisa bertahan dengan gagah di tengah gempuran judul-judul baru. Kekuatan utamanya terletak pada desain multiplayer yang solid, sistem pertarungan yang cepat namun taktis, dan variasi map serta mode permainan yang beragam. Fitur seperti Commander Mode menambah kedalaman strategis yang tak ditemui di banyak game FPS lainnya hingga saat ini.
Namun, waktu tak bisa dibohongi. Komunitas pemain makin mengecil, server dengan ping rendah makin jarang ditemukan, dan campaign-nya terasa usang dan tidak relevan—terlebih dengan bug yang tak pernah tersentuh patch, bahkan hingga 2025. Itu membuat pengalaman solo benar-benar kehilangan daya tariknya.
Jika kamu pemain baru yang penasaran dengan akar kejayaan seri Battlefield, atau veteran yang ingin nostalgia dengan sistem tembak-menembak yang stabil dan map yang ikonik, Battlefield 4 tetap layak dicoba—asalkan dibeli dengan harga diskon yang masuk akal. Jangan berharap pengalaman kompetitif penuh, tapi kamu masih bisa menemukan momen-momen epik yang membuat game ini dulu sangat dicintai.
Cities: Skylines bukan sekadar game city-building biasa. Dirilis pertama kali pada 2015 dan terus mendapatkan dukungan lewat berbagai ekspansi serta mod komunitas, game ini tetap menjadi pilihan utama bagi penggemar simulasi perkotaan. Di tahun 2025, apakah game ini masih pantas dimainkan? Aku mengulasnya berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan versi standar dengan beberapa DLC penting seperti Airports, Industries, After Dark, Green Cities, dan lainnya.
Tabel Konten Artikel Review Cities: Skylines
Review Game Cities: Skylines Versi Narasi Video
Jika kamu ingin meninjau versi video dari narasi tersebut, kamu dapat melihatnya di bawah ini atau melalui tautan berikut: di sini.
Gameplay Cities: Skylines
Pengalaman Bermain: Kota Tanpa Batas
Sebagai pemain lama dan penggemar city-building sejak era SimCity 2000, Cities: Skylines terasa sebagai evolusi yang menyenangkan. Aku memainkan game ini di mode sandbox—tanpa tekanan ekonomi, murni fokus pada desain dan manajemen kota.
Keunikan game ini adalah tingkat kebebasan dan fleksibilitas dalam membangun. Aku lebih suka membangun kota dengan lalu lintas lancar, tata letak rapi, dan area pembangunan merata. Salah satu eksperimen favoritku adalah membuat kota tanpa jalan tol antar distrik—mengandalkan kereta, pesawat, dan moda transportasi alternatif lainnya.
Kompleksitas Manajemen dan Tantangan
Manajemen kota dalam Cities: Skylines memang cukup mendalam. Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan: distribusi utilitas, zona pembangunan, tingkat polusi, dan sistem transportasi. Tantangan terbesarku terletak pada sistem manajemen transportasi, terutama bus dan metro. Ketika kota makin berkembang, sistem ini harus terus diperbarui agar efisien. Kesalahan penempatan satu jalur saja bisa membuat seluruh sistem transportasi jadi tidak efektif.
Beruntung, komunitas modding aktif menyediakan berbagai mod utilitas yang memperbaiki keterbatasan game dasar. Misalnya, bangunan versi mod bisa punya kapasitas lebih besar dan tingkat polusi lebih rendah. Namun, aku tetap pilih-pilih dalam menggunakan mod agar tidak terlalu jauh dari logika realistis.
Kualitas Visual dan Audio
Grafik Cities: Skylines sebenarnya standar untuk genre-nya, tapi cukup optimal untuk performa jangka panjang. Karena game ini berbasis simulasi kompleks, grafis yang terlalu tinggi justru bisa memperlambat gameplay. Namun, elemen seperti asap, cahaya malam, dan efek ledakan dari industri tetap memberi nuansa yang realistis.
Musik dalam game juga menyenangkan, terutama dengan hadirnya DLC Radio yang menambah variasi soundtrack. Lagu-lagunya cukup nyaman di telinga dan cocok untuk sesi bermain yang panjang.
Kekuatan Komunitas dan Konten Tambahan
Salah satu kekuatan utama Cities: Skylines adalah komunitasnya. Mod komunitas sangat membantu—dari alat bangunan, sistem lalu lintas, hingga UI yang lebih informatif. Bahkan banyak fitur dari mod akhirnya diadopsi secara resmi oleh developer.
Namun, game ini juga punya kelemahan besar: sistem DLC-nya. Banyak fitur penting yang seharusnya masuk dalam game utama justru dikunci dalam DLC berbayar. Contohnya: pengelolaan taman bermain, sistem transportasi mendalam, dan sistem industri. Hal ini menjadikan Cities: Skylines terasa “nanggung” tanpa tambahan konten.
Stabilitas dan Masalah Teknis
Selama aku main di PC, game berjalan lancar tanpa crash. Namun, update baru atau rilis DLC sering menyebabkan mod bermasalah. Beberapa mod penting bisa tiba-tiba tidak kompatibel, dan ini berisiko merusak file simpanan kota jika sudah terlalu bergantung pada mod tersebut.
Selain itu, sistem cuaca terasa hambar. Tidak ada variasi musim seperti salju atau badai, kecuali kamu menggunakan mode atau DLC khusus.
Kesimpulan
Cities: Skylines masih sangat layak dimainkan di 2025, apalagi jika kamu pecinta game simulasi yang ingin membangun kota impian tanpa batasan. Game ini memberi pengalaman imersif, kompleks, dan fleksibel. Tapi perlu diingat, mod adalah elemen penting dalam pengalaman bermain, dan DLC tetap menjadi aspek kontroversial.
Jika kamu ingin pengalaman city-building yang mendalam, memuaskan, dan kreatif, Cities: Skylines adalah pilihan terbaik. Namun, pastikan kamu siap menginvestasikan waktu dan mungkin sedikit uang untuk menikmati versi terbaik dari game ini.
Di tengah lautan game tembak-tembakan modern, Hell Let Loose muncul sebagai pilihan alternatif yang serius, taktis, dan benar-benar immersive. Sebagai game semi-realistik berbasis Perang Dunia Kedua, game ini menantang kamu untuk berpikir seperti prajurit, bukan sekadar menembak dan menang. Dan setelah mencobanya sendiri di tahun 2025, aku bisa bilang: ini bukan game untuk semua orang, tapi jelas punya pesona yang kuat.
Tabel Konten Artikel Review Game Hell Let Loose
Review Game Hell Let LooseVersi Narasi Video
Jika kamu ingin meninjau versi video dari narasi tersebut, kamu dapat melihatnya di bawah ini atau melalui tautan berikut: di sini.
Gameplay Hell Let LooseSeries
Kesempatan Pertama, Tembakan Terakhir
Aku memainkan versi biasa Hell Let Loose di PC, dan sebagai pendatang baru di genre ini, aku langsung memilih role medis. Role ini terasa sebagai titik masuk yang paling masuk akal—minim tekanan, tapi tetap penting di garis depan. Yang menarik, meskipun aku bermain solo tanpa tim tetap, suasana di tiap match tetap terasa hidup. Komunikasi memang tidak selalu aktif, tapi cukup untuk membuat strategi berjalan.
Sebagian pemain memilih diam, mungkin karena kendala bahasa atau gaya bermain masing-masing. Tapi komunikasi dasar tetap bisa berjalan—entah lewat voice, chat, ping, atau sekadar saling mengikuti di medan perang.
Tempo Lambat, Tegangan Tinggi
Tempo permainan di Hell Let Loose bisa dibilang lambat—pacing antara match juga tak cepat. Tapi justru di situlah keistimewaannya. Setiap langkah di medan perang terasa penting. Tidak ada indikator peluru kena atau notifikasi kill. Jadi kamu harus benar-benar fokus, perhatikan situasi sekitar, dan seringkali, hanya bisa menebak apakah musuh sudah tumbang atau belum.
Setiap serangan bisa jadi yang terakhir. Kebanyakan senjata bisa membunuh dalam satu tembakan, dan karakter kamu bergerak lambat. Buat yang terbiasa main game FPS bergaya arcade seperti Counter Strike, Battlefield atau Call of Duty, game ini bisa terasa brutal di awal. Tapi setelah beberapa match, kamu akan mulai menghargai kedalaman taktik dan presisi kombatnya.
Medan Perang yang Hidup dan Menggugah
Grafis Hell Let Loose memang tidak bisa disamakan dengan game AAA modern. Tapi atmosfer yang dihadirkan benar-benar meyakinkan. Ledakan, asap, reruntuhan, dan cahaya matahari yang menyelinap di balik puing bangunan—semuanya bekerja sama menciptakan ilusi perang yang sangat kuat.
Suara juga punya peran besar. Dari langkah kaki di tanah berlumpur, suara pesawat di medan tempur, hingga dentuman artileri yang bergema di kejauhan, semuanya dirancang untuk memaksa kamu tenggelam dalam suasana. Bahkan di halaman loading screen, game ini memberi peringatan bahwa pengalaman bermain bisa terasa sangat mirip dengan kenyataan. Bukan karena sensasi aksi, tapi karena peta-petanya memang berdasarkan operasi militer nyata di era Perang Dunia Kedua.
Jadi, hal tersebut berfungsi sebagai semacam peringatan bagi pemain dari generasi tua atau mereka yang pernah mengalami peperangan di masa lalu. Seperti seorang kakek yang menyaksikan cucunya bermain game ini mungkin akan terkenang kembali pada pengalaman yang kurang menyenangkan.
Role, Progresi, dan Realisme
Aku lebih banyak menghabiskan waktu di peran medis, tapi sempat juga membantu artileri—meskipun belum sampai tahap bisa menembakkan langsung karena butuh koordinasi kompleks dan pengetahuan peta yang baik. Kendaraan juga belum sempat aku gunakan karena levelku masih terlalu rendah, kecuali truknya.
Untuk progresi, game ini cukup menantang. Unlock senjata terasa lambat, dan sistem level tidak memberikan kesan “grind” seperti game FPS biasa. Namun, setiap role punya fungsi unik yang terasa signifikan. Ini bukan soal siapa paling cepat menembak, tapi siapa yang bisa bekerja sama paling efektif.
Stabilitas Server dan Kualitas Koneksi
Secara performa teknis, game ini cukup stabil. Tidak ada crash atau bug mengganggu sejauh pengalaman aku. Ping sedikit bervariasi, apalagi kalau server penuh dengan 100 pemain. Tapi dengan ping 90–150ms, gameplay masih bisa dinikmati dengan lancar.
Menariknya, matchmaking tidak sulit. Meskipun game ini cukup niche, server selalu ada yang aktif dan match bisa didapatkan dalam waktu singkat. Komunitasnya juga terasa cukup bersahabat—walau mayoritas pemain tetap fokus pada pertempuran.
Layak Dimainkan?
Jawabannya: iya, tapi dengan catatan. Kalau kamu terbiasa dengan FPS militer yang penuh ledakan dan gameplay cepat, game ini bisa terasa seperti “jalan kaki di medan tempur tanpa tujuan.” Tapi buat kamu yang penasaran dengan gameplay taktis, pengalaman mendalam, dan pendekatan semi-realistik yang intens, Hell Let Loose adalah game yang patut dicoba.
Tapi perlu dicatat, kamu akan jauh lebih nyaman kalau main bareng teman. Setidaknya satu squad kecil akan membuat pengalaman bermain jadi lebih hidup. Karena tanpa adanya penanda atau hitmarker, kamu butuh koordinasi untuk memastikan strategi berhasil.
Kesimpulan
Hell Let Loose bukan game FPS biasa. Ia menghadirkan pendekatan yang jauh lebih serius, realistis, dan menuntut kerja sama antar pemain secara strategis. Dengan atmosfer perang dunia kedua yang imersif, suara yang realistis, dan pacing permainan yang pelan namun menegangkan, game ini benar-benar menantang cara bermain para penggemar shooter.
Sebagai pemain pemula di genre semi-realistik, aku merasa game ini memberikan pengalaman yang sangat berbeda dari game FPS populer seperti Call of Duty atau Battlefield. Tidak ada notifikasi kill, tidak ada highlight flashy, bahkan tidak ada penanda musuh—semua berjalan organik dan apa adanya. Dan justru karena itulah, setiap langkah, tembakan, dan koordinasi terasa bermakna.
Namun, game ini juga tidak sempurna. Unlock senjata terasa lambat, komunikasi pemain bisa minim tergantung server, dan role tertentu seperti kendaraan sampai penggunaan artileri butuh pemahaman ekstra. Ditambah lagi, kualitas grafis yang tidak semewah game AAA masa kini mungkin menjadi faktor penentu bagi sebagian gamer.
Meskipun begitu, jika kamu ingin pengalaman perang yang otentik, dan siap beradaptasi dengan gaya bermain yang lebih taktis dan sabar, Hell Let Loose adalah pilihan yang sangat layak, bahkan di tahun 2025. Apalagi jika kamu bermain bersama teman satu tim, pengalaman yang kamu dapatkan akan jauh lebih dalam dan memuaskan. Game ini bukan tentang menang cepat—ini tentang bertahan dan bekerja sama di medan tempur yang brutal dan realistis.
Battlefield 3 (BF3) adalah salah satu game FPS yang memiliki tempat spesial di hati para gamer era 2010-an. Dirilis pada tahun 2011, game ini dikenal dengan pengalaman perang modern yang intens, visual yang mencolok, dan gameplay yang serius. Sekarang, di tahun 2025, saya memutuskan untuk mencoba kembali game ini melalui versi Premium Edition di PC. Mari kita bahas bagaimana rasanya memainkan BF3 di zaman sekarang.
Tabel Konten Artikel Review Battlefield 3
Review Battlefield 3 Versi Narasi
Tonton ulasan dalam format video di bawah ini atau klik di sini jika kamu lebih memilih menonton daripada membaca.
Gameplay Multiplayer Battlefield 3
Gameplay Campaign Battelfield 3
Kesan Reuni BF3 di Tahun 2025
Terakhir kali saya memainkan BF3 adalah pada tahun 2017, jadi kali ini benar-benar terasa seperti nostalgia. Saya memainkan mode campaign dan multiplayer, sementara mode co-op tidak saya coba karena sudah sepi pemain.
Tempo gameplay sangat tergantung pada peta yang dimainkan. Ada yang sangat kacau dan cepat, ada juga yang lebih lambat dan strategis. Class favorit saya tetap Engineer dan Medic. Untuk senjata, saya tidak memiliki favorit khusus karena saya bisa beradaptasi dengan hampir semua jenis senjata tergantung kebutuhan. Jika peta bersifat close combat, maka senjata dengan fire rate tinggi lebih diutamakan. Sebaliknya, untuk peta yang lebih terbuka, saya lebih memilih senjata dengan damage besar dan akurasi tinggi.
Visual dan Performa: Masih Tangguh
Meskipun sudah cukup berumur, visual Battlefield 3 masih mampu memberikan pengalaman bermain yang tidak kalah dibanding game modern. Efek ledakan, bangunan runtuh, dan pencahayaan dinamis masih terlihat mengesankan. Efek silau dari cahaya kadang terasa mengganggu, tapi justru menambah kesan realistis.
Selama saya bermain, tidak ada bug yang berarti. Performa juga sangat stabil di PC saya, tanpa penurunan frame rate atau stuttering.
Namun, pengaturan resolusi game terasa agak aneh. Hal ini karena monitor saya secara default maksimalnya beresolusi 1080p. Ketika saya menaikkan resolusi menjadi 1440p atau bahkan lebih tinggi, antarmuka sistem menjadi turut mengecil. Akibatnya, saat saya bermain dengan DSR di resolusi 4K, tampilan menu menjadi sangat kecil dan sulit dilihat. Hal ini tentu sangat menyulitkan, terutama bagi pemain dengan monitor berukuran kecil.
Audio: Tetap Menggelegar
Suara tembakan dan ledakan masih terasa kuat dan memuaskan, kendaraan juga terdengar realistis. Satu kekurangan mungkin ada pada suara langkah kaki yang kurang jelas, sehingga sedikit mengurangi kesadaran situasional di medan perang.
Musik dalam game bisa dikatakan biasa saja, namun soundtrack di multiplayer ketika pertandingan hampir berakhir cukup mampu membangun ketegangan. Meskipun hanya menggunakan stereo, audio terasa seperti memiliki efek 3D—mungkin karena penempatan suara yang baik di dalam game. Hal ini menambah kesan imersif saat bermain.
Voice lines atau dialog karakter di mode multiplayer menjadi poin tambahan yang menyenangkan. Fitur ini jarang ditemukan di game sejenis dan berhasil menambah kesan hidup dalam pertempuran. Walaupun sederhana, kehadiran voice lines ini memperkuat nuansa intensitas saat bertarung.
Progres dan Konten
Dengan Premium Edition, saya sudah memiliki akses ke semua DLC dan senjata yang tersedia. Karena semua konten sudah terbuka, saya tidak bisa menilai sistem progres sekarang. Namun, saya masih ingat bahwa ketika pertama kali bermain, progres membuka senjata terasa menyenangkan dan cukup menantang.
Mode co-op yang dulu cukup menarik sekarang sudah sulit diakses karena tidak ada pemain yang aktif. DLC masih memiliki nilai, terutama dari segi variasi senjata. Sayangnya, tidak semua peta DLC sering dimainkan karena server yang tersedia sekarang cenderung memilih-milih konten.
Server dan Komunitas: Sudah Sepi dan Hampir Mati
Bermain dari Asia Tenggara menjadi tantangan tersendiri. Server aktif sebagian besar berada di Australia, Eropa, dan Amerika. Akibatnya, ping bisa mencapai 200 hingga 500ms, yang tentu sangat mengganggu untuk game kompetitif.
Sistem menu multiplayer yang diakses melalui browser terasa sudah usang. Selain itu, sistem anti-cheat PunkBuster masih digunakan dan kadang salah mendeteksi pemain, menyebabkan saya dikeluarkan dari pertandingan secara tidak adil.
BattleLog – BF3
Multiplayer vs Campaign
Multiplayer tetap menjadi daya tarik utama Battlefield 3. Kombinasi antara infanteri dan kendaraan darat, udara, serta beberapa elemen laut (meskipun terbatas seperti kapal kecil) menciptakan kekacauan yang menyenangkan. Sayangnya, karena server mulai sepi, potensi game ini tidak bisa dirasakan sepenuhnya.
Mode campaign tidak begitu menonjol. Ceritanya terasa datar, tidak jelas arahnya, dan terkesan hanya sebagai alat untuk memamerkan grafis dan efek sinematik. Voice acting-nya pun kurang bersemangat, padahal latar cerita adalah medan perang. Cerita dalam campaign Battlefield 3 tidak memiliki kekuatan naratif yang berarti. Alurnya seperti hanya mengejar target, dan adegan dramatis pun terasa dibuat-buat.
Kesimpulan
Battlefield 3 tetap menarik untuk dimainkan kembali di tahun 2025, khususnya bagi pemain lama yang ingin bernostalgia. Game ini masih menyajikan pengalaman multiplayer berskala besar dengan atmosfer perang yang khas. Sayangnya, pengalaman tersebut sudah tidak maksimal karena keterbatasan server aktif, terutama bagi pemain di Asia Tenggara.
Mode campaign tidak memberikan banyak nilai lebih, sehingga game ini sebaiknya tidak dijadikan pilihan utama jika hanya ingin bermain mode cerita. Jika tertarik untuk mencoba, pastikan membelinya saat diskon besar karena harga normalnya sudah tidak sepadan dengan umur gamenya.
Kesimpulannya, Battlefield 3 adalah game yang layak dikenang dan sesekali dimainkan, tapi sudah tidak relevan untuk penggunaan jangka panjang atau permainan kompetitif di era game modern.
Manga ini pertama kali diserialisasikan dalam majalah Comic Yuri Hime milik Ichijinsha pada Juli 2021. Volume kelima telah terbit pada September 2024, sementara volume keenam dijadwalkan rilis pada 16 Mei 2025. Adaptasi bahasa Inggris dari manga ini dilisensikan oleh Seven Seas Entertainment sejak Juli 2022 dan telah merilis volume kelima pada 15 April 2025.
Sinopsis
Tsuda Akane, 28 tahun, adalah seorang wanita karier yang terlihat sempurna di mata rekan-rekannya—cerdas, cantik, dan andal dalam pekerjaannya di perusahaan manufaktur robotik. Namun, di balik citra profesionalnya, Akane menyimpan rahasia besar: kehidupan pribadinya sangat berantakan. Apartemennya dipenuhi sampah dan berantakan total.
Suatu malam, dalam kondisi mabuk, Akane memesan sebuah android bernama Nadeshiko untuk membantunya membereskan apartemennya. Tapi ternyata, android ini bukan hanya terampil dalam bersih-bersih—Nadeshiko juga hadir dengan fungsi yang lebih… intim. Akane pun harus menghadapi situasi tak terduga yang bisa mengubah kesehariannya secara drastis.
Komunitas Virtual YouTuber Indonesia, Virtunix, secara resmi memperkenalkan 6 talenta baru mereka melalui sebuah Preview Video (PV) yang dirilis di kanal YouTube serta unggahan media sosial mereka. Proyek ini juga menandai peluncuran konsep “Kos-Kosan Virtunix”, di mana para VTuber baru digambarkan sebagai penghuni kos unik dengan latar belakang cerita yang beragam.
Tabel Konten Artikel Press Release Vtuber Baru dari Virtunix
Trailer Penghuni Lantai 2, Kosan Virtunix!
Mengenal 6 Penghuni Baru Virtunix
⭐ Altair Aquila – Star Constellation
Altair Aquila
Altair berasal dari konstelasi Aquila dan telah hidup lebih dari 1,2 juta tahun. Setelah meledak dalam supernova, ia bereinkarnasi menjadi manusia dan kini aktif sebagai VTuber dengan konten bernyanyi, menggambar, hingga segmen ngobrol ARTALK.
Detektif 17 tahun dari planet Ichi Usa yang mengecil karena jebakan saat memburu penjahat. Kini ia ditemani roh rubah dan membuat konten fashion, MikuMikuDance (MMD), dan gaming.
Hantu rubah dari kuil yang mendirikan “Negara Kesatuan Republik Tanuki”. Aktif dalam konten game seperti Persona 3, Mobile Legends, Phasmophobia, dan sesi ngobrol santai.
Gadis pemalu yang bangkit dari perundungan dan menjadi VTuber untuk membangun kembali hidupnya. Kontennya fokus pada game dan bernyanyi dengan suara manis.
Berusia 17 tahun dan berasal dari Himalaya, Fuyu belum menampilkan wajahnya secara resmi. Ia siap mengejar mimpi menjadi idol, tapi masih malu-malu untuk tampil di publik.
📌 Belum memiliki akun media sosial
❓ Kxxxxxxxxxx – Siapakah Dia?
Masih sepenuhnya misterius, talent keenam Virtunix ini hanya menampilkan siluet. Siapa dia sebenarnya? Kita tunggu bersama kejutannya!
Penghuni Kosan Sebelumnya: Masih Aktif dan Unik!
👩🏫 Syluxvia – Mercenary / Ibu Kos
Syluxvia
Makhluk dari planet jauh yang kini menjadi pemilik kos dan staf Virtunix. Kontennya mencakup game, ngobrol, menggambar, hingga kolaborasi.
Jurnalis dari Media Formasi yang juga aktif sebagai VTuber. Mira bermain berbagai game seperti Hogwarts Legacy, Roblox, dan liputan langsung di event nyata.
Konsep manajemen ala kos-kosan ini membawa pendekatan yang akrab dan menyenangkan bagi para penggemar. Dengan karakter-karakter unik yang penuh cerita dan daya tarik, Virtunix siap meramaikan dunia Virtual YouTuber Indonesia dengan warna baru.
Digital Happiness, pengembang game horor asal Indonesia yang dikenal melalui seri DreadOut, belum lama ini merilis trailer perdana untuk DreadOut 3. Meski mendapat sambutan positif dari banyak penggemar, antusiasme tersebut dibayangi oleh kontroversi terkait dugaan penggunaan AI generatif dalam key visual game tersebut.
Tuduhan Penggunaan AI Generatif
Kontroversi ini bermula dari komentar di media sosial, termasuk Facebook, di mana beberapa pengguna menduga bahwa key art yang digunakan untuk pengumuman DreadOut 3 merupakan hasil dari AI generatif. Salah satu unggahan yang menjadi pemicu berasal dari akun Isaac Tehilah, yang menyampaikan kecurigaan terhadap orisinalitas karya tersebut.
Isu ini berkembang cepat dan menimbulkan reaksi dari komunitas, baik dari dalam negeri dan beberapa dari luar negeri. Tidak sedikit yang menilai bahwa karya visual tersebut terlihat seperti hasil AI, sementara yang lain meminta klarifikasi langsung dari pihak pengembang.
Tanggapan Resmi Digital Happiness
Melalui pernyataan resmi yang dirilis pada 18 Mei 2025, CEO Digital Happiness, Rachmad Imron, membantah dengan tegas tuduhan tersebut. Mereka menyatakan bahwa tidak ada penggunaan AI generatif dalam pembuatan key art DreadOut 3. Semua proses produksi dilakukan di bawah pengawasan langsung tim internal mereka.
“Kami, Digital Happiness, menyatakan secara resmi bahwa tidak ada penggunaan AI generative image di key artDreadOut 3,” tegas pernyataan tersebut.
“Segala hal yang berhubungan dengan proses kreatif dan produksi adalah tanggung jawab kami, bukan individu dalam tim. Oleh karena itu, mohon ketidakpuasan yang ada tidak diarahkan secara pribadi kepada personil kami.”
Digital Happiness juga menyayangkan bahwa isu ini telah berkembang hingga menyentuh privasi personal anggota tim mereka. Mereka meminta agar segala bentuk kritik diarahkan secara profesional kepada pihak pengembang, bukan individu.
Klarifikasi Digital Hapines Perihal Penggunaan AI di Dreadout 3
Transparansi dan Bukti Pendukung
Menanggapi kritik tersebut, Andre Agam—seniman di balik key visual—merilis dokumentasi proses kreatif yang mencakup rough sketch, tahap referensi, dan pembentukan akhir key art. Posting ini menunjukkan secara rinci bagaimana karya tersebut dibangun dari nol, memberikan transparansi atas proses yang dilakukan secara manual.
Antisipasi DreadOut 3
Meski diliputi kontroversi, DreadOut 3 tetap menjadi salah satu judul yang paling dinantikan dari Indonesia. Game ini dijadwalkan rilis pada tahun 2026, meskipun belum ada tanggal resmi yang diumumkan. Mengusung genre third-person survival horror yang terinspirasi mitologi urban Indonesia, DreadOut 3 dipastikan akan membawa pemain kembali ke dunia penuh teror dan misteri yang khas.
Shiki memulai penulisan novel fantasi romansa ini di situs Shousetsuka ni Narou pada tahun 2016 sebelum kemudian menariknya pada Maret 2017. AlphaPolis menerbitkan novel ini dalam dua volume pada Mei dan September 2017, dengan ilustrasi dari Hachipisuwan.
Pada April 2022, Shiki melanjutkan kisahnya melalui novel sekuel berjudul Jishou Akuyaku Reijou na Tsuma no Kansatsu Kiroku. Volume keempat diterbitkan pada Mei 2024, dan volume kelima dijadwalkan rilis pada 23 Mei. Seri novel ini telah mencapai total cetak sebanyak 2,45 juta kopi.
Adaptasi manga dari novel orisinal digarap oleh Natsume Hasumi dan diserialisasikan dalam majalah Regina dari Mei 2018 hingga Agustus 2021 dalam enam volume. Hasumi juga mengadaptasi versi manga dari novel sekuel yang dimulai pada Maret 2022, dengan volume ketiga dijadwalkan rilis pada 23 Mei mendatang.
Lisensi Internasional
Hanashi Media memperoleh lisensi bahasa Inggris untuk novel ringan ini pada April 2024 dan telah merilis volume kedua pada 28 Februari. Sementara itu, Alpha Manga telah menerbitkan seluruh enam volume manga versi bahasa Inggris dari Juni hingga Desember 2023.
Sinopsis
Bagi seorang jenius alami seperti Pangeran Mahkota Cecil Glow Alfostar, kehidupan sehari-hari terasa membosankan. Pengetahuan dan keahlian datang terlalu mudah, membuatnya sulit menemukan hal yang menarik. Namun, semua berubah ketika ia bertemu tunangannya, Bertia Evil Nochesse, seorang gadis yang menyebut dirinya sebagai “villainess.”
Bertia mengklaim bahwa dunia tempat mereka tinggal adalah dunia dari sebuah otome game, dan dirinya ditakdirkan menjadi penjahat yang menggagalkan hubungan Cecil dengan sang heroine. Dengan penuh semangat, Bertia menjalankan perannya sebagai antagonis—meski dengan hasil yang tak selalu sesuai harapan.
Namun tanpa disadari, setiap “tindakan jahat”-nya justru terlihat tulus dan penuh kebaikan. Kebosanan Cecil pun sirna, karena hari-harinya kini dipenuhi kejutan saat ia mengamati tunangannya yang tidak menyadari kebaikan hatinya sendiri.
Soft Source Publishing bersama pengembang Digital Happiness secara resmi mengumumkan DreadOut 3, sekuel terbaru dari seri horor ikonik asal Indonesia. Game ini akan dirilis untuk PC via Steam pada tahun 2026, dengan catatan unik dari pengembang: “pasti setelah Grand Theft Auto VI dirilis.”
Tentang Game DreadOut 3
DreadOut 3 adalah game horor petualangan orang ketiga yang terinspirasi dari legenda urban Asia–Indonesia. Pemain kembali mengikuti kisah Linda, sang Keeper of the Dark, dalam perjalanan menembus dimensi lain demi mengungkap sumber kekuatan tak kasat mata yang mengancam keseimbangan cahaya dan kegelapan.
Sebagai sekuel dari cult hit DreadOut dan DreadOut 2, game ini akan memperluas dunia supranatural yang telah dikenal penggemarnya dengan gameplay dan cerita yang lebih dalam dan mencekam.
Fitur Utama DreadOut 3
Survival Horror Non-Linear Jelajahi dunia berhantu berlatar khas Indonesia, baik di siang maupun malam hari.
Berinteraksi dengan Dunia Gaib Lintasi batas antara dunia manusia dan alam gaib. Hadapi teror tanpa henti dari roh jahat yang siap menggerogoti jiwa.
Gameplay Iris Phone Gunakan ponsel pintar Linda untuk berganti sudut pandang antara first-person dan third-person demi mengungkap misteri yang tersembunyi dalam kegelapan.
Masuk ke Alam Spiritual Pecahkan beragam teka-teki di setting pedesaan Indonesia yang kental dengan nuansa mistis.
Temukan Hantu dan Legenda Lokal Cari roh-roh dan mitos lokal untuk melengkapi aplikasi Ghostpedia di ponsel Linda. Koleksi berbagai kostum unik yang juga bagian dari ritual pemanggilan kuno.
Situs resmi anime 9: Ruler’s Crown atau dalam judul visual novelnya 9: Nine mengumumkan detail staf tambahan, lagu tema penutup, dan trailer. Anime yang diadaptasi dari visual novel fantasi urban buatan Palette ini dijadwalkan tayang pada Juli 2025.
Trailer 9: Ruler’s Crown
Sinopsis
Kota Shiramisugawa, sebuah kota pelajar tanpa daya tarik khusus. Pemerintah kota mencoba berbagai cara untuk menarik wisatawan, namun semuanya gagal. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga menarik perhatian publik. Kehidupan siswa SMA bernama Shoukai Shin yang damai berubah drastis setelah artefak suci dari Kuil Shirajira Tsukumogami rusak.
Dari dunia paralel, berbagai “Artefak”—perhiasan yang memberikan kekuatan khusus kepada pemiliknya—mulai bermunculan, dan para remaja mulai terbangun dengan kekuatan misterius. Kota yang awalnya biasa ini pun menjadi pusat dari takdir aneh yang melibatkan anak-anak dengan kekuatan supranatural.
Anime ini diadaptasi dari visual novel 9: Nine buatan Palette yang pertama kali dirilis untuk Windows pada April 2018. Sekuel dan cerita pendek tambahan dirilis hingga April 2021. Versi lengkap gim ini juga telah tersedia di Nintendo Switch dan PlayStation 4 sejak Juni 2022.
Adaptasi manga oleh Izumi Kawachi dimuat di Manga Gaugau sejak Oktober 2021.
Dua dekade setelah perilisannya, Battlefield 2 masih muncul sebagai salah satu game FPS klasik yang banyak dikenang. Di tahun 2025 ini, saya kembali mencoba game ini lewat versi original yang dilanjutkan oleh komunitas—bukan dari rilisan resmi berbayar karna tidak dapat dibeli lagi. Tapi pertanyaannya, apakah game ini masih bisa memberikan pengalaman yang menyenangkan?
Tabel Konten Artikel Review Battlefield 2
Review Battlefield 2 Versi Narasi
Tonton ulasan dalam format video di bawah ini atau klik di sini jika kamu lebih memilih menonton daripada membaca.
Gameplay Battlefield 2
Kembali ke Medan Tempur Nostalgia
Sebagai pemain lama yang terakhir menyentuh Battlefield 2 pada tahun 2010, kembali ke game ini di tahun 2025 terasa seperti membuka kotak kenangan masa lalu. Gameplay-nya masih mengusung ciri khas perang skala besar dengan kendaraan, kelas karakter berbeda, dan suasana taktis. Mode yang saya mainkan adalah single player, karena server online resmi sudah tidak aktif, meskipun masih ada komunitas yang menjaga agar game tetap hidup secara offline.
Gameplay yang Lambat Tapi Intens
Secara pacing, Battlefield 2 cenderung lambat. Tapi saat pertempuran pecah di titik panas, intensitasnya bisa melonjak drastis. Role favorit saya adalah Medic dan Engineer—dua kelas yang memungkinkan kontribusi besar di garis depan maupun belakang. Sayangnya, AI musuh dan teman satu tim terasa terlalu bodoh. Bahkan setelah modifikasi file agar bisa bermain di map berukuran besar, performa AI tetap tidak bisa diandalkan. Selain itu, akurasi senjata sering terasa acak, membuat gameplay kurang konsisten.
Visual Jadul, Tapi Masih Ada Daya Tarik
Untuk standar 2025, jelas visual game ini sudah sangat ketinggalan zaman. Battlefield 2 adalah game tua, dan ekspektasi grafis tinggi jelas tidak relevan. Namun animasi kendaraan, ledakan, dan efek visual pertempuran masih bisa dinikmati, terutama bagi yang menghargai nilai historisnya. Dengan sedikit tweak komunitas, bahkan kamu bisa memperluas map dan menambah jumlah bot hingga 128—yang tentunya jadi nilai tambah tersendiri. Bot bisa ditambah lebih dari itu, tapi biasanya, game akan mengalami crash.
Audio yang Campur Aduk
Sound effect seperti suara tembakan dan ledakan masih terdengar cukup bagus, tetapi suara langkah kaki terlalu datar. Musik latar di menu utama terdengar sangat old-school, memberikan nuansa nostalgia, namun voice over dalam game terasa kaku dan tidak hidup—lebih mirip robot ketimbang prajurit di medan perang.
Sisa-sisa Sistem yang Masih Relevan
Walau tidak banyak fitur modern, beberapa elemen seperti serangan artileri masih terasa relevan, karena terus digunakan dan disempurnakan dalam seri Battlefield yang lebih baru. Tapi sistem progression, equipment, dan interface jelas menunjukkan usianya. Saya hanya menggunakan patch komunitas untuk menjalankan game, tanpa modding besar, dan sayangnya ini tidak cukup untuk membuat pengalaman terasa segar.
Multiplayer yang Sudah Mati
Karena server resmi sudah mati, saya hanya bermain offline. Meski kabarnya ada server alternatif dari komunitas, saya tidak mencobanya. Jadi, bisa dibilang game ini secara multiplayer sudah berada di titik usang. Hanya komunitas kecil dan berdedikasi yang masih aktif.
Kesimpulan
Battlefield 2 adalah kenangan bersejarah dalam dunia FPS, tapi di tahun 2025, game ini lebih cocok dinikmati sebagai nostalgia singkat. Jika kamu mencari pengalaman FPS modern, ada banyak pilihan yang jauh lebih relevan.
Dunia musik Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran grup idol baru yang mengusung konsep futuristik dan kosmik, Stellar Luna. Mengusung tagline “Shine Beyond Limits”, grup ini resmi meluncurkan single debut bertajuk “Pergi” sebagai langkah awal dalam perjalanan mereka menaklukkan industri hiburan.
Tabel Konten Artikel Press
Makna Lagu “Pergi”: Tentang Luka dan Kekuatan untuk Melepaskan
Single “Pergi” menceritakan tentang pengkhianatan cinta dan proses melepaskan seseorang yang pernah sangat dicintai. Lagu ini menggambarkan pergolakan emosi — dari cinta yang dalam, kehilangan, sakit hati, hingga akhirnya muncul keberanian untuk menerima kenyataan dan melangkah pergi.
Dengan lirik yang menyentuh dan melodi yang emosional, “Pergi” menjadi simbol kekuatan untuk bangkit, mencintai diri sendiri, dan memilih untuk tidak kembali ke hubungan yang menyakitkan. Lagu ini bukan hanya debut musikal, tetapi juga pernyataan jati diri Stellar Luna yang penuh semangat dan keberanian.
Mengenal Stellar Luna: Cahaya Baru di Industri Musik
Nama Stellar Luna diambil dari kata “bintang” dan “bulan,” melambangkan keindahan dan cahaya dalam gelapnya malam. Grup ini hadir sebagai sosok idol yang siap bersinar di tengah kegelapan, membawa harapan dan energi positif bagi pendengarnya.
Dengan anggota yang terdiri dari Yenna, Vilda, dan Billa, Stellar Luna mempersembahkan visual, musik, dan konsep panggung bertema galaksi dan luar angkasa. Setiap anggota mewakili elemen kosmis seperti Supernova, Aurora, dan Nebula, menjadikan mereka bukan hanya sebuah grup idol, tapi juga narasi hidup dari semesta yang penuh warna.
MV Stellar Luna – Pergi
Konsep Unik dan Gaya Futuristik
Stellar Luna tidak hanya fokus pada musik, tetapi juga mengusung konsep sinematik dan estetika visual bertema luar angkasa, mulai dari kostum bernuansa metalik, aksen kristal, hingga desain panggung yang menyerupai rasi bintang. Musik mereka bergenre pop elektronik dengan sentuhan orkestra, menciptakan atmosfer yang megah dan imajinatif.
Fandom Resmi: “Stargazers”
Para penggemar Stellar Luna disebut sebagai Stargazers, yaitu pengamat bintang yang selalu mendukung dan membimbing Stellar Luna di setiap langkah mereka. Slogan fandom mereka, “Together, We Illuminate the Universe”, mencerminkan kekuatan komunitas dalam meraih mimpi bersama.
FAQ
Siapa itu Stellar Luna?
Stellar Luna adalah grup idol baru asal Indonesia dengan konsep futuristik dan tema galaksi. Nama mereka berarti “Bintang Bulan” dan mereka mengusung tagline “Shine Beyond Limits”.
Siapa saja anggota dari Stellar Luna?
Stellar Luna terdiri dari tiga anggota: Yenna, Vilda, dan Billa.
Apa makna dari lagu debut mereka, “Pergi”?
Lagu “Pergi” bercerita tentang pengkhianatan cinta dan keberanian untuk melepaskan seseorang yang pernah sangat dicintai. Lagu ini membawa pesan tentang kekuatan dan harga diri.
Kapan lagu “Pergi” dirilis?
Lagu ini dirilis bersamaan dengan debut resmi Stellar Luna sebagai grup idol, yaitu pada tanggal 9 Mei 2025.
Genre musik apa yang dibawakan oleh Stellar Luna?
Mereka mengusung genre pop elektronik dengan sentuhan orkestra, menghadirkan nuansa megah dan sinematik dalam setiap karya mereka.
Apa konsep visual dan tema utama dari Stellar Luna?
Stellar Luna mengusung konsep visual bertema luar angkasa, dengan kostum futuristik berwarna silver, ungu, dan biru galaksi. Tiap anggota mewakili elemen seperti Supernova atau Nebula.
Apa nama fandom resmi Stellar Luna?
Fandom resmi mereka disebut “Stargazers”, dengan slogan “Together, We Illuminate the Universe.”
Di mana saya bisa mengikuti perkembangan Stellar Luna?
Kamu bisa mengikuti mereka di Instagram melalui akun resmi @stellarluna.idol atau menghubungi kontak person mereka via email dan WhatsApp.
Fragpunk adalah game FPS kompetitif terbaru yang mencoba keluar dari pakem dengan menggabungkan aksi tembak-tembakan cepat dan sistem kartu buff ala game strategi. Dengan visual bergaya cyberpunk edgy, karakter penuh gaya, dan mode permainan yang intens, game ini menawarkan sesuatu yang cukup unik di tengah lautan game shooter modern.
Tabel Konten Artikel Review Fragpunk
Review FragpunkVersi Narasi
Tonton ulasan dalam format video di bawah ini atau klik di sini jika kamu lebih memilih menonton daripada membaca.
Gameplay Fragpunk
Gameplay Cepat, Intens, dan Penuh Variasi
Fragpunk memulai langkahnya dengan fondasi gameplay klasik: mode bomb mission seperti di CS, mode TFM (Team Frag Match), Deathmatch bebas tembak, dan Melee TDM yang brutal dan cepat. Meski formula dasarnya familiar, keunikan muncul lewat sistem “buff card” yang muncul setiap ronde.
Setiap tim diberi tiga kartu acak yang bisa dipilih untuk memberikan efek unik sepanjang pertandingan. Efeknya? Mulai dari peluru eksplosif, lompatan gravitasi rendah, isi darah, anti headshot, hingga tembakan yang menimbulkan efek ledakan area. Dan menariknya, kartu yang dipilih akan terlihat oleh tim lawan. Ini menciptakan dinamika meta yang terus berubah dan mendorong kreativitas strategi.
Di sisi tempo permainan, Fragpunk jelas memilih jalur cepat. Semua mode menuntut reaksi instan, pengambilan keputusan cepat, dan adaptasi terhadap kekacauan yang datang dari kombinasi kartu, ability karakter, dan gaya main lawan.
Visual Menawan, Karakter Penuh Gaya
Desain visual Fragpunk sangat mencolok. Karakternya—terutama karakter cewek—diberi desain dengan perhatian ekstra, lengkap dengan animasi yang halus dan penuh gaya. Warna-warna neon, efek skill yang bersinar terang, dan lingkungan penuh detail menjadikan game ini enak dipandang bahkan saat aksi di layar super chaotic.
Animasi pergerakan karakter juga sangat halus, membuat setiap tembakan dan manuver terasa responsif. Tidak ada bug atau glitch besar yang ditemukan selama sesi permainan, yang merupakan nilai plus untuk game yang masih tergolong baru rilis.
Audio: Bagus Tapi Aneh di Arah
Dari sisi suara, Fragpunk cukup menggugah. Sound effect senjata terasa berat dan memuaskan, ditambah musik latar bergaya punk yang bikin semangat membara sepanjang match. Namun, sistem audio 3D-nya masih terasa janggal. Suara langkah kaki atau tembakan dari belakang kadang tidak terdengar sama sekali, seolah hanya ada yang terjadi di depan karakter. Hal ini tentu mengganggu pemain yang terbiasa mengandalkan audio positioning saat bermain kompetitif.
Konten & Kostumisasi Menarik
Fragpunk menyediakan sistem kostumisasi karakter, skin, dan konten kosmetik yang cukup kaya. Menariknya, semua ini dibalut dalam sistem progression yang cukup fair—tidak pay-to-win dan tidak terlalu grindy, setidaknya untuk mode casual yang dicoba.
Game ini juga menyediakan fitur highlight kill di akhir match, yang bisa langsung diunduh. Sebuah fitur keren yang akan disukai content creator dan pemain yang suka pamer clutch moment mereka.
Performa Stabil, Crossplay Jadi Nilai Tambah
Salah satu kekuatan utama Fragpunk adalah performanya. Game ini ringan, berjalan lancar bahkan di PC dengan spesifikasi menengah. Tidak ada frame drop, crash, atau masalah teknis besar yang ditemukan.
Matchmaking juga berlangsung cepat, berkat komunitas yang masih aktif. Plus, Fragpunk mendukung crossplay dan cross-progression, fitur penting untuk FPS modern yang ingin menjaga pemain tetap engaged lintas platform.
Kesimpulan: Potensi Besar, Butuh Sedikit Penyesuaian
Sebagai FPS yang menggabungkan kekacauan arcade dan kemampuan strategis melalui sistem kartu, Fragpunk adalah sebuah kejutan segar di genre yang sering terlalu serius. Meski begitu, ada beberapa elemen yang perlu perhatian lebih—seperti keseimbangan ability karakter (terutama yang bisa menghilang), serta sistem audio 3D yang terasa tidak konsisten.
Namun secara keseluruhan, ini adalah game yang layak dicoba, terutama buat kamu yang ingin merasakan FPS dengan sentuhan berbeda. Apalagi dengan performa stabil dan desain visual yang standout, Fragpunk punya potensi besar untuk jadi game FPS favorit baru… asal terus diasah dan dikembangkan.
Proyek anime ini akan diproduksi oleh EMT Squared, studio yang sebelumnya menggarap Assassins Pride dan Yuusha, Yamemasu (I’m Quitting Heroing).
Dua pengisi suara telah diumumkan:
Yume Miyamoto sebagai Melody Wave (Kanojo ga Koushaku-tei ni Itta Riyuu)
Rumi Ookubo sebagai Luciana Ruttleberg (Fate/Apocrypha)
Novel ini bermula sebagai cerita isekai fantasi yang ditulis oleh Atekichi di situs Shousetsuka ni Narou sejak Februari 2017. TO Books mulai menerbitkannya dengan ilustrasi dari Yukiko pada Maret 2020. Volume keenam telah dirilis pada Oktober 2024, sementara volume ketujuh dijadwalkan terbit pada 15 Mei 2025. Total cetak kumulatifnya telah mencapai 500.000 eksemplar.
Adaptasi manga karya Keiko pertama kali diserialkan melalui Piccoma pada Maret 2021 sebelum pindah ke Comic Corona pada Mei tahun yang sama. TO Books juga akan merilis volume keenam manga pada 15 Mei 2025.
Lisensi bahasa Inggris untuk novel dan manga ini telah diperoleh oleh Seven Seas Entertainment pada Juni 2024. Volume kedua novel berbahasa Inggris telah dirilis pada 25 Maret 2025, sementara volume ketiga manga dijadwalkan rilis pada Selasa, 13 Mei 2025.
Sinopsis
“Aku akan menjadi maid terbaik di dunia!”
Dengan rok hitam putih yang berkibar, seorang gadis berteriak penuh semangat. Namanya Melody — seorang gadis Jepang yang bereinkarnasi dan kini menjalani kehidupan barunya sebagai maid serba bisa di rumah keluarga bangsawan miskin di Kerajaan Théolas.
Dengan keahliannya, teh murah bisa terasa mewah, dan rumah bobrok pun kembali bersinar! Membersihkan, melayani, berburu, memperbaiki—semua bisa ia tangani dengan bantuan sihir kuat yang ia miliki.
Tanpa ia sadari, dunia ini sebenarnya adalah sebuah game otome, dan dirinya merupakan heroine sekaligus saint paling kuat dan tak terkalahkan. Tapi Melody tetap tak tahu soal itu. Romansa dengan pria tampan? Serangan Raja Iblis? Yang penting: kerja dulu! Sebuah kisah fantasi kerja keras yang diam-diam membelokkan takdir!
Rockstar Games secara resmi merilis trailer kedua untuk Grand Theft Auto VI atau disingkat GTA 6, lengkap dengan informasi baru dan sejumlah tangkapan layar dari dalam game. Trailer ini direkam langsung melalui konsol PlayStation 5.
Grand Theft Auto VI dijadwalkan rilis pada 26 Mei 2026 untuk platform PlayStation 5 dan Xbox Series. Jadwal Rilis Versi PC belum diumumkan.
Sinopsis Resmi Grand Theft Auto VI
Vice City, Amerika Serikat.
Jason dan Lucia sudah lama tahu bahwa hidup tidak pernah berpihak pada mereka. Namun saat sebuah aksi perampokan yang seharusnya mudah malah berujung bencana, keduanya terseret ke sisi tergelap dari tempat paling cerah di Amerika.
Terjebak dalam pusaran konspirasi kriminal yang membentang luas di seluruh negara bagian Leonida, mereka terpaksa mengandalkan satu sama lain lebih dari sebelumnya — jika ingin bertahan hidup dan keluar dari kekacauan ini.
Segala hal yang ditampilkan dalam trailer memperkuat ekspektasi bahwa Grand Theft Auto VI akan menghadirkan dunia terbuka yang paling imersif dan dramatis dalam sejarah waralaba ini.