Beranda blog Halaman 9

Cyberpunk: Edgerunners II Diumumkan, Tayang dengan 10 Episode

0

Studio animasi Trigger secara resmi mengumumkan bahwa Cyberpunk: Edgerunners II sedang dalam tahap produksi. Pengumuman ini disampaikan dalam panel khusus Cyberpunk: Edgerunners di Anime Expo 2025 pada hari Jumat (1 Agustus 2025).

Bersamaan dengan pengumuman tersebut, pihak studio juga memperkenalkan jajaran staf utama dan menampilkan teaser visual perdana (terlampir). Sekuel ini akan hadir dengan total 10 episode, sama seperti musim pertamanya.

Staf Produksi untuk Cyberpunk: Edgerunners II

Proyek sekuel ini tetap berada di tangan studio Trigger, namun dengan beberapa pergantian staf di posisi kunci. Berikut adalah susunan staf utama:

Staf Inti

  • Sutradara: Kai Ikarashi (baru)
    (Episode Director – Dungeon Meshi)
  • Penulis Naskah: Masahiko Ootsuka (Darling in the FranXX) dan Bartosz Sztybor
  • Desain Karakter: Ichigo Kanno (baru)
    (Animation Director – Dungeon Meshi)
  • Studio Produksi: Trigger

Catatan: Nama dengan keterangan “baru” adalah staf baru yang tidak terlibat dalam musim pertama.

Sekilas Tentang Musim Pertama

Cyberpunk: Edgerunners musim pertama tayang perdana pada September 2022 dengan total 10 episode, dan tersedia secara eksklusif di Netflix secara global. Anime ini dilengkapi dengan subtitle dan dub dalam berbagai bahasa, menjangkau penonton dari seluruh dunia.

Serial ini merupakan spin-off dari video game Cyberpunk 2077 milik CD Projekt, yang pada gilirannya merupakan adaptasi dari game tabletop klasik Cyberpunk 2020 yang dirilis tahun 1988.

Tentang Game Cyberpunk 2077

  • Rilis Awal: November 2020 (Windows, PS4, Xbox One)
  • Rilis Generasi Baru: Februari 2022 (PS5 dan Xbox Series X)

Cyberpunk 2077 dikenal luas karena dunia distopia futuristiknya yang kompleks, dan sukses memperluas waralabanya ke berbagai media termasuk komik dan anime.

Review Battlefield 5: Ketika Perang Dunia II Terlihat Terlalu Heroik

0

Saat Battlefield 5 pertama kali dirilis, game ini sempat menimbulkan banyak perdebatan. Mengusung tema Perang Dunia II dengan gaya sinematik dan teknologi grafis terkini, EA DICE tampaknya ingin menyajikan pengalaman perang yang bukan hanya imersif, tetapi juga emosional dan penuh aksi. Namun, apakah semua elemen tersebut berhasil dikemas dengan baik? Berikut ulasan lengkapnya.

Review Battlefield 5 Versi Narasi

Versi ulasan dalam bentuk narasi video tersedia di bawah ini. Ulasannya cukup mendalam, meski tidak sedetail artikel tertulis disini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel videonya.

Gameplay Battlefield Series

Kampanye Penuh Aksi, Tapi Terlalu Heroik

Mode campaign Battlefield 5 menawarkan sejumlah “War Stories” yang mencoba menghadirkan berbagai sudut pandang dalam Perang Dunia II. Salah satu cerita yang paling menonjol adalah “The Last Tiger,” yang membawa pemain ke dalam kokpit tank Tiger dari sudut pandang Jerman—sebuah perspektif yang jarang diangkat dalam game sejenis. Cerita ini terasa lebih manusiawi, lebih reflektif, dan memberikan kedalaman karakter yang layak.

Namun, secara keseluruhan, campaign-nya terasa terlalu dibumbui heroisme yang tidak realistis. Beberapa misi menggambarkan karakter utama yang mampu menghancurkan satu pasukan musuh sendirian, menurunkan tingkat kredibilitas narasi. Bagi sebagian pemain, campaign ini terasa lebih seperti pertunjukan teknologi grafis ketimbang kisah yang benar-benar membumi. Meski begitu, pacing atau ritme ceritanya cukup baik dan emosional.

Mekanisme Tempur dan Pergerakan yang Lebih Dinamis

Salah satu aspek paling memuaskan dari Battlefield 5 adalah sistem combat-nya. Pergerakan karakter seperti lari, tiarap, merayap mundur, hingga keluar-masuk kendaraan terasa mulus dan realistis. Semua animasi dieksekusi dengan sangat baik dan responsif, menjadikan pengalaman bermain terasa lebih hidup.

Tidak ada senjata atau kelas yang menjadi favorit absolut, karena semuanya tergantung pada situasi. Fleksibilitas inilah yang menjadi kekuatan Battlefield—memberikan keleluasaan kepada pemain untuk beradaptasi.

Mode Multiplayer: Seru Tapi Tidak Tahan Lama

Multiplayer selalu menjadi daya tarik utama seri Battlefield, dan Battlefield 5 tetap mempertahankan kekuatannya di sini. Mode seperti Breakthrough dan Operations kembali hadir dan tetap menyenangkan. Namun, salah satu isu besar terletak pada jumlah peta yang terbatas. Dalam jangka panjang, pemain mulai merasakan kejenuhan akibat rotasi peta yang itu-itu saja.

Fitur kosmetik untuk karakter seperti pakaian dan aksesoris memang memberikan opsi kustomisasi, dan tentu tidak memiliki dampak nyata pada gameplay. Sistem balancing antar senjata juga menuai kritik, terutama karena beberapa senjata terasa jauh lebih kuat dibanding yang lain. Tapi kita mewajarkan bagian ini, karna sesuai dengan tema-nya yang dimasanya senjata – senjata banyak tidak seimbang.

Visual Fantastik dan Ray Tracing Generasi Awal

Tak bisa dipungkiri, Battlefield 5 adalah game dengan tampilan visual luar biasa. Ini adalah salah satu judul pertama yang mengimplementasikan ray tracing, dan hasilnya memang memukau. Ledakan, pencahayaan, hingga detail lingkungan tampil dengan sangat realistis.

Bahkan dengan spesifikasi tinggi sekalipun, beberapa area tetap mampu menantang sistem karena banyaknya efek visual. Meski demikian, game ini stabil secara teknis, dengan framerate dan performa yang solid sepanjang campaign maupun multiplayer.

Audio: Menyatu dengan Aksi Perang

Sisi audio Battlefield 5 tetap memuaskan. Soundtrack-nya menggunakan elemen khas seri Battlefield meskipun terasa lebih nendang dibanding Battlefield 1 yang lebih santai. Efek suara tembakan, tank, ledakan, dan ambience medan perang sangat kuat, menambah imersi selama bermain.

Sayangnya, tidak ada tema musik patriotik khas di menu utama seperti seri sebelumnya, namun hal itu tak mengurangi kualitas keseluruhan audio secara signifikan.

Harga dan Nilai Pembelian Saat Ini

Pada masa rilis, Battlefield 5 dibanderol sekitar Rp 750.000. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, harga tersebut mungkin terasa berat untuk sebagian orang. Tapi jika dilihat dari nilai produksi, teknologi grafis, dan gameplay, game ini tetap layak dimainkan—terutama saat didiskon.

Kini, harga terbaik untuk Battlefield 5 sekarang di tahun 2025 ini mungkin berada di kisaran Rp 100.000 hingga Rp 50.000. Dengan angka tersebut, game ini menjadi paket yang sangat menarik bagi siapa pun yang belum mencobanya.

Kesimpulan: Layak Tapi Tidak Bertahan Lama

Battlefield 5 adalah game yang mengesankan secara teknis dan visual, namun terasa kurang dalam penyajian konten jangka panjang. Peta yang terbatas, kurangnya DLC karena janji “tanpa season pass”, dan konten yang tidak diperluas membuat game ini cepat kehilangan daya tarik.

Untuk pemain baru, Battlefield 5 masih sangat direkomendasikan sebagai pengantar ke dunia shooter semi-arcade. Tapi untuk pemain lama atau mereka yang mencari pengalaman perang yang dalam dan variatif, game ini mungkin hanya layak dimainkan sekali saja.

Battlefield 5 adalah contoh sempurna dari game dengan potensi besar yang tidak dimaksimalkan sepenuhnya. Sebuah mahakarya visual yang layu sebelum berkembang.

Review Mecha BREAK: Pengalaman Mecha Gratisan yang Intens, Tapi Belum Sempurna

0

Di tengah dominasi game AAA berbayar, Mecha BREAK hadir sebagai game aksi mecha gratisan yang menggebrak dengan visual memukau dan sistem pertarungan yang responsif. Walau aku belum memainkannya sampai puluhan jam, kesan awal dari pengalaman menjajal berbagai fitur game ini sudah cukup untuk menilai kelebihan dan kekurangannya secara objektif.

Review Mecha BREAK Versi Narasi

Versi ulasan dalam bentuk narasi video tersedia di bawah ini. Ulasannya cukup mendalam, meski tidak sedetail artikel tertulis disini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel videonya.

Gameplay Review Mecha BREAK

Prolog Keren, Aksi Langsung, dan Dunia yang Tak Sepenuhnya Terjelaskan

Begitu masuk ke dalam game, aku langsung disuguhkan adegan prolog pertarungan mecha yang sinematik. Tak banyak basa-basi, Mecha BREAK langsung melemparkan pemain ke dalam pertempuran dengan mecha futuristik. Meski latar ceritanya hanya terasa sebagai formalitas, premis tentang dunia yang dilanda semacam virus misterius disebut Corite dan konflik dengan kelompok teroris cukup memberikan alasan eksistensial mengapa kita bertarung di dunia ini.

Namun, aku merasa narasinya bukanlah inti kekuatan game ini. Ceritanya minim penekanan, dan dunia sci-fi-nya terasa klise. Fokus utama jelas ada di gameplay dan mekanisme pertarungan antar-mecha yang begitu intens dan dinamis.

Sistem Pertarungan Kompleks yang Membingungkan Tapi Memuaskan

Sebagai seseorang yang belum pernah menyentuh game bertema mecha sebelumnya, Mecha BREAK jadi semacam kejutan besar. Setiap unit mecha di game ini punya peran dan gaya bertarung yang sangat berbeda. Meskipun layout tombol utamanya sama, kombinasi kemampuan dan gaya bermain tiap mecha sangat unik—mulai dari tipe assasin yang gesit hingga tank besar yang bergerak lamban tapi mematikan.

Hal ini membuat pengalaman bermain terasa fresh setiap ganti mecha. Tapi juga menimbulkan learning curve yang cukup curam. Di awal-awal, aku sering bingung harus menyesuaikan kontrol dan gaya main setiap kali mencoba mecha baru.

Mode PvP dan PvE yang Variatif, Tapi Tidak Sepenuhnya Solid

Mecha BREAK menyediakan beragam mode klasik yang sudah familiar: payload, zona poin, eleminasi, sampai ekstrasi. Semua ini dikombinasikan dengan gameplay yang cukup intens. Namun yang agak membingungkan adalah eksplorasi markas pemain. Fitur ini tampaknya dibuat untuk memperdalam imersi, tapi terasa nanggung. Ada banyak ruang dan interaksi yang tidak dimaksimalkan. Bahkan interaksi kecil seperti ketika mandi di toilet lebih difokuskan dibanding fitur dasar seperti bercermin atau tidur di kamar.

Di sisi PvP, keseimbangan antar tim sangat bergantung pada kecerdasan masing-masing pemain. Bila satu tim tidak memahami peran tiap mecha atau memainkan unitnya asal-asalan, maka ketimpangan langsung terasa.

Visual Kelas AAA dan Performa yang Mengesankan

Di sisi teknis, Mecha BREAK luar biasa stabil. Aku memainkan game ini di settingan ultra dan bisa mendapatkan 150–300 FPS tergantung pengaturan grafinys dan pengguna Upscaling. Game ini memang bukan AAA dalam hal distribusi, tapi visual dan presentasinya setara dengan game berbayar papan atas.

Desain mecha juga punya ciri khas tersendiri. Tipe menyerang ukurannya sedang, tipe assasin kecil, dan tipe bertahan besar dan kokoh. Setiap model punya aura dan detail desain yang berbeda, yang membuat eksplorasi kelas mecha jadi menyenangkan secara visual.

Sistem Progression dan Monetisasi: Lambat dan Kurang Menarik

Sayangnya, progresi dalam Mecha BREAK terasa lambat. Untuk membuka konten atau membeli robot baru, pemain perlu mengumpulkan banyak uang dalam game. Hal ini membuat pengalaman bermain terasa seperti “grinding tanpa akhir”, terutama di mode PvPvE semacam Mashmak. Bahkan sistem monetisasi game ini cukup aneh. Selain ada battle pass yang mungkin nanti pasti ada dan gacha (yang untungnya tidak pay-to-win), ada juga sistem semacam lelang di toko yang membingungkan.

Microtransaction di game ini ada, tapi tidak terlalu mengganggu secara gameplay. Hanya saja, bagi pemain yang terbiasa dengan sistem progression yang reward-friendly, mungkin akan merasa cepat bosan.

Audio, Musik, dan Atmosfer Pertarungan

Musik latar game ini bagus, mampu meningkatkan atmosfer pertempuran. Namun voice acting-nya terkesan biasa saja. Efek suara di medan pertempuran bisa sangat intens, sampai-sampai di beberapa momen bisa terasa berisik dan tidak nyaman. Tapi ini bukan poin negatif, melainkan konsekuensi dari pertempuran mecha yang sangat aktif dan padat aksi.

Loading screen juga cukup kreatif: ditampilkan dalam bentuk transisi karakter yang masuk ke mecha sambil briefing misi. Tapi, setelah beberapa jam main, mungkin animasi ini mulai terasa repetitif.

Fitur Paling Berkesan: Sistem Finisher

Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam Mecha BREAK adalah sistem finisher. Ketika berhasil menghabisi musuh dalam kondisi tertentu, animasi finisher akan tampil dramatis dan ditayangkan juga ke UI musuh dan rekan satu tim dalam bentuk karakter memberikan narasi. Momen ini tidak hanya memberikan rasa puas, tapi juga meningkatkan semangat kompetitif dalam setiap match.

Sayangnya, Kurang Kuat untuk Jangka Panjang

Walau terasa seru di awal, Mecha BREAK mulai terasa stagnan dalam seminggu. Map yang sedikit, grinding berlebihan, dan fitur eksplorasi markas yang terasa setengah matang jadi faktor utama kenapa aku tidak tertarik memainkannya dalam jangka panjang. Game ini memiliki potensi besar, tapi rasanya belum sampai ke titik maksimal.

Kesimpulan: Mecha Gratisan yang Worth It Dicoba, Tapi Belum Matang

Mecha BREAK adalah game yang sangat pantas dicoba, apalagi karena gratis. Visual kelas atas, kontrol mecha yang responsif, dan sistem pertarungan yang padat aksi membuatnya sangat menarik. Tapi, untuk pemain yang mencari pengalaman jangka panjang atau progresi yang memuaskan, game ini mungkin belum cukup matang. Cocok untuk penggemar robot, sci-fi, dan aksi cepat, tapi kurang cocok untuk mereka yang ingin game dengan fitur eksplorasi mendalam.

Review Little Nightmares 1 + 3 DLC: Simbolisme Gelap yang Tak Terlupakan

0

Terjebak dalam Dunia Mimpi Buruk yang Indah

Little Nightmares bukan sekadar game petualangan horor, tapi sebuah interpretasi visual tentang ketakutan, kesepian, dan kerakusan manusia. Meskipun dirilis sebagai game indie dengan durasi pendek, pengalaman yang ditawarkan terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata—dan terlalu indah untuk dilupakan. Dalam review kali ini, kami akan membahas game utamanya dan ketiga DLC-nya secara lengkap, berdasarkan pengalaman langsung selama menamatkan semuanya.

Review Narasi Little Nightmares 1 + 3 DLC

Versi ulasan dalam bentuk narasi video tersedia di bawah ini. Ulasannya cukup mendalam, meski tidak sedetail artikel tertulis disini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel videonya.

Gameplay Little Nightmares 1 + 3 DLC

Atmosfer Horor yang Bukan Sekadar Menakutkan

Saat pertama kali memainkan Little Nightmares, ekspektasi awal tidak menduga bahwa nuansa gelap akan begitu dominan. Ini bukan horor dengan jumpscare murahan—tetapi tekanan psikologis yang dibangun dari desain suara, atmosfer lingkungan, dan simbolisme di tiap sudut. Bagi pemain yang tidak terbiasa atau bahkan tidak suka game horor, game ini tetap bisa dinikmati karena rasa takutnya lebih mengandalkan suasana daripada kejutan.

Visual yang ditawarkan tampil seperti kartun gelap yang surreal. Dunia yang tidak logis namun penuh makna. Setiap tempat memiliki simbol yang seakan mewakili sifat buruk manusia. Dan ini menjadi benang merah utama dari perjalanan karakter utama, Six.

Karakter, Dunia, dan Cerita yang Tak Terucapkan

Tanpa dialog eksplisit, cerita Little Nightmares disampaikan melalui gestur, lingkungan, dan kejadian. Tidak semua akan langsung dipahami, bahkan hingga akhir cerita. Yang pasti, Six hanyalah anak kecil yang mencoba bertahan hidup dan kabur dari tempat menyeramkan bernama “The Maw”. Namun di balik itu, kita diajak menebak-nebak, menafsirkan, dan memaknai.

Six sendiri mengalami perkembangan karakter yang menarik—dari korban menjadi sesuatu yang lebih kelam. Ada perubahan sikap yang tidak bisa dijelaskan secara gamblang, tetapi terlihat jelas dari tindakannya. Ending cerita utamanya memberi kesan epik, kuat, sekaligus menggantung. Kekuatan yang didapat Six di akhir bukanlah penyelesaian, melainkan awal dari lebih banyak pertanyaan.

Puzzle, Stealth, dan Tantangan

Gameplay Little Nightmares sederhana namun efektif. Puzzle-puzzle ringan tersebar di setiap area, mayoritas berbasis pada observasi lingkungan. Pemain tidak diminta untuk berpikir rumit, tapi diminta untuk peka: tarik benda, cari kunci, tekan tombol tersembunyi. Elemen stealth menjadi bagian paling menegangkan, terutama saat bersembunyi dari monster.

Namun kontrol bukan tanpa cela. Terkadang ada kendala teknis, seperti harus menahan tombol tertentu agar aksi bisa divalidasi. Ditambah pencahayaan yang sangat minim, membuat eksplorasi semakin sulit—karakter Six hanya membawa korek api, dan pencahayaan dari itu saja kadang tidak cukup untuk melihat jalan tersembunyi.

DLC: The Depths, The Hideaway, The Residence

Ketiga DLC memberikan perspektif baru melalui karakter berbeda, yang dikenal sebagai “The Runaway Kid”. Meskipun tidak menjelaskan lebih jauh soal dunia The Maw, DLC ini memberikan pencerahan tentang makhluk bernama Nomes, dan hubungan mereka dengan Six.

DLC terakhir, The Residence, menjadi yang paling berkesan. Lawan yang dihadapi jauh lebih menakutkan—sekelompok hantu anak kecil dan sang Penyihir. Di akhir cerita DLC, terjadi pertemuan emosional antara Six dan karakter utama DLC. Sayangnya, pertemuan itu tragis dan tidak dikenali oleh Six.

Cerita DLC memperkuat simbolisme game ini. Karakter The Runaway Kid bahkan terasa lebih tragis dibanding Six. Dia kehilangan segalanya, tanpa ada jalan keluar, dan hanya menjadi bagian kecil dari tragedi yang lebih besar.

Musik dan Suara: Tulang Punggung Atmosfer

Sound design adalah kekuatan besar Little Nightmares. Musik latar yang sunyi namun mengancam, efek suara yang peka terhadap tindakan pemain, dan momen hening yang menggigit, semuanya membentuk atmosfer yang sangat efektif. Babak tertentu, seperti Chapter 2 dan 5, memberikan pengalaman audio yang sangat intens.

Tanpa audio yang kuat, game ini bisa saja terasa datar. Tapi dengan audio seperti ini, setiap langkah dan napas karakter bisa membuat bulu kuduk berdiri.

Performa dan Teknis

Game ini berjalan lancar di PC, tanpa kendala besar. Namun ada beberapa keluhan minor seperti stutter atau input yang tidak responsif pada momen tertentu. Hal ini tidak sampai mengganggu keseluruhan pengalaman bermain.

Durasi game utama sekitar 3-5 jam, tergantung kecepatan pemain menyelesaikan puzzle. Ditambah 3 DLC, total permainan bisa mencapai 8-10 jam. Sebuah durasi yang pas untuk pengalaman sepadat ini.

Rekomendasi dan Penutup

Little Nightmares adalah game simbolik yang sederhana tapi efektif. Ia bukan hanya soal menyelesaikan level dan menghindari monster, tapi juga tentang memahami sesuatu yang lebih dalam. Meski tanpa penjelasan eksplisit, game ini menyentuh tema tentang kerakusan, kerapuhan, dan rasa takut akan hal tak dikenal.

Dengan harga sekitar Rp 200.000 untuk base game + semua DLC saat diskon, ini adalah paket lengkap yang sangat worth it. Cocok dimainkan di tahun berapa pun karena visual dan desainnya timeless.

Game ini direkomendasikan untuk siapa saja—terutama untuk pemain yang ingin mencoba pengalaman horor tanpa jumpscare. Bahkan buat kamu yang anti-horor, game ini tetap bisa kamu nikmati.

Little Nightmares bukan hanya game. Ia adalah mimpi buruk yang menyimpan lebih dari sekadar ketakutan. Ia menyimpan makna. Dan mungkin, cermin dari sisi gelap kita sendiri.

Dying Light: The Beast Ditunda ke 19 September 2025

Techland mengumumkan bahwa perilisan game survival open-world terbaru mereka, Dying Light: The Beast, mengalami penundaan. Awalnya dijadwalkan rilis pada 22 Agustus 2025, kini game ini akan meluncur pada 19 September 2025 untuk memberi ruang pada penyempurnaan teknis.

Detail Penundaan

Game ini akan tersedia di PlayStation 5, Xbox Series, PlayStation 4, Xbox One, serta PC melalui Steam dan Epic Games Store. Pemain yang memiliki “Ultimate Edition” Dying Light 2: Stay Human akan mendapatkan Dying Light: The Beast secara gratis.

Dalam pernyataan resminya, Techland menyebut bahwa lebih dari 150 preview media sudah dipublikasikan, dengan pujian sebagai “nailbiting survival horror,” “absolute blast,” hingga “standout game of 2025.” Respon positif ini mendorong tim untuk memastikan pengalaman terbaik saat peluncuran.

Alasan Penundaan

Techland menegaskan bahwa waktu tambahan empat minggu akan digunakan untuk:

  • Menyeimbangkan elemen gameplay,
  • Memperbaiki kualitas fisika,
  • Menyempurnakan animasi serta cutscene,
  • Mengoptimalkan UI agar lebih jelas,
  • Menambahkan detail kecil terakhir yang dapat membedakan antara game bagus dan game luar biasa.

Pesan dari Developer

“Kami tahu ini mengecewakan, tetapi pengalaman kami menunjukkan betapa pentingnya kesan pertama. Dengan empat minggu tambahan, kami bisa memastikan Dying Light: The Beast jadi game terbaik yang pernah kami buat.”

Selain itu, Techland menjanjikan demo yang dapat dimainkan di Gamescom serta update rutin sepanjang musim panas, termasuk detail soal sistem gore dan kembalinya karakter maskot Bober the Beaver.

Battlefield 6 Resmi Diumumkan, Hadirkan Trailer dan Detail Perdana

0

Electronic Arts resmi merilis reveal trailer dan cuplikan gambar pertama untuk Battlefield 6. Game ini akan tersedia di PlayStation 5, Xbox Series, dan PC melalui Steam serta Epic Games Store saat peluncuran.

Trailer Perdana

Mengenal Pax Armata

Trailer perdana menampilkan sekilas Pax Armata, sebuah Private Military Corporation yang didanai oleh negara-negara bekas anggota NATO. Agenda mereka mengancam kestabilan dunia dan berpotensi memicu konflik global. Inilah latar utama yang akan menjadi panggung aksi pemain, baik di mode multipemain maupun kembalinya kampanye pemain tunggal (single player campaign) yang telah lama dinanti.


Pengalaman Perang yang Lebih Epik

Battlefield 6 menghadirkan kembali ciri khas seri ini:

  • Pertempuran penuh adrenalin dan kebebasan pemain.
  • Kemampuan menghancurkan bangunan untuk keuntungan taktis.
  • Pertarungan udara menegangkan dengan fighter jet.
  • Perang berskala besar dengan tank, pesawat tempur, dan aksi darat memukau.

Namun, seperti kata seri ini sejak dulu — senjata paling mematikan adalah tim Anda.

Acara Ungkap Multipemain

EA akan mengadakan acara multiplayer reveal besar-besaran pada Kamis, 31 Juli pukul 11:30 a.m. PT / 2:30 p.m. ET. Acara ini akan disiarkan langsung bersama tim pengembang Battlefield Studios. Mereka akan memperkenalkan:

  • Fitur multipemain terbaru yang paling ambisius dalam sejarah Battlefield.
  • Deretan peta spektakuler yang akan menjadi medan tempur.
  • Mode permainan baru dan yang kembali hadir.
  • Serta berbagai kejutan lainnya.

Konten Eksklusif dari Kreator Game

Setelah siaran utama, kreator game FPS populer akan menayangkan streaming gameplay perdana Battlefield 6 dari berbagai lokasi dunia seperti Los Angeles, Berlin, Paris, dan London. Event lanjutan akan digelar di Hong Kong pada 2 Agustus.

Review Cities: Skylines II – Evolusi Kota yang Masih Perlu Waktu

0

Setelah sukses besar dari Cities: Skylines pertama, harapan terhadap sekuelnya begitu tinggi. Cities: Skylines II datang membawa janji pembaruan besar dalam simulasi pembangunan kota. Namun, apakah janji tersebut terpenuhi? Setelah menamatkan game ini dalam 10 sesi gameplay penuh di mode kreatif, Saya mengupas tuntas pengalaman membangun kota dari nol hingga metropolis berpenduduk 300 ribu jiwa.

Review Cities: Skylines II

Silakan lihat ulasan dalam format narasi video di bawah ini, atau klik di sini untuk menontonnya.

Gameplay Cities: Skylines II

Perbedaan yang Langsung Terasa

Begitu memasuki permainan, peningkatan langsung terasa dari segi visual dan atmosfer. Grafisnya lebih modern dengan pencahayaan yang realistis, efek cuaca yang dinamis, serta ambience kota yang lebih hidup. Sistem radio dalam game juga mengalami peningkatan kualitas suara, meski playlist-nya terasa cepat membosankan.

Namun, bukan hanya kosmetik yang berubah. Setiap bangunan kini memiliki opsi upgrade yang menambah kedalaman simulasi. Fitur-fitur baru ini membentuk pondasi yang membuat kota terasa lebih kompleks, walau tidak semua benar-benar penting atau berdampak signifikan.

Sistem Simulasi dan Manajemen: Antara Kreativitas dan Realisme

Mode kreatif memberikan keleluasaan total dalam membangun tanpa tekanan anggaran. Ini membuat permainan cocok untuk pemain yang ingin fokus merancang kota indah tanpa terhambat dana. Sistem manajemen transportasi, pendidikan, dan layanan publik tetap hadir lengkap seperti seri sebelumnya. Bahkan kini ada tambahan seperti pengelolaan taksi, pesawat kargo, dan sistem jalan yang lebih kompleks.

Salah satu tambahan yang paling terasa adalah sistem bottleneck listrik dan kelistrikan jalan. Jalan biasa kini otomatis menyalurkan listrik, sehingga pemain tidak perlu lagi menyalurkan kabel ke setiap sudut kota. Namun, bottleneck bisa terjadi jika sistem kelistrikan tidak dirancang dengan baik—sebuah tantangan baru yang menarik.

AI dan Lalu Lintas: Masih Butuh Perbaikan

Meski lalu lintas terlihat lebih realistis dengan fitur seperti larangan belok, jalan licin, dan kecelakaan, AI pengemudi serta pejalan kaki masih sering bermasalah. Dalam satu kasus, warga tetap menyeberang jalan meski zebra cross sudah dihapus dan diganti dengan jalur bawah tanah. Masalah seperti ini masih sering terjadi dan mengganggu alur permainan, terutama saat kota sudah padat dan kompleks.

Sistem parkir dan stop taksi, meskipun menambah kedalaman, tidak terlalu berdampak signifikan dalam gameplay saat populasi kota terus bertumbuh. Banyak fitur minor terasa seperti ide bagus yang belum matang secara implementasi.

Zona dan Tata Kota: Lebih Bebas, Tapi Masih Tanggung

Sistem zonasi masih sama secara umum, dengan beberapa peningkatan kecil. Misalnya, sekarang demand untuk perkantoran dan industri dipisah, dan ada tambahan demand untuk perumahan kelas menengah. Fleksibilitas dalam desain kota meningkat, tetapi tetap ada keterbatasan yang membuat kebebasan terasa setengah-setengah tanpa mod.

Di sisi positif, industri kini lebih simpel: cukup bangun satu jenis industri dan tandai area produksinya. Ini membuat sistem lebih streamlined, meskipun mengurangi detail manajemen yang dulu disukai sebagian pemain hardcore.

Layanan Publik yang Lebih Modular

Peningkatan besar terjadi pada layanan publik. Sekarang, bangunan seperti kantor polisi, rumah sakit, dan sekolah punya modul tambahan seperti pusat penelitian, krematorium, atau unit penanggulangan bencana. Ini memberi variasi baru dan meningkatkan imersi dalam membangun kota yang benar-benar hidup dan multifungsi.

Performa dan Stabilitas

Dengan spesifikasi tinggi (RTX 5070 Ti, Ryzen 7 5800X3D, 32 GB RAM, SSD Nmve), game ini berjalan sangat lancar di awal—bahkan bisa mencapai 200 FPS lebih. Namun, saat populasi menyentuh 300 ribu, FPS turun drastis hingga ke bawah 30 FPS. Ini menunjukkan bahwa game sangat CPU-bound dan kurang optimal untuk sistem mid-range.

Waktu loading awal dan pemuatan peta cenderung menjadi lebih lambat seiring perkembangan kota. Meskipun masih tergolong wajar jika menggunakan SSD, perbedaan kecepatan ini tetap terasa; proses yang sebelumnya hampir seketika nanti membutuhkan waktu beberapa detik. Untuk mendapatkan pengalaman bermain yang optimal, sangat disarankan menggunakan setidaknya 32 GB RAM dan prosesor berkecepatan setinggi mungkin.

Mod dan Konten Tambahan

Sayangnya, dukungan modding saat ini masih terbatas. Dibanding Cities: Skylines pertama, komunitas modding-nya belum berkembang pesat. Mod yang tersedia sebagian besar masih dalam tahap eksperimen. Untungnya, versi vanilla-nya sendiri sudah cukup lengkap dan bisa dinikmati tanpa perlu DLC tambahan atau modding.

Apakah Layak Dibeli?

Game ini dibeli dengan harga normal Rp 536.999 dan dinilai masih layak dengan harga tersebut. Bagi pemain baru, ini adalah pilihan yang lebih solid ketimbang seri pertama karena sudah mencakup banyak fitur esensial tanpa perlu bergantung pada mod atau DLC.

Target ideal pemain adalah veteran city builder, pemain kreatif mode bebas, dan pemula yang ingin merasakan simulasi pembangunan kota modern tanpa tekanan ekonomi.

Namun, pemain dengan spesifikasi PC pas-pasan perlu waspada: game ini cukup berat di CPU dan RAM. Selain itu, beberapa bug pada AI dan sistem trafik bisa mengganggu pengalaman, terutama di tahap akhir permainan.

Kesimpulan

Cities: Skylines II adalah langkah maju yang besar tapi belum sempurna. Ini adalah game yang lebih stabil dan modern dibanding pendahulunya, dengan fitur-fitur baru yang praktis dan memperkaya pengalaman bermain. Namun, game ini juga menuntut kesabaran dan perangkat keras yang mumpuni.

Bagi kamu yang suka membangun kota dengan penuh detail, dan ingin pengalaman bebas mod yang lebih solid sejak awal, ini adalah game yang layak dimainkan. Tapi jika kamu berharap pengalaman super-polished seperti CS1 versi modded, mungkin sebaiknya tunggu beberapa update lagi.

Review Clair Obscur: Expedition 33 – RPG Visual yang Menipu Ekspektasi

0

Clair Obscur: Expedition 33 adalah salah satu game paling mengejutkan yang aku mainkan tahun ini. Awalnya, aku tidak menaruh harapan besar. Harganya tidak semahal game AAA, dan namanya juga belum sepopuler judul-judul raksasa lainnya. Tapi begitu aku memulai prolognya, semuanya langsung berubah. Prolog game ini membuka dengan cara yang sangat kuat, bukan hanya secara visual tapi juga emosional. Aku tidak menyangka akan terbawa perasaan secepat itu, bahkan bisa dibilang—aku tersentuh.

Review Narasi Clair Obscur: Expedition 33

Versi ulasan dalam bentuk narasi video tersedia di bawah ini. Ulasannya cukup mendalam, meski tidak sedetail artikel tertulis disini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel videonya.

Gameplay Clair Obscur: Expedition 33

Cerita yang Emosional dan Penuh Lapisan

Game Clair Obscur: Expedition 33 menyuguhkan kisah dengan ritme yang pas. Walau terkadang terasa melambat saat harus menjelajahi area atau berkeliling terlalu jauh, cerita utamanya tetap berjalan dengan tempo yang ideal. Salah satu hal paling mengejutkan dalam narasinya adalah bagaimana karakter-karakter diperkenalkan dan dikembangkan. Gustave, misalnya, awalnya terasa seperti karakter utama. Tapi ternyata dia bukan. Sementara itu, Verso tampil sebagai karakter kompleks yang berbohong demi mencapai tujuannya—dan itulah yang membuatnya menarik.

Di balik dunia kanvas yang indah ini, ada pesan yang dalam. Tema utama dari Clair Obscur bukan sekadar petualangan fantasi biasa. Ini tentang hubungan keluarga—terutama perjuangan orang tua untuk membahagiakan anak-anak mereka, dengan caranya masing-masing. Ayah dan ibu Maëlle memiliki pandangan yang berbeda dalam menghadapi kenyataan, dan itu menjadi inti dari konflik emosional dalam cerita. Pesan moral yang aku tangkap: menghadapi kenyataan, betapapun pahitnya, adalah pilihan yang lebih bijak daripada terus hidup dalam kenyamanan dunia palsu.

Dua Ending, Satu Pilihan Realistis

Aku menamatkan kedua ending yang tersedia dalam game Clair Obscur: Expedition 33, dan untukku, ending Verso adalah pilihan pertama aku dan tentu itu ending yang paling masuk akal. Ending ini menggambarkan perjuangan menerima kenyataan bahwa dunia Clair Obscur hanyalah salinan dari ingatan dan rasa bersalah seorang ibu. Verso mencoba menyadarkan Maelle bahwa mempertahankan dunia palsu bukanlah pilihan yang benar. Ada konsekuensi nyata di dunia nyata, dan mengorbankan kebenaran demi ilusi bukanlah hal yang patut dibenarkan. Ending ini lebih menyentuh karena memberi kesadaran pahit yang dibalut dengan nuansa dramatis.

Sementara itu, ending Maelle merupakan pilihan akhir yang tidak realistis. Dunia Canvas memang kembali seperti semula, namun semuanya hanyalah kepalsuan, dihuni oleh jiwa-jiwa tiruan yang tidak nyata. Maelle tampak bahagia di permukaan, padahal sesungguhnya tidak demikian. Demikian pula dengan Verso versi duplikat dunia canvas yang dihidupkan kembali berkat keabadian yang diberikan oleh ibunya, namun karena gagal mengalahkan Maelle dalam pertarungan terakhir, ia harus menjalani hidup barunya dengan perasaan tidak bahagia serta berada di bawah tekanan Maelle. Akhir cerita ini menghadirkan suasana yang kelam, penuh kepahitan meski dibalut dengan sedikit nuansa manis.

Visual yang Menipu Harga

Kalau hanya menilai dari tampilan luar, Clair Obscur: Expedition 33 terlihat seperti game berbudget besar. Visual dunianya benar-benar unik. Gaya seni yang digunakan membuat dunia ini terasa hidup sekaligus surealis. Bahkan cutscene-nya punya kualitas sinematik yang bikin banyak game AAA terlihat ogah-ogahan. Untuk sebuah game dari studio baru, pencapaian visual ini sangat luar biasa.

Adegan-adegan filmnya punya tingkat detail dan emosi yang jarang ditemui dalam game sekelasnya. Aku tidak menyangka game seharga 499 ribu rupiah ini bisa tampil sehebat itu. Sungguh, jika hanya melihat dari sisi visual dan narasi, game ini sudah sekelas produksi film besar.

Sistem Pertarungan: Turn-Based yang Jadi Hambatan

Sayangnya, sistem pertarungan menjadi titik terlemah. Ini murni opini pribadi, tapi sebagai pemain yang lebih suka pertarungan real-time, sistem turn-based—even dengan improvisasi dan mekanik unik—terasa membosankan. Aku memberi nilai 3 dari 10 untuk bagian ini. Rasanya seperti harus cepat-cepat melewati pertarungan agar bisa lanjut menonton adegan sinematik berikutnya.

Padahal, sistem ini cukup unik dalam desain. Tiap karakter memiliki keahliannya sendiri. Misalnya, Lune memiliki sistem elemen yang saling berinteraksi, dan Verso memiliki sistem yang bergantung pada seberapa lama ia tidak terkena serangan. Ada pula mekanik dodge, parry, hingga jump yang menuntut timing tepat. Tapi tetap saja, semua ini terasa lambat dan mengurangi tensi yang dibangun oleh cerita. Ini membuat game ini cepat terasa membosankan di bagian pertempuran.

Variasi musuh juga terasa kurang. Dalam beberapa bagian, aku menemui musuh yang sama berulang kali, terutama saat harus grinding. Eksplorasi dunia juga tidak terlalu memikat di awal. Namun, pengalaman itu berubah ketika akhirnya Esquie—makhluk tunggangan dalam game ini—dapat terbang. Awalnya aku kira Esquie hanya bisa lari cepat dan berenang. Tapi menjelang akhir cerita, ada notifikasi yang menyatakan bahwa dia bisa terbang. Itu adalah momen yang membekas dan menghidupkan kembali rasa penasaran dalam eksplorasi.

Audio dan Musik yang Menyatu dengan Cerita

Voice acting dalam game Clair Obscur: Expedition 33 sangat natural dan menghidupkan karakter. Musik latarnya menyatu dengan suasana cerita. Setiap nada, setiap efek suara, punya tempat dalam membangun atmosfer emosional yang kuat. Bahkan saat tidak terjadi apa-apa, musiknya tetap membawa rasa. Dalam banyak adegan, suara puisi dalam musik yang menggambarkan karakter atau dunia terasa sangat dalam dan mendukung.

Performa Teknis: Stabil Tapi Butuh Optimasi

Aku memainkan game ini lewat Xbox Game Pass di PC dengan spesifikasi tinggi. Saat tidak merekam atau live streaming, performa game tergolong stabil. Tapi ketika merekam, penggunaan CPU melonjak drastis, terutama saat pertarungan besar atau efek visual intens. Hal ini menyebabkan stuttering pada video, walau gameplay tetap lancar.

Bug kecil juga aku alami, terutama pada sistem upgrade karakter. Poin yang tersedia kadang tidak bisa dipakai semua. Tapi ini mungkin karena aku secara tidak sengaja mengaktifkan cheat atau trainer yang mempengaruhi EXP. Ada juga bug resolusi saat mencoba menggunakan DSR untuk 1440p keatas.

Tapi dari sisi loading dan stabilitas umum, semuanya baik. Game ini cepat dimuat karena aku menggunakan SSD NVMe, dan frame drop hanya terjadi sesekali saat cutscene penting setelah pertarungan dengan efek visual intens saja.

Kesimpulan: PRPG yang Layak Dikenal Lebih Luas

Clair Obscur: Expedition 33 bukan JRPG—ini jelas lebih condong ke PRPG (FRPG) atau “French/Prancis RPG” karena membawa budaya Paris dalam DNA-nya. Untuk gamer yang menyukai cerita emosional, dunia fantasi yang indah, dan tidak terlalu keberatan dengan sistem turn-based, game ini sangat aku rekomendasikan. Tapi jika kamu termasuk yang cepat bosan dengan sistem pertarungan lambat sampai merasa ini akan membuatmu berhenti di tengah jalan, sebaiknya tidak usah dibeli.

Clair Obscur: Expedition 33 adalah campuran dari visual memesona dan narasi menyentuh. Kelemahannya ada pada gameplay-nya yang tidak cocok untuk semua orang. Tapi kalau kamu bisa menerima itu, maka petualangan dalam dunia kanvas ini bisa jadi pengalaman yang tak terlupakan.

Review Battlefield 1 – FPS Perang Dunia Terbaik yang Masih Layak Dimainkan

0

Ketika Battlefield 1 pertama kali diumumkan dengan latar Perang Dunia I, banyak pemain skeptis. Bagaimana mungkin teknologi kuno dan perang parit bisa menghasilkan gameplay seru dalam genre first-person shooter modern? Namun, DICE membalikkan semua keraguan itu. Game ini bukan hanya membuktikan dirinya sebagai salah satu seri Battlefield terbaik, tetapi juga memberikan pengalaman perang yang sinematik, brutal, dan emosional. Setelah menamatkan semua campaign dan memainkan hampir semua mode multiplayer sejak masa rilis hingga 2025, berikut ulasan lengkapnya.

Review Battlefield 1 Versi Narasi

Versi ulasan dalam bentuk narasi video tersedia di bawah ini. Ulasannya cukup mendalam, meski tidak sedetail artikel tertulis disini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel videonya.

Gameplay Multiplayer Battlefield 1

Gameplay Battlefield Series

Campaign: War Stories dengan Hati dan Jiwa

Tidak seperti kebanyakan game FPS yang menghadirkan satu alur cerita tunggal, Battlefield 1 membagi campaign-nya ke dalam beberapa “War Stories” — masing-masing menceritakan kisah individu dari berbagai front perang. Pendekatan ini bukan hanya menyegarkan, tetapi juga berhasil membangun kedekatan emosional dengan karakter-karakternya.

Salah satu cerita yang paling berkesan adalah kisah di balik kokpit pesawat, serta War Story terakhir di wilayah Arab yang penuh tensi. Campaign pada game ini tidak hanya menghadirkan variasi gameplay—mulai dari stealth, pertempuran tank, hingga dogfight di udara—tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dari perang, meski tetap mengambil sudut pandang dramatis dibanding realita sejarah sepenuhnya.

Gameplay: Senjata Unik, Kendaraan Masif, dan Ledakan di Mana-Mana

Battlefield 1 menghadirkan gameplay yang solid dengan kontrol tembak-menembak yang terasa berat dan realistis, sesuai dengan era senjata yang digunakan. Tidak ada indikator damage atau statistik detil di layar—hanya nama senjata. Ini memaksa pemain untuk mengenal karakteristik setiap senjata secara langsung melalui pengalaman bermain.

Yang membuatnya istimewa adalah betapa berbedanya tiap senjata. Era Perang Dunia I penuh dengan senjata eksperimental, aneh, bahkan tidak lazim. Hal ini membuat setiap loadout terasa segar dan tidak ada satu pun “senjata favorit” yang mendominasi.

Kendaraan pun dirancang dengan detail dan mekanik kerusakan unik. Tank misalnya, bisa dihancurkan secara bertahap: tembak bagian meriamnya, maka meriam mati; hancurkan rantainya, maka mobilitasnya lumpuh. Kendaraan juga menuntut koordinasi penuh, karena kursi pengemudi dan penembak harus diisi semua untuk berfungsi maksimal.

Multiplayer: Epik, Imersif, Tapi Kini Sepi

Dulu, saat rilis, semua mode multiplayer saya coba—Conquest, Domination, Rush, Frontlines, dan Operations. Tapi sekarang? Hanya Conquest dan Operations yang masih hidup, itu pun di server terbatas. Sebagai pemain dari Indonesia, menemukan server dengan ping stabil itu perjuangan, terutama di hari biasa. Tapi saat kamu masuk ke dalam match yang hidup, sensasinya… luar biasa.

Operations jadi mode favorit saya. Kenapa? Karena mode ini benar-benar terasa seperti perang yang sesungguhnya. Kamu akan memulai sebagai salah satu negara besar, menyerang wilayah musuh secara bertahap dengan beberapa kesempatan percobaan. Jika kamu gagal total, narasi akan berubah—game akan menganggap pasukanmu terlalu lemah dan tak mampu meneruskan serangan.

Di saat-saat kritis tertentu juga, bisa muncul narasi baru: kamu sedang terdesak, hampir kalah. Tapi justru di titik itulah muncul kejutan—senjata super, kendaraan behemoth, dan taktik pamungkas yang bisa membalikkan keadaan. Semuanya terasa dramatis, penuh tensi, dan sangat sinematik.

Namun, pada tahun 2025, situasinya berubah secara drastis. Aktivitas server mulai menurun, terutama di wilayah Asia Tenggara. Pada hari kerja, hanya tersedia 2 hingga 3 server dengan kualitas ping yang memadai, sedangkan pada akhir pekan jumlahnya paling banyak mencapai 6 server––itu pun tergantung pada waktu tertentu. Misalnya, di malam hari server cenderung lebih ramai, sementara di pagi hari bisa jadi tidak ada pemain sama sekali. Kondisi ini membuat pengalaman bermain secara multiplayer menjadi terbatas, meskipun kualitas gameplay-nya tetap sangat menghibur.

Yang patut diapresiasi, sistem senjata dan kendaraan di multiplayer terasa sangat seimbang, meskipun tidak dijelaskan secara teknis. Karakteristik unik tiap kelas dan pentingnya kerja sama tim (bukan hanya squad kecil) membuat pertempuran terasa otentik. Class recon, misalnya, bisa bertempur solo dengan dukungan gadget khusus seperti suar pendeteksi musuh—tapi tetap harus bermain cerdas.

Visual dan Audio: Paket Sempurna dari DICE

Secara visual, Battlefield 1 adalah mahakarya. Efek kehancuran lingkungan, ledakan yang mengguncang, tanah yang berlubang pasca artileri—semuanya dieksekusi dengan sangat presisi. Fisika kehancurannya pun terasa nyata.

Sound design-nya juga luar biasa. Setiap suara tembakan, granat, hingga ambience perang terdengar tajam dan mendalam. Soundtrack-nya juga tak kalah megah, membangkitkan rasa nasionalisme dengan aransemen khas era 1910-an yang sinematik dan menyentuh.

Cutscene dalam campaign terasa sinematik dan memukau, memberikan pengalaman bermain yang hampir seperti menonton film perang berkualitas tinggi.

Performa di PC: Optimasi yang Brilian

Game ini sangat ringan untuk standar visual setinggi itu. Di sistem modern seperti Ryzen 7 5800X3D dan RTX 5070 Ti, game ini berjalan mulus di setting ultra dengan resolusi 4K DSR. Bahkan di era kartu grafis lawas aku dulu, seperti GTX 1050 Ti, Battlefield 1 tetap bisa berjalan stabil di 60 FPS dengan pengaturan custom.

Loading-nya pun sangat cepat dengan SSD NVMe, hanya sekitar 10 detik tergantung map dan mode. Dibanding saat masih menggunakan HDD yang bisa memakan waktu hingga 30 detik, peningkatannya sangat terasa.

Harga dan Rekomendasi 2025: Antara Layak dan Realistis

Dulu game ini saya beli seharga Rp 800.000 untuk edisi premium di Origin. Sekarang, Battlefield 1 tersedia di Steam seharga Rp 479.000, tapi diskon bisa menjatuhkan harga hingga di bawah Rp 100.000. Menurut saya, harga ideal saat ini adalah di kisaran Rp 80.000. Jika kamu menemukan harga lebih rendah, game ini wajib masuk ke library kamu—walau hanya untuk campaign-nya saja.

Untuk pemain baru, Battlefield 1 tetap layak dimainkan karena kualitasnya yang luar biasa. Namun harus diakui, komunitas multiplayer yang kini sepi adalah kelemahan besar. Meskipun begitu, campaign-nya cukup kuat untuk dinikmati sebagai game FPS single-player kelas atas.

Kesimpulan

Dari semua seri Battlefield klasik—2, 3, 4, hingga 1—seri ini menempati posisi paling istimewa. Keunikan senjata, kerusakan kendaraan yang realistis, mode Frontlines yang sinematik, serta musik dan atmosfer yang luar biasa menjadikannya sebagai game FPS Arcade bertema Perang Dunia yang paling solid hingga hari ini.

Battlefield 1 adalah game yang harus kamu coba kalau belum pernah memainkannya. Tapi jika kamu sangat mengandalkan multiplayer aktif dan komunitas ramai, kamu mungkin akan kecewa. Meski begitu, untuk nostalgia, pengalaman sinematik, dan gameplay penuh gaya, ini adalah salah satu puncak terbaik dalam sejarah franchise Battlefield.

Review DOOM: The Dark Ages – Kekacauan Brutal dalam Balutan Era Abad Pertengahan

0

Kembalinya Doomguy, Tapi Lebih Kuno dan Lebih Brutal

Setelah penantian panjang, DOOM: The Dark Ages akhirnya tiba, menghadirkan pengalaman baru yang mengguncang bagi para penggemar FPS. Tapi kali ini, alih-alih setting futuristik penuh teknologi seperti seri sebelumnya, id Software justru membawamu ke dunia gelap dengan nuansa abad pertengahan yang unik. Aku memainkan game ini sejak 1 Juni hingga tamat pada 29 Juni 2025, dengan total waktu bermain sekitar 21 jam—termasuk eksperimen grafis ray tracing dan streaming yang sedikit mengganggu fokus.

Sebagai orang yang belum pernah menyentuh seri DOOM sebelumnya, pengalaman ini benar-benar jadi pembuka mata. The Dark Ages bukan hanya prekuel dari DOOM (2016), tapi juga sukses membangun ulang citra Doomguy dalam gaya yang lebih epik, lebih brutal, dan lebih sinematik.

Review DOOM: The Dark Ages

Silakan lihat ulasan dalam format narasi video di bawah ini, atau klik di sini untuk menontonnya.

Gameplay DOOM: The Dark Ages

Gameplay yang Seimbang, Cepat, dan Tetap Brutal

Sistem Kombat yang Fresh untuk Pemain Baru

Meskipun ini DOOM pertamaku, aku langsung klik dengan sistem kombatnya. Di tingkat kesulitan “Hurt Me Plenty” (tingkat kedua dari enam), game ini memberikan keseimbangan antara tantangan dan aksesibilitas. Kombat cepat, responsif, dan sangat adiktif. Timing adalah kunci, apalagi saat melawan musuh yang datang bergelombang tanpa ampun.

DOOM The Dark Ages Senjata Anime News Plus Prima Channel

Setiap senjata di game ini punya karakter unik. Ini senjata – senjata kesuakaan Aku. Ada Super Shotgun jadi favorit utamaku karena damage-nya brutal dalam jarak dekat. Sebelum dapat Super Shotgun, aku sempat terpikat sama Combat Shotgun, terus Shredder (versi SMG dengan bentuk crossbow otomatis), dan Accelerator yang punya efek ledakan di level akhir. Ada juga Rocket Launcher dengan upgrade menyerap darah musuh—efektif dan satisfying. Untuk melee, Dreadmace adalah juaranya. Aku suka menyebutnya “senjata pentungan Majapahit”, karena setiap pukulan terasa powerful dan menyenangkan.

Sayangnya, ada dua senjata yang paling jarang aku gunakan yaitu: Chainshot dan Grenade Launcher. Bukan karena lemah, tapi feel penggunaannya agak kurang memuaskan.

DOOM The Dark Ages Level Anime News Plus Prima Channel

Level Desain, Musuh, dan Pacing yang Ketat

Desain level mulai terasa sangat menarik dari Chapter 15 ke atas hingga akhir di Chapter 22. Pacing-nya cepat—kamu nggak bakal dikasih napas sampai semua musuh di ruangan musnah. Kombinasi arena tertutup dan gelombang musuh membuat setiap pertempuran seperti tarian kematian yang brutal dan cepat.

Musuh juga cukup bervariasi dan memaksa kamu mikir cepat. Ada “Cacodemon Hybrid” yang bisa terbang, “Agaddon Hunter” dengan shield menjengkelkan, “Revenant” yang tembus pandang, hingga “Cyberdemon” dan “Cosmic Baron” yang brutal. Yang paling ngeselin mungkin “Acolyte”, penyihir pelari cepat yang harus dibunuh lewat clone-nya dulu. Tantangannya tetap terasa bahkan di mode normal—nggak kebayang di mode lebih tinggi.

Cerita yang Lambat di Awal, Tapi Bikin Ketagihan di Akhir

Satu hal yang sedikit mengganggu di awal adalah penyampaian cerita yang agak kabur. Game dimulai dengan situasi chaos, Doomguy langsung menuju medan perang, dan juga ada kesan seperti sedang dikendalikan. Tapi setelah mencapai Chapter 10 keatas, ceritanya mulai membentuk arah yang jelas. Fokus balas dendam setelah Doomguy dibunuh oleh Ahzrak jadi titik balik cerita yang bikin emosional. Bahkan aku dapat achievement “Too Angry to Die”—sebuah penutup yang pas untuk perjalanan berdarah ini.

Salah satu momen paling epik adalah saat naga Doomguy mati untuk melindunginya. Dari situ, nuansa balas dendam ke para demons makin kental.

Visual, Suara, dan Atmosfer yang Selaras

Secara teknis, grafis The Dark Ages bukan yang paling mewah, tapi sangat pas untuk atmosfer gelap dan penuh peperangan. Dengan ray tracing aktif, game terlihat lebih cerah dan kaya warna, meskipun art direction-nya memang dirancang untuk dunia yang suram. Dunia ini terasa seperti kerajaan abad pertengahan yang dijejali teknologi futuristik—kombinasi yang aneh tapi somehow masuk akal.

Soundtrack punk-rock dan efek suara yang menghentak benar-benar mendukung intensitas gameplay. Cutscene dan animasi pun dikerjakan dengan baik, memberikan nuansa sinematik tanpa mengurangi kesan “DOOM” yang brutal.

Performa & Optimisasi di PC Modern

Sebagai gamer PC, aku selalu penasaran seberapa optimal sebuah game modern berjalan di hardware kekinian apalagi aku baru pakai GPU baru yaitu 5070 Ti—dan DOOM: The Dark Ages termasuk salah satu game yang mendorong performa secara ekstrem. Aku memainkan game ini di resolusi 1440p dengan pengaturan grafis rata kanan dan fitur Frame Generation (FG) aktif sebanyak 4x.

Tanpa ray tracing, game ini melaju mulus di atas 250 fps menggunakan preset DLSS DLAA, yang sangat ideal untuk gameplay super cepat khas DOOM. Namun saat ray tracing diaktifkan, performa menjadi lebih bervariasi tergantung preset DLSS yang digunakan:

  • DLSS DLAA: 20–50 fps (rata-rata 25 fps)
  • DLSS Quality: 30–70 fps (rata-rata 40 fps)
  • DLSS Balance: 50–80 fps (rata-rata 50 fps)
  • DLSS Performance: 60–120 fps (rata-rata 65 fps)
  • DLSS Ultra Performance: tidak bisa dinilai akurat karena terjadi bug fatal—saat aku coba karakter utama diam tak bergerak, tapi kemungkinan FPS bisa mencapai 90–150 fps jika bug tersebut diperbaiki.

Secara teknis, game DOOM: The Dark Ages sangat stabil untuk dimainkan dalam kondisi normal. Selama campaign, aku tidak menemukan bug atau crash besar yang mengganggu gameplay. Namun, saat merekam gameplay—khususnya di adegan pertempuran intens—aku menemukan adanya stuttering dalam hasil video, kemungkinan karena tekanan berat dari kombinasi ray tracing dan efek partikel di layar yang sangat aktif. Meskipun tidak mempengaruhi gameplay secara langsung, ini bisa jadi catatan bagi content creator yang ingin merekam footage berkualitas tinggi sambil main.

Secara keseluruhan, optimisasi game ini tergolong solid untuk hardware high-end modern. Tapi jelas, penggunaan ray tracing butuh pertimbangan ekstra, terutama untuk pengguna yang ingin bermain sambil record atau streaming. Untungnya, tanpa ray tracing pun, visual tetap impresif dan gameplay tetap terasa maksimal.

Secara pribadi, aku lebih memilih bermain tanpa menggunakan fitur ray tracing. Alasannya, fps-nya kurang stabil di atas 60, sementara bagi aku, game ini memerlukan latency serendah mungkin agar responsif. Selain itu, jika ray tracing diaktifkan, apalagi dengan frame generation, visualnya justru tampak seperti slow motion. Di sisi lain, tampilan visual game ini juga bukan menjadi daya tarik utama atau sesuatu yang istimewa. Dengan pertimbangan tersebut, aku merasa lebih nyaman memainkan game ini tanpa ray tracing demi pengalaman bermain yang optimal.

Replayability dan Harga: Apakah Layak Beli?

Kalau kamu bertanya apakah game ini layak untuk dimainkan ulang, jawabannya: ya, sangat. Salah satu daya tarik utama dari DOOM: The Dark Ages adalah replayability-nya yang kuat. Game ini menyediakan pilihan tingkat kesulitan hingga enam level berbeda.

Secara resmi, game ini diklaim bisa ditamatkan dalam waktu sekitar 14 jam jika hanya fokus pada cerita utama tanpa eksplorasi. Tapi dari pengalamanku, dengan tambahan sesi eksperimen grafis ray tracing dan live streaming, waktu bermainku mencapai 21 jam, meskipun gameplay bersihnya sekitar 18–19 jam. Ini menunjukkan bahwa durasi game bisa fleksibel tergantung gaya bermain masing-masing.

Selain itu, game ini juga menyimpan potensi eksplorasi ulang: mulai dari menemukan collectible seperti gold, ruby, dan wraithstone, hingga mencoba ulang berbagai senjata dengan pendekatan yang berbeda. Fitur quick save dan sistem peta 3D sangat mendukung pengalaman eksploratif dan membuat proses replay tetap menarik, terutama bagi yang ingin menyempurnakan strategi dalam melawan demon yang lebih ganas.

Untuk harga, aku membeli versi standar dengan harga Rp1.000.000. Menurutku itu cukup sepadan dengan kualitas yang ditawarkan. Tapi kalau kamu belum familiar dengan seri DOOM, harga idealnya mungkin ada di kisaran Rp750.000. Tetap saja, dari sudut pandang gamer FPS, game ini masih layak dibeli full price, apalagi jika kamu menyukai tantangan, tempo cepat, dan atmosfer gelap yang kental.

Kesimpulan: DOOM yang Segar, Brutal, dan Layak Dinikmati

DOOM: The Dark Ages membuktikan bahwa formula klasik bisa dibawa ke arah yang lebih segar tanpa kehilangan identitas brutalnya. Meskipun ini adalah entri prekuel dan mengambil latar dunia yang lebih kuno, game ini tetap mempertahankan semangat khas DOOM—tembak cepat, lawan demon, dan jangan pernah berhenti bergerak.

Sebagai pendatang baru di franchise ini, aku benar-benar terkesan dengan bagaimana game ini memperkenalkan dunianya. Meskipun ceritanya terasa membingungkan di awal, narasinya berkembang kuat di pertengahan hingga akhir. Doomguy mungkin tetap karakter bisu, tapi setiap aksinya berbicara lebih keras dari kata-kata—terutama saat ia bangkit kembali dari kematian demi membalas dendam.

Gameplay adalah bintang utama di sini. Setiap senjata terasa punya bobot, setiap demon punya pola serangan unik, dan level-levelnya dirancang untuk memaksa pemain berpikir cepat sambil tetap agresif. Ditambah dengan soundtrack metal yang menghentak dan atmosfer yang mendukung, The Dark Ages menghadirkan pengalaman FPS yang imersif, memacu adrenalin, dan benar-benar memuaskan.

Dari sisi teknis, performanya solid di PC modern, meskipun penggunaan ray tracing perlu pertimbangan khusus. Tapi dengan atau tanpa fitur tersebut, game ini tetap berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman visual yang cukup menggugah.

Untuk gamer FPS, baik yang baru mencoba DOOM maupun yang sudah veteran, game ini menawarkan cukup banyak alasan untuk dicoba. Replayability-nya tinggi, durasinya fleksibel, dan sensasi kombatnya nyaris tak tertandingi di genre sejenis. Ini adalah jenis game yang setelah tamat, kamu langsung berpikir: “Gue harus coba mode lebih susahnya!”

Singkatnya, DOOM: The Dark Ages adalah paket lengkap: seru, menegangkan, dan penuh momen badass yang sulit dilupakan. Sebuah bukti bahwa bahkan setelah puluhan tahun, DOOM masih bisa berevolusi tanpa kehilangan jiwa liarnya.

Review Crysis 3 Remastered: Hampir Tidak Ada Bedanya dengan Sebelumnya

0

Jika kamu pernah bertanya “Can it run Crysis?”, kamu pasti tahu reputasi seri ini. Di masanya, Crysis 3 adalah monster teknologi dan puncak dari trilogi FPS ikonik garapan Crytek. Kini, melalui versi Remastered, Prophet kembali dengan Nanosuit-nya di tahun 2025 — tapi apakah kehadirannya masih punya taring, atau hanya nostalgia berbalut resolusi tinggi?

Review Game Crysis 3 Remastered Versi Narasi Video

Jika kamu ingin review Crysis 3 Remastered versi video narasinya, kamu bisa lihat dibawah ini atau di sini.

Gameplay Crysis Remastered Series

Kembali ke New York dalam Balutan Teknologi Baru

Saya memainkan Crysis 3 Remastered pertama kali akhir 2024, dengan ekspektasi tinggi sebagai seseorang yang pernah menamatkan versi originalnya. Harapan saya sederhana: peningkatan visual modern, performa stabil, dan mungkin sedikit penyegaran cerita. Kenyataannya, sebagian harapan itu terwujud, tapi tidak semuanya berhasil memuaskan.

Remaster ini membawa pemain kembali ke reruntuhan New York yang kini telah diselimuti hutan tropis, dikuasai oleh korporasi CELL, dan tentu saja, Ceph — alien mematikan yang masih jadi ancaman. Prophet, kini hanya tersisa kesadarannya dalam tubuh Nanosuit, kembali ke garis depan untuk menyelesaikan satu misi terakhir.

Gameplay: Kombinasi Bebas Antara Predator dan Tank

Yang membuat Crysis selalu unik adalah fleksibilitas gaya bermain. Lewat Nanosuit, kamu bisa bermain diam-diam dengan Stealth Mode, atau menjadi monster lapis baja dengan Armor Mode. Transisi antar mode terasa halus, dan ini yang membuat pertempuran terasa dinamis.

Senjata paling mencolok jelas adalah Predator Bow, panah futuristik yang mematikan dan bisa digunakan dalam mode siluman tanpa membatalkan stealth. Saya pribadi hampir selalu mengandalkannya di tiap misi — terutama saat berburu musuh dari kejauhan dengan panah listrik atau peledak. Kombinasi senjata dan kemampuan membuat setiap pendekatan terasa personal.

Namun, AI musuh terasa stagnan walau udah pada versi Remastered. Mereka sering bereaksi aneh atau terlalu mudah dikalahkan. Level desain juga mulai terasa terbatas dibanding standar FPS modern yang lebih terbuka dan kompleks.

Senjata dan Upgrade: Variatif Tapi Tidak Revolusioner

Di Crysis 3 Remastered ini ada beberapa senjata favorit baru. Selain Predator Bow yang jadi andalan, senjata seperti Typhoon dan DSG-1 juga menawarkan gaya bertempur yang seru. Typhoon adalah senapan dengan kecepatan tembak gila dan terlalu absurd, cocok untuk mengacak-acak posisi musuh dalam hitungan detik, sedangkan DSG-1 menawarkan presisi tinggi dalam jarak menengah dan cocok pertempuran Stealth.

Di sisi lain, fitur hacking menjadi elemen tambahan yang cukup menarik dalam Crysis 3. Kita bisa meretas turret musuh, drone, pintu otomatis, hingga perlengkapan milik Ceph, yang memberi sedikit keunggulan taktis saat menyusup atau bertahan. Walaupun implementasinya tidak terlalu mendalam, fitur ini menambah nuansa bahwa Nanosuit 3.0 benar-benar semakin canggih—seolah Prophet kini bisa melakukan hampir segalanya. Sayangnya, mekanisme hacking ini tetap terasa sebagai pelengkap, bukan inti dari gameplay.

Upgrade Nanosuit sendiri membuka berbagai modul untuk bertahan, menyerang, atau mendeteksi musuh. Namun, sebagian fitur terasa kurang signifikan. Fitur “Nano Vision” adalah contoh paling nyata. Alih-alih membantu di area gelap, visornya justru memberi tampilan yang membingungkan dan tidak praktis.

Saya pun masih heran mengapa fitur ini tetap dipertahankan hingga Crysis 3, bahkan pada versi Crysis 3 Remastered—karena, sejujurnya, tidak memberikan manfaat apa pun, bahkan dalam kondisi gelap sekalipun. Fungsi utamanya hanya efektif untuk mendeteksi alien yang dapat menghilang, tetapi di Crysis 3 musuh tersebut hanya muncul pada awal game dan itu hanya sebentar, sementara di Crysis 2 pun mereka baru hadir menjelang akhir cerita.

Dibandingkan dengan Night Vision di Crysis 1 yang jauh lebih berguna dan nyaman dipakai, Nano Vision di Crysis 3 justru lebih sering saya matikan ketimbang dipakai. Sebuah fitur yang terlihat canggih, tapi kehilangan fungsi praktisnya.

Cerita: Antara Penebusan dan Warisan

Crysis 3 ingin menjadi kisah penutup yang emosional. Prophet bukan lagi manusia utuh — ia adalah kesadaran dalam mesin yang masih menyimpan harapan untuk menyelamatkan dunia. Hubungannya dengan Psycho dan Claire memperlihatkan sisi manusianya yang rapuh, terutama saat masa lalu menghantuinya.

Beberapa momen emosional bekerja dengan baik. Tapi sebagian lainnya terasa terlalu cepat dan tidak diberi cukup waktu untuk berkembang. Contohnya, kemarahan Psycho kepada Claire terasa berlebihan, meski logis mengingat trauma masa lalunya.

Ending-nya sendiri memberi penutupan, tapi bukan klimaks yang membekas. Laurence Barnes atau sebutannya Prophets menyatu kembali dengan identitas di tubuh manusia bernama Alcatraz (nama kode militernya), tapi ancaman Ceph tetap menyisakan banyak tanda tanya. Dan dengan Crysis 4 yang masih belum jelas rilisnya, kesan “belum selesai” jadi terasa.

Visual & Audio: Naik Level, Tapi Tidak Lompat Zaman

Sebagai remaster, peningkatan visual memang ada — tekstur lebih tajam, pencahayaan ditingkatkan dengan ray tracing, dan efek partikel terasa lebih modern. Namun, dibanding game rilis 2024–2025, visual ini masih tertinggal. Beberapa bagian lingkungan terlihat luar biasa, tapi lainnya terasa datar.

Animasi wajah dan ekspresi karakter tidak diperbarui, membuat cutscene terasa kaku. Untungnya, desain dunia tetap mengesankan: reruntuhan kota yang ditelan alam memberi atmosfer yang unik.

Untuk audio, kualitas suara senjata, langkah, dan ambient sound mendukung gameplay. Musik latar cukup sinematik, tapi tidak ada soundtrack yang menonjol. Sayangnya, saya sempat menemui bug audio saat boss fight terakhir — musik klimaks menghilang, menyisakan suara tembakan saja. Momen klimaks yang seharusnya megah jadi terasa sunyi dan canggung.

Performa di PC Stabil

Saya memainkan game Crysis 3 Remastered di PC berspesifikasi Ryzen 7 5800X3D dan RTX 5070 Ti. Performa keseluruhan cukup stabil di 1440p dengan setting tertinggi dan ray tracing aktif.

Apakah Masih Layak Dimainkan di 2025?

Jawabannya: tergantung. Untuk pemain baru, Crysis 3 Remastered masih menyajikan pengalaman FPS dengan elemen stealth dan sci-fi yang jarang ditemukan. Gameplay-nya solid, dunianya menarik, dan Nanosuit tetap menyenangkan digunakan. Tapi untuk gamer veteran, kamu mungkin akan merasa bahwa ini hanya nostalgia visual tanpa peningkatan besar.

Sebagai remaster, Crysis 3 masih punya daya tarik — terutama saat diskon atau lebih bagus beli dalam bentuk bundle dalam pembelian Trilogi, alih – alih hanya membeli Crysis 3 Remastered saja.

Tapi jangan harapkan lompatan besar atau inovasi. Crysis 3 Remastered adalah bentuk penghormatan terhadap game legendaris, tapi bukan bentuk kelahiran ulangnya.

The Angel Next Door Season 2 Umumkan Jadwal Rilis, Teaser, dan Visual Baru

0

Jadwal Tayang Season 2 Diungkap

Adaptasi anime The Angel Next Door Season 2 atau judul asli yaitu Otonari no Tenshi-sama ni Itsunomanika Dame Ningen ni Sareteita Ken Season 2 (Otonari no Tenshi-sama Season 2) atau dikenal internasional dengan judul panjangnya sebagai The Angel Next Door Spoils Me Rotten Season 2 resmi mengumumkan jajaran staf baru dan video teaser perdananya, setelah informasi terakhir 2 tahun lalu di sini. Serial ini dijadwalkan tayang perdana pada April 2026.

Staf Produksi Terbaru untuk Musim Kedua

Anime The Angel Next Door Season 2 masih diproduksi oleh Project No.9, namun musim keduanya melibatkan beberapa staf baru di bidang kunci. Berikut daftar staf lengkap:

Staf Inti

  • Sutradara: Chihiro Kumano (baru)
    (Chuuzenji-sensei Mononoke Kougiroku)
  • Desain Karakter Orisinal: Hanekoto
  • Komposisi Seri: Keiichirou Oochi
    (5-toubun no Hanayome)
  • Desain Karakter Utama: Takayuki Noguchi
    (Hige wo Soru. Soshite Joshikousei wo Hirou.)
  • Desain Karakter Pendukung: Narumi Kurahashi
    (Hikikomari Kyuuketsuki no Monmon)
  • Desain Warna: Youko Suzuki (baru)
    (Jaku-Chara Tomozaki-kun)
  • Sutradara Seni: Ryousuke Kawai (baru)
    (Otome Game Sekai wa Mob ni Kibishii Sekai desu)
  • Sinematografi: Tomoya Kamijou
    (Senpai wa Otokonoko)
  • Editing: Akinori Mishima (baru)
    (Shigatsu wa Kimi no Uso)
  • Musik: Moe Hyuga
    (Araburu Kisetsu no Otome-domo yo.)

Cuplikan Teaser Perdana

Teaser perdana anime The Angel Next Door Season 2 telah dirilis dan menampilkan cuplikan suasana romantis khas antara Mahiru dan Amane, disertai peningkatan kualitas visual dari musim sebelumnya. Video ini juga mengungkap dinamika baru yang akan hadir pada musim kedua nanti.

Otonari no Tenshi-sama Season 2, The Angel Next Door Season 2
Otonari no Tenshi-sama ni Itsunomanika Dame Ningen ni Sareteita Ken Season 2 (The Angel Next Door Spoils Me Rotten Season 2) – Visual Web 2

Sekilas Tentang Seri Light Novel dan Manga

Serial ini merupakan adaptasi dari light novel karya Saeki-san, yang pertama kali diterbitkan di situs Shousetsuka ni Narou pada Desember 2018. GA Bunko dari SB Creative merilis volume pertamanya pada Juni 2019, dengan ilustrasi awal oleh Hazano Kazutake yang kemudian digantikan oleh Hanekoto mulai volume kedua.

Statistik dan Perilisan Terbaru

  • Total Volume: 11 volume utama + 11.5 (yang akan dirilis 13 September 2025)
  • Jumlah Cetak: Lebih dari 2,5 juta kopi
  • Adaptasi Manga: Oleh Wan Shibata dan Suzu Yuuki, dimuat di Manga UP! sejak Januari 2022
  • Volume Manga Terkini: Volume ke-5, dirilis pada 7 Maret 2025

Perilisan Global

Versi Bahasa Inggris

  • Light Novel: Dilisensi oleh Yen Press sejak Juli 2020
    • Volume terbaru (8.5) dirilis pada 20 Mei 2025
  • Manga: Diterbitkan oleh Square Enix melalui Manga UP! versi global
    • Volume ke-4 dijadwalkan rilis pada 7 Oktober 2025

Versi Bahasa Indonesia

  • Light Novel: Dilisensi oleh Phoenix Gramedia Indonesia sejak Juli 2024
    • Volume terbaru (1) dirilis pada 18 Desember 2024

Teaser PV Resmi

Sinopsis Cerita

Berikut di bawah ini adalah sinopsis cerita keseluruhan seri termasuk dari The Angel Next Door Season 2 (Otonari no Tenshi-sama Season 2);

Fujimiya Amane, seorang siswa SMA tahun pertama, mulai hidup sendiri setelah masuk sekolah lanjutan.

Di unit apartemen sebelahnya, tinggal gadis tercantik di sekolah—Shiina Mahiru.

Meski awalnya tidak saling terlibat, hubungan keduanya mulai berubah ketika Amane meminjamkan payung kepada Mahiru yang basah kuyup kehujanan.

Melihat gaya hidup Amane yang berantakan, Mahiru mulai memasakkan makanan, membersihkan kamarnya, dan sering kali mengurus keperluan sehari-harinya.

Tinggal berdampingan, keduanya perlahan mulai saling membuka hati satu sama lain.

Inilah kisah cinta manis dan menggemaskan yang berkembang di antara dua tetangga—penuh kehangatan dan rasa yang bikin gemas.

Update Terbaru Aloft “Puzzles & Pyrologics” Hadirkan Sistem Puzzle Buatan Pemain

Developer Astrolabe® Interactive dan publisher Funcom secara resmi merilis pembaruan besar kedua untuk game survival kooperatif penuh nuansa santai mereka, Aloft, dengan judul “Puzzles & Pyrologics”. Update ini hadir bersamaan dengan diskon 20% di Steam hingga 10 Juli 2025.

Tonton Trailer Resmi Puzzles & Pyrologics

Tonton trailer game ini di sini.

Desain Puzzle Sendiri & Pecahkan Tantangan di Langit

Update ini memperkenalkan fitur Pyrologics, sistem desain puzzle internal yang memungkinkan pemain membuat puzzle dan mekanisme buatan sendiri. Pemain kini bisa merakit puzzle dari:

  • Trapdoor, dinding berputar, pelat tekanan, tuas, timer, dan berbagai komponen lainnya
  • Semua dirancang melalui Pyrologic Board, sistem logika visual seperti papan rangkaian

Puzzle buatan pemain bisa ditempatkan di pulau pribadi, atau disebarkan di Wonder Islands, pulau besar dengan desain buatan tangan dan narasi unik di dalamnya.

Tambahan Baru: Emberstone & Komponen Bangunan Baru

Update ini juga menghadirkan sumber daya baru bernama Emberstone, yang digunakan untuk merakit puzzle dan teknologi Pyrologics.

Selain itu, ada penambahan fitur yang sangat diminta oleh komunitas:

  • Tali elastis yang bisa diregangkan
  • Komponen bangunan berbentuk segitiga sama sisi
  • Kincir angin vertikal yang menangkap angin dari segala arah

Kualitas Hidup & Sistem Komunitas Diperluas

Update ini juga membawa peningkatan pada:

  • Animasi pertarungan dan penyesuaian musuh berdasarkan tingkat kesulitan
  • Pilihan mode kesulitan baru, dari santai hingga hardcore
  • Pulau buatan komunitas dari kompetisi Island Creator di Discord kini tersedia langsung dalam game

Teaser untuk Update Masa Depan

Astrolabe Interactive juga membagikan beberapa highlight untuk pembaruan masa depan yang sedang dikembangkan:

  • Sistem world generation baru
  • Upgrade layar kapal dan jalur angin
  • Revamp sistem progresi
  • Pohon kehidupan dan pemulihan ekosistem
  • Tier musuh dan korupsi baru
  • Senjata, alat, dan dekorasi tambahan
  • Sistem hadiah dan kustomisasi karakter

Tentang Aloft

Aloft adalah game survival sandbox berbasis pulau langit, dengan fokus pada eksplorasi, membangun, dan kolaborasi kreatif antar pemain. Game ini terus tumbuh lewat masukan komunitas, menjadikannya salah satu proyek paling dinamis di genre cozy survival saat ini.

Jangan lewatkan diskon 20% hingga 10 Juli 2025 di Steam!

Galeri

Frontier Works Hadirkan Skateboard Eksklusif Identity V & Pameran Ilustrasi di Anime Expo 2025

Frontier Works Inc. mengumumkan keikutsertaannya dalam ajang Anime Expo 2025 di Los Angeles, AS, dari 3 hingga 6 Juli. Untuk merayakan partisipasi ini, mereka meluncurkan dua varian skateboard deck edisi terbatas “Identity V” yang bisa dipesan secara made-to-order eksklusif di luar Jepang melalui situs Animate International.

ID5 skateboard decks
ID5 skateboard decks

Periode Pre-Order:
6 Juni 2025 pukul 03:00 PDT – 28 Juli 2025 pukul 07:59 PDT

❗️Produk ini tidak dijual di Tiongkok Daratan, Australia, Selandia Baru, dan Jepang.

Booth Frontier Works: Voting Interaktif & Hadiah Langsung

📍 Booth SH-504 (animate GROUP, South Hall)
Booth Frontier Works akan memamerkan ilustrasi ikonik dari game Identity V, lengkap dengan sudut foto interaktif dan pameran eksklusif karya ilustrasi selama lima tahun terakhir.

Pengunjung juga bisa mengikuti proyek voting langsung untuk memilih ilustrasi favorit mereka. Partisipan akan langsung mendapatkan art print ukuran A4 sebagai hadiah khusus.
🎁 Selama persediaan masih ada.

Dinding Ilustrasi Raksasa: Tempat Wajib Foto!

Salah satu daya tarik booth ini adalah ilustrasi besar “Identity V” yang dipajang di dinding area pameran. Pengunjung bisa berfoto langsung di depan karya seni ini, menjadikannya spot sempurna untuk mengabadikan momen di AX 2025.

Merchandise Jepang Populer Hadir Pertama Kali di AS

Penggemar Identity V juga bisa membeli berbagai produk merchandise resmi Frontier Works yang baru pertama kali tersedia di pasar Amerika:

  • Dark×POP Series
  • Art Collection Series
  • Fantasy Series

Merchandise ini tersedia eksklusif di sudut Frontier Works dalam booth animate GROUP — jangan lewatkan kesempatan terbatas ini!

Info Resmi Booth Frontier Works di Anime Expo 2025

🗓️ Tanggal: 3–6 Juli 2025
📍 Venue: Los Angeles Convention Center
🎪 Booth: animate GROUP – SH-504 (Frontier Works display inside)

🌐 Info event: https://www.anime-expo.org

Maniani World Tampil Perdana di Anime Expo 2025 dengan Booth, Talk Show, dan Merch Eksklusif

Ilustrator ternama dunia Maniani, bersama Frontier Works Inc., akan menghadirkan “Maniani World” secara perdana di ajang Anime Expo 2025 di Los Angeles, Amerika Serikat. Kolaborasi ini mempersembahkan konsep visual unik “Kowai (seram) + Kawaii (imut) = Kowaii (seram-imut)” yang telah menarik perhatian global di dunia seni karakter.

Booth Resmi “Maniani World” di AX 2025

Booth SH-4908 (South Hall)
Di sini, pengunjung bisa menikmati world premiere dari beragam produk baru termasuk:

  • Shadow Cat Acrylic Stand (5 varian)
  • Hologram Can Badge (5 varian)
  • Acrylic Keychain (3 varian)
  • T-shirt Shadow Cat
  • Buku ilustrasi resmi
  • Dan masih banyak lagi!

Skateboard Eksklusif Bisa Dipesan Online

Selain merchandise reguler, Frontier Works juga meluncurkan skateboard deck edisi terbatas “Maniani World”, yang hanya bisa dipesan melalui situs Animate International.

Maniani World Skateboard Deck
Maniani World Skateboard Deck

🛹 Pre-order dibuka:
6 Juni 2025 pukul 03:00 PDT – 28 Juli 2025 pukul 07:59 PDT
🔗 Halaman produk skateboard

❗️Produk ini tidak dijual di Jepang, Australia, atau Selandia Baru.
Pengunjung bisa melihat langsung skateboard-nya di booth sebelum melakukan pre-order.

Talk Show Eksklusif: Rahasia Visual “Kowaii”

  • Panel Title: The Visual Expressions Hidden in the Characters of Maniani World
  • Tanggal/Waktu: 3 Juli 2025, 17:15 – 18:05
  • Panel Room: 402AB
Yuka Mochizuki
Yuka Mochizuki

Acara ini menghadirkan Yuka Mochizuki, Creative Director dari Frontier Works, yang akan membahas rahasia di balik visual khas monster-manis ala Maniani. Panel ini akan mengulas proses kreatif, inspirasi karakter, hingga dampaknya di ranah internasional.

Kolaborasi dengan animate GROUP (Booth SH-504)

Kunjungi booth animate GROUP untuk mendapatkan kartu edisi khusus Maniani World bergaya tiket. Bawa kartu tersebut ke booth Maniani untuk menukar dengan hadiah spesial eksklusif Anime Expo 2025.

Giveaway
Giveaway

Tersedia dalam jumlah terbatas per hari (first come, first served).

Tentang “Maniani World”

Maniani World adalah semesta karakter dan ilustrasi buatan Maniani, yang dikenal lewat gaya “Kowaii”: menggabungkan unsur horor yang lembut dengan desain menggemaskan. Dunia ini penuh dengan monster imut tapi misterius, dan telah mencuri perhatian lebih dari 150.000 followers di X serta komunitas global penggemar seni karakter.

Maniani World Talk Event
Maniani World Talk Event

Info Event Pameran:

2025 Anime Expo Logo Anime News Plus Prima Channel
  • Tanggal: 3–6 Juli 2025
  • Lokasi: Los Angeles Convention Center, Los Angeles, USA
  • Booth: SH-4908 (Maniani World)

King Records Kembali Ramaikan Anime Expo 2025 dengan Dua Film Spesial

King Records kembali hadir di Anime Expo 2025 yang digelar di Los Angeles dengan dua penayangan spesial sekaligus:

  • HYPNOSISMIC -Division Rap Battle- Movie
  • Utano☆Princesama TABOO NIGHT XXXX

Keduanya akan ditayangkan dalam versi spesial Anime Expo (AX Edition), dan diikuti oleh event interaktif serta hadiah menarik bagi para pengunjung.

HYPNOSISMIC: Film Interaktif Anime Pertama di Jepang

HYPNOSISMIC
HYPNOSISMIC – Visual Key

HYPNOSISMIC -Division Rap Battle- Movie membawa pengalaman sinema ke level baru sebagai film anime interaktif pertama dari Jepang.

Penonton akan menggunakan CtrlMovie App untuk memberikan suara pada setiap pertarungan, menentukan divisi mana yang menang dan lanjut ke ronde berikutnya — hasilnya bisa berbeda di setiap penayangan!

📲 Download CtrlMovie App sekarang dan siap voting:

UTA☆PRI TABOO NIGHT XXXX: Chapter Baru untuk QUARTET NIGHT

Utapri
Utapri – Visual Key

Utano☆Princesama TABOO NIGHT XXXX adalah film ketiga dalam seri teater UTA☆PRI setelah KINGDOM dan ST☆RISH TOURS. Kali ini, spotlight diberikan kepada grup QUARTET NIGHT dengan cerita dan tema baru yang lebih berani. Para penggemar UTA☆PRI tak boleh melewatkan babak baru ini!


Jadwal Penayangan Spesial

Panel Anime News Plus Prima Channel

Screening Time AX 2025:

  • 3 Juli | 17:45–19:45 | Room 403AB
  • 4 Juli | 14:30–16:30 | Room 403AB
  • 5 Juli | 12:30–14:30 | The Novo

Booth King Records: Dapatkan Lanyard Kolaborasi

Kunjungi booth E-50 untuk melihat cuplikan spesial, display, dan kesempatan mendapatkan lanyard kolaborasi HYPNOSISMIC x UTA☆PRI. Cukup follow salah satu akun media sosial King Records — tersedia selama persediaan masih ada!

Booth Anime News Plus Prima Channel

Merchandise Resmi di AX

T-shirt Eksklusif HYPNOSISMIC & UTA☆PRI tersedia di booth Great Eastern Entertainment #SH3320

  • Harga: $25/pcs atau 2 seharga $45 (belum termasuk pajak)
    Ayo pakai kaosnya saat nonton dan tunjukkan fandom-mu di venue!
Tshirt Anime News Plus Prima Channel scaled

Untuk info terbaru tentang jadwal, konten, atau campaign media sosial, kunjungi:
🔗 https://linktr.ee/kingrecords_English

Dune: Awakening Raih 189.000 Pemain Serentak & Review Positif dari Kritikus

Dune: Awakening, game survival MMO open-world besutan Funcom, resmi diluncurkan dan langsung mencetak rekor luar biasa. Dalam minggu pertama peluncurannya, game ini berhasil meraih lebih dari 189.000 pemain aktif serentak di Steam, melampaui rekor game Funcom sebelumnya, Conan Exiles, yang hanya mencapai 53.400 pemain.

Game ini juga dinobatkan sebagai rilisan tercepat terjual dalam sejarah Funcom, menjadikannya salah satu kejutan besar dalam genre survival tahun ini.

Rating Positif & Pujian dari Media Internasional

Sejak peluncuran, Dune: Awakening meraih respons luar biasa dari pemain dan media:

  • Steam: 85% Very Positive dari 28.700+ ulasan
  • Metacritic: Skor 80
  • OpenCritic: Skor 81

Situs review besar juga memberikan pujian tinggi:

  • VGMAG: 8.5/10 – “Cara terbaik merasakan Arrakis.”
  • 4Players: 9/10 – “Tidak ada dunia game yang lebih Dune dari ini.”
  • IGN: 8/10
  • Eurogamer: 4/5, memuji gameplay survival-nya
  • Screenrant: “Saking serunya, saya sampai lupa makan.”
  • DualShockers: 9/10 – “Ini akan jadi game yang diingat satu dekade mendatang.”

Trailer Baru Dune: Awakening Accolades

Faithful to Dune, Rich in Survival Gameplay

Dune: Awakening menampilkan dunia Arrakis dalam versi timeline alternatif — di mana Paul Atreides tidak pernah lahir — memungkinkan pengalaman baru yang tetap setia pada semesta asli karya Frank Herbert, sambil mengadaptasi elemen visual dari film blockbuster garapan Denis Villeneuve dan Legendary Entertainment.

Mulai dari eksplorasi gurun berbahaya, kontrol terhadap spice, hingga intrik antar faksi besar seperti Atreides dan Harkonnen, game ini menyajikan dunia yang hidup dan intens.

Ini Baru Awal: Season Pass dan Konten Tambahan

Peluncuran Dune: Awakening hanyalah awal dari perjalanan panjang. Tim Funcom telah menyiapkan:

  • Season Pass: Mencakup empat DLC pertama
  • Update Gratis: Cerita dan fitur baru akan ditambahkan secara berkala
  • Perbaikan Berkelanjutan: Berdasarkan feedback komunitas

Dune: Awakening tersedia sekarang di Steam, dan menjadi salah satu game survival dengan respons terbaik di tahun 2025.

Warhammer 40,000: Darktide Umumkan DLC Perdana “Arbites Class” — Hadir 23 Juni Bersama Update Gratis

Fatshark resmi mengumumkan DLC berbayar pertama untuk game co-op mereka, Warhammer 40,000: Darktide, yakni Arbites Class. Kelas baru ini akan dirilis pada 23 Juni 2025 untuk semua platform. Bersamaan dengan perilisan ini, pemain juga akan mendapatkan update gratis yang mencakup peningkatan sistem narasi dan perombakan sistem tingkat kesulitan.

Trailer Warhammer 40,000: Darktide – Arbites

Kamu Adalah Keadilan: Adeptus Arbites Hadir untuk Menindak Tanpa Ampun

Arbites dikenal sebagai penegak hukum paling ditakuti di Imperium. Tugas mereka bukan melindungi rakyat, tapi memastikan Lex Imperialis dijalankan demi kestabilan dan kelangsungan kekuasaan.

Pemain akan berperan sebagai Arbitrator, lengkap dengan senjata penindas, armor carapace ikonik, dan rekan setia berupa Cyber-Mastiff — anjing pemburu hasil rekayasa sibernetik yang akan memburu musuh hingga titik darah penghabisan.

Galeri

Fitur Utama DLC Arbites Class

  • Cyber-Mastiff: Unit anjing tempur sibernetik yang bisa dikustomisasi dan diperintah untuk menyerang target prioritas. Bisa kamu beri nama, ganti pola bulu, dan ya… kamu bisa mengelusnya juga.
  • Nuncio Aquila: Platform vox anti-gravitasi yang memperkuat perintahmu, meningkatkan damage pada musuh sekitar, serta memulihkan ketahanan tim.
  • Arbites Shotgun, Shock Maul, Riot Shield: Kombinasi senjata jarak dekat dan jarak jauh dengan efek listrik dan kontrol area.
  • Blitz Skills: Termasuk granat khusus, ranjau kejut (shock mine), hingga ledakan dari lokasi Cyber-Mastiff untuk crowd control.

Tiga Gaya Bertarung & 80+ Node Talent

Pemain bisa membentuk Arbitrator unik melalui talent tree bercabang dengan lebih dari 80 node. Tersedia tiga gaya bertarung utama:

  1. Castigator’s Stance: Meningkatkan mobilitas dan mengurangi damage.
  2. Break the Line: Charge dengan tameng, menyebabkan stagger.
  3. Commanding Presence: Mengendalikan medan tempur lewat suppression dan buff.

Deluxe Edition & Harga DLC

DLC Arbites Class akan tersedia dalam dua versi:

  • Standard Edition: $11.99 atau sekitar Rp 195.000
  • Deluxe Edition: $18.99 atau sekitar Rp 309.442

Keduanya akan dirilis serentak pada 23 Juni, dan tersedia untuk wishlist mulai 8 Juni.

Trailer Gameplay Extended Eksklusif

NIKKE Umumkan Kolaborasi Epik dengan Stellar Blade — Trailer Animasi dan Dialog Kreatif Dirilis

Goddess of Victory: NIKKE, game sci-fi shooter F2P buatan SHIFT UP dan dipublikasikan oleh Level Infinite, secara resmi mengumumkan kolaborasi barunya bersama Stellar Blade. Trailer animasi perdana telah dirilis, menandai dimulainya event spesial yang mempertemukan dua dunia post-apocalyptic paling stylish di industri game mobile dan konsol.

Video Dialog Eksklusif Bersama Tiga Kreator Besar

Bersamaan dengan kolaborasi ini, dirilis juga video spesial berjudul Creative Dialogue, yang mempertemukan para nama besar industri kreatif Jepang dan Korea:

  • Kim Hyung-Tae – Sutradara Stellar Blade
  • Yoo Hyung-Suk – Sutradara NIKKE
  • Yoko Taro – Sutradara NieR Series
  • Yosuke Saito – Produser NieR Series
  • Shuhei Yoshida – Tokoh penting dalam dunia PlayStation

Trailer Crossover NIKKE dan Stellar Blade

Detail Kolaborasi: Apa yang Bisa Diharapkan Pemain?

Kolaborasi antara NIKKE dan Stellar Blade ini diperkirakan akan menghadirkan:

  • Karakter crossover baru
  • Cerita eksklusif dalam event kolaboratif
  • Animasi sinematik dan misi bertema khusus
  • Bonus login dan hadiah terbatas waktu

Meskipun detail kontennya belum diungkap sepenuhnya, antusiasme pemain melonjak karena ini pertama kalinya dua IP buatan studio SHIFT UP disatukan secara resmi.

NIKKE x Stellar Blade KV 1 Anime News Plus Prima Channel

NieR:Automata Collaboration Kembali Hadir 3 Juli!

Sebagai kejutan tambahan, kolaborasi NIKKE x NieR:Automata juga diumumkan akan rerun mulai 3 Juli 2025. Pemain yang sebelumnya melewatkan event ini bisa mendapatkan kesempatan lagi untuk merekrut karakter seperti 2B, A2, dan Pascal, lengkap dengan senjata serta event misi bertema dunia NieR.


Event kolaborasi ini sudah dimulai hari ini dan tersedia untuk semua pemain di platform PC dan mobile. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi semesta baru bersama karakter favorit dari Stellar Blade dan NieR!

Exoborne Pamerkan Gameplay Baru di Summer Game Fest 2025 — Tes Publik Pertama Sukses Digelar

Sharkmob, studio di balik Vampire: The Masquerade – Bloodhunt, kembali dengan proyek ambisius bertajuk Exoborne. Game ini mengusung genre tactical open-world extraction shooter berlatar dunia yang hancur karena bencana lingkungan ekstrem.

Dalam Exoborne, pemain akan masuk ke Colton County, wilayah brutal yang dihantam kekuatan alam dan ambisi korporasi. Dunia ini tidak hanya menjadi arena tempur, tapi juga musuh itu sendiri — penuh dengan badai, bahaya lingkungan, dan lawan bersenjata.

Exoborne Hero Action Logo Anime News Plus Prima Channel scaled
Exoborne Hero Action – Logo

Playtest Global Pertama Sukses Digelar

Tim pengembang dari Sharkmob mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan sesi playtest berskala besar pertama. Playtest ini memperkenalkan pemain pada intensitas pertempuran multiplayer taktis, dan sensasi menggunakan Exo-Rig, perlengkapan canggih yang memungkinkan mobilitas tinggi dan strategi dinamis. Diskusi developer lihat disini.

“Playtest ini membantu kami memahami bagaimana pemain memanfaatkan kekuatan Exo-Rig, dan bagaimana elemen alam menjadi bagian aktif dari gameplay,”

tulis Sharkmob dalam pembaruan terbarunya.

Sinopsis Dunia: Manusia Vs Rebirth Corporation

Kisah Exoborne berpusat pada Rebirth Corporation, entitas misterius yang hampir memusnahkan umat manusia. Kini, yang tersisa hanyalah kelompok bernama Reborn — termasuk kamu — yang berjuang mengungkap kebenaran dan melawan para pengkhianat di antara mereka.

Exoborne Action Logo Anime News Plus Prima Channel scaled
Exoborne Action – Logo

Tersedia di Konsol dan PC Generasi Baru

Exoborne direncanakan rilis di:

  • PC (via Steam)
  • PlayStation 5
  • Xbox Series X|S

Game ini akan menggunakan model premium, dengan konten tambahan melalui sistem live service dan update rutin. Belum ada tanggal rilis resmi, namun lebih banyak detail akan diungkap dalam bulan-bulan mendatang.


Video Gameplay Exoborne Terbaru — Masih Tahap Pengembangan

Exoborne menampilkan cuplikan gameplay pre-alpha dalam presentasinya di Summer Game Fest 2025. Meskipun masih dalam tahap awal, visual dan dinamika pertarungan sudah menunjukkan potensi sebagai salah satu extraction shooter paling ambisius di generasi ini.

Galeri