Electronic Arts merilis trailer khusus PC untuk Battlefield 6 yang menonjolkan optimalisasi platform: dukungan 4K, framerate tanpa batas, monitor ultrawide, dan lebih dari 600 opsi penyesuaian. Trailer ini juga menegaskan dukungan DLSS 4, FSR 4, dan XeSS 2 sejak hari pertama rilis.
Fitur Teknis Versi PC
Grafik & Tampilan: 4K, uncapped FPS, serta dukungan 21:9 hingga 32:9 untuk ultrawide. YouTubeInstant Gaming News
Selain kampanye dan multiplayer, Portal kembali hadir: pemain dapat mendesain level, mengatur aturan main, lalu membagikannya ke komunitas—menawarkan variasi pengalaman yang tetap terintegrasi progresinya untuk kurasi tertentu. Electronic Arts Inc.
Anti-Cheat
Multiplayer dilindungi EA Javelin Anti-Cheat (tingkat kernel) yang sempat memicu diskusi selama fase beta, tetapi juga diklaim berhasil memblokir ratusan ribu percobaan kecurangan. Ars TechnicaElectronic Arts Inc.
Tanggal Rilis & Platform
Battlefield 6 akan dirilis 10 Oktober 2025 di PC, PlayStation 5, dan Xbox Series X|S. EA menegaskan peluncuran berlangsung serentak, tanpa akses awal berbayar. Electronic Arts Inc.
Bushiroad Games bersama pengembang Mebius merilis trailer resmi kedua dan cuplikan screenshot perdana untuk novel visual The Ancient Magus’ Bride: Midsummer’s Mirage and the Journey of Dreams. Gim ini akan hadir pada 2 Oktober untuk PlayStation 5, Nintendo Switch, dan PC (Steam), dengan dukungan bahasa Inggris dan Jepang. Di Jepang, edisi fisik tersedia untuk Switch.
Sinopsis Cerita
Seorang non-human menjalani malam-malam sunyi di London. Suatu senja berkabut, ia menolong seorang gadis yang kehilangan ingatan. Persahabatan pun terjalin, dan demi memulihkan memori temannya, sang non-human mencari dua sosok yang hanya ia dengar lewat bisik-bisik di kalangan fae: Thorn Mage Elias dan Chise. Perjalanan ini menautkan dunia manusia, makhluk fae, dan potongan kenangan yang samar—sebuah “midsummer’s mirage” di mana mimpi dan realitas berjalan beriringan.
Platform & Fitur Utama
Platform: PS5, Switch, PC (Steam)
Bahasa: Inggris & Jepang
Edisi Fisik (JP): Nintendo Switch
Materi Baru: trailer kedua + screenshot perdana menampilkan atmosfer musim panas London dan pertemuan awal sang gadis dengan penolongnya.
Situs resmi Uma Musume: Cinderella Gray mengungkap pembaruan untuk Part 2: pemeran tambahan, lagu pembuka, serta character trailer beserta visual baru. Uma Musume: Cinderella Gray Part 2 dijadwalkan tayang 5 Oktober 2025.
Pemeran Tambahan
Toni Bianca — Yuuko Kaida
Obey Your Master — Shizuka Ishigami
Moonlight Lunacy — Akira Sekine
Michelle My Baby — Ayahi Takagaki
Ellerslie Pride — Miyu Tomita
Trailer Karakter
Musik Tema
Band rock 10-FEET akan membawakan lagu pembuka (OP). Cuplikan tema serta adegan baru sudah hadir di character trailer. [Sematkan tautan trailer di sini]
Staf Produksi
Chief Director:Yuuki Itou
Series Composition:Aki Kindaichi
Desain Karakter:Yousuke Fukumoto
Musik:Kenji Kawai
Studio:CygamesPictures
Tayang Sebelumnya & Distribusi
Part 1 diproduksi CygamesPictures, tayang Spring 2025 sebanyak 13 episode. Amazon Prime Video menayangkan dengan teks multi-bahasa.
Info Manga
Spin-off manga karya Taiyou Kuzumi mulai Juni 2020 di Young Jump. Shueisha menerbitkan Volume 20 pada 18 Juni, dan Volume 21 dijadwalkan rilis 19 September.
Situs resmi adaptasi anime Mikata ga Yowasugite Hojo Mahou ni Tesshiteita Kyuutei Mahoushi, Tsuihou sarete Saikyou wo Mezashimasu (The Banished Court Magician Aims to Become the Strongest) mengungkap dua pemeran tambahan, key visual, lagu tema, dan trailer pertama. Serial dijadwalkan tayang 4 Oktober 2025.
Pemeran Tambahan
Hikaru Midorikawa sebagai Eldas Miheira
Atsushi Abe sebagai Regulus Galdana
Musik Tema
Opening: “Quest” — Kiiro Akiyama
Ending: “Kakera” — aruma Cuplikan kedua lagu sudah hadir di video promosi.
Staf Produksi
Sutradara:Ken Takahashi (Studio Gekkou)
Asisten Sutradara:Masamune Hirata
Series Composition:Kazuyuki Fudeyasu
Desain Karakter:Youko Satou
Musik:Diosta, High Speed Boy
Info Sumber: Light Novel
Alto memulai novel fantasi petualangan ini di Shousetsuka ni Narou pada Oktober 2020. Kodansha menerbitkan versi cetak di label K Ranobe Books sejak Agustus 2021 dengan ilustrasi Yuunagi. Volume 5 dirilis pada Agustus 2024.
Adaptasi Manga
Yuki Monji memulai serialisasi manga di Magazine Pocket (aplikasi & situs) pada Juli 2021. Volume 16 terbit 9 Juli 2025. Versi Inggris tersedia melalui layanan K Manga dari Kodansha.
GREE Entertainment membuka situs resmi untuk adaptasi anime Lv999 no Murabito (The villagers of level 999) karya Koneko Hoshizuki, lengkap dengan staf utama, pemeran, teaser trailer, dan visual perdana. Serial dijadwalkan mulai tayang pada 2026.
Pemeran Utama
Satoshi Inomata sebagai Kouji Kagami
Nao Touyama sebagai Alice Balnesio
Staf Produksi
Sutradara: Yoshinobu Kasai
Series Composition: Shinzou Fujita
Desain Karakter: Kentarou Matsumoto
Musik: Hiroshi Nakamura
Studio:Brain’s Base
Info Sumber: Novel
Asal-usul: Hoshizuki memulai light novel di Shousetsuka ni Narou pada Juli 2015.
Penerbit:Enterbrain menerbitkan versi cetak sejak April 2016 dengan ilustrasi Fuumi.
Status:Volume 8 (final) rilis 25 Januari 2019.
Total Tercetak: seri menembus 3,8 juta eksemplarin print.
Adaptasi Manga
Mangaka:Kenichi Iwamoto
Majalah:Comp Ace (Kadokawa Shoten) sejak Mei 2017.
Volume:18 volume per April 2025; Volume 19 dijadwalkan 26 Agustus 2025.
Sinopsis
Di dunia ini, level menentukan segalanya. Selain para pemburu monster profesional, kebanyakan orang hanya berada di level 1–5, dan izin berburu dipengaruhi oleh peran yang ditetapkan Tuhan. Ada delapan peran yang memenuhi syarat: Warrior, Fighter, Cleric, Magician, Rogue, Merchant, Hunter, Sorcerer. Mereka yang diberkahi kekuatan luar biasa dibagi menjadi Royalty, Heroes, dan Sages. Bagi mayoritas—para villager—memburu monster hampir sama dengan bunuh diri. Sampai suatu hari, seorang anak berusia dua tahun yang ditakdirkan sebagai villager menyadari satu hal sederhana namun mengguncang tatanan: mengalahkan monster bisa menghadirkan kekayaan besar. Dari momen itu, takdir pun berubah arah.
Gamescom Opening Night Live 2025 mengumumkan adaptasi anime dari gim FromSoftwareSekiro: Shadows Die Twice berjudul Sekiro: No Defeat. Bersamaan dengan itu diungkap staf produksi, pemeran utama, visual teaser, dan trailer.
Serial ini dijadwalkan tayang 2026 di Crunchyroll secara global (kecuali Jepang, Tiongkok, Korea, Rusia, dan Belarus).
Pemeran Utama
Wolf: Daisuke Namikawa
Kuro: Miyuki Satou
Genichirou Ashina: Kenjirou Tsuda
Staf Produksi
Director: Kenichi Kutsuna
Assistant Director: Shunsuke Fukui
Script: Takuya Satou
Character Designer: Takahiro Kishida
Chief Animation Director: Kaito Moki
Action Animation Director: Takashi Mukouda
Art Director: Yuuji Kaneko
Color Design: Azusa Sasaki
Director of Photography: Keisuke Nozawa
Editing: Yoshinori Murakami
Sound Director: Yasushi Nagura
Music: Shuta Hasunuma
Produced: ARCH
Studio:Qzil.la
Tentang Gim
Diterbitkan dan dikembangkan oleh FromSoftware (penerbitan di luar Jepang oleh Activision), Sekiro: Shadows Die Twice rilis di PlayStation 4, Xbox One, dan Windows pada Maret 2019, disusul Stadia pada Oktober 2020. Gim ini mencatat penjualan kumulatif 10 juta kopi dan meraih Game of the Year di The Game Awards 2019.
Sinopsis Sekiro: No Defeat
Zaman Sengoku. Jepang terpecah dan dilanda perang tiada henti. Di pusatnya, Ashina—tanah suci penuh misteri—kembali terancam ketika Interior Ministry bergerak dari dalam. Putus asa membela negeri, Gen’ichirou Ashina menempuh jalan terlarang. Satu harapan tersisa: seorang bocah Divine Heir yang diculik dan pelindungnya yang nyaris tanpa suara—shinobi setia yang dikenal sebagai Sekiro. Ini adalah kisah seorang tuan dan pengawal, perjuangan mereka menyeimbangkan negeri di ambang jurang.
Kadokawa membuka situs resmi untuk adaptasi anime Kekkaishi no Ichirinka (Bride of the Barrier Master) dan menampilkan visual perdana beserta staf utama. Proyek ini mengadaptasi novel karya Kureha di ranah romansa supernatural.
Staf Produksi
Sutradara:Tooru Kitahata
Series Composition & Skenario:Yuuko Kakihara
Desain Karakter:Murayama Minami
Studio:TROYCA
Info Novel
Kureha menerbitkan Kekkaishi no Ichirinka di label Kadokawa Bunko sejak Desember 2021 dengan ilustrasi oleh Bodax. Volume 5 dirilis Desember 2024, sementara Volume 6 dijadwalkan rilis 25 Agustus. Seri novel ini telah mencatat 2 juta eksemplarin print secara kumulatif.
Adaptasi Manga
Odayaka memulai adaptasi manga di majalah B’s-LOG Comic pada Mei 2020. Volume 6 terbit pada 1 Juli.
Rilis Bahasa Inggris
J-Novel Club melisensikan light novel (Agustus 2022) dan manga (Juli 2023) untuk rilis bahasa Inggris. Light novel Volume 4 terbit 15 Juli. Manga Volume 4 rilis 24 Juni, dengan Volume 5 dijadwalkan Januari 2026.
Sinopsis
Dahulu, Jepang dilindungi lima pilar kristal. Hana Ichise, gadis 18 tahun dari keluarga cabang penjaga pilar, tumbuh di bawah bayang-bayang kembarannya yang jenius, Hazuki. Saat kekuatan Hana akhirnya terbangun, ia memilih menyembunyikannya demi menamatkan sekolah menengah dengan tenang.
Semua berubah ketika Saku Ichinomiya, kepala arogan namun kuat dari keluarga utama, jatuh hati pada Hana dan memaksanya menandatangani kontrak pernikahan. Di bawah naungan calon suami yang berpengaruh, bisakah Hana menemukan jati diri dan potensi sejatinya sebagai “Bride of the Barrier Master”?
Akun X resmi serial Himesama “Goumon” no Jikan desu (’Tis Time for “Torture,” Princess) mengabarkan bahwa manga ini resmi tamat pada 19 Agustus lewat bab ke-282 di Shounen Jump+, menandai perjalanan enam tahun serialisasi sejak debutnya pada April 2019.
Rangkuman Publikasi
Tankōbon:Shueisha merilis Volume 17 pada 2 Mei.
Simulpublish Inggris:MANGA Plus mulai menayangkan versi bahasa Inggris sejak Oktober 2019.
Adaptasi Anime
Musim 1: diproduksi PINE JAM, tayang Winter 2024 sebanyak 12 episode; Crunchyroll menayangkan dengan teks multi-bahasa.
Musim 2: dijadwalkan Januari 2026.
Sinopsis
Sebagai komandan Legion Ketiga Kekaisaran, sang putri memimpin banyak kemenangan melawan Hellhorde. Namun ia tertangkap dan dipenjara, hanya ditemani pedang hidupnya, Ex. Demi menggali rahasia negara, para iblis menerapkan “penyiksaan” paling tak terduga: makanan lezat, persahabatan hangat, hewan menggemaskan, dan pengalaman menyenangkan—godaan yang, ironisnya, jauh lebih berbahaya daripada cambuk dan rantai.
Akun X (sebelumnya Twitter) HJ Novels mengumumkan adaptasi anime Buchigire Reijou wa Houfuku wo Chikaimashita. — judul lengkapnya Madousho no Chikara de Sokoku wo Tatakitsubushimasu. Versi bahasa Inggris resmi dikenal sebagai A Livid Lady’s Guide to Getting Even.
Buchigire Reijou wa Houfuku wo Chikaimashita (A Livid Lady’s Guide to Getting Even) – Pengumuman Adaptasi Anime
Rangkaian Rilis & Publikasi
Web Novel:Metabo Hagure memulai serial fantasi-drama ini di Shousetsuka ni Narou pada Oktober 2020.
Edisi Cetak:Hobby Japan menerbitkan novel sejak Mei 2022 dengan ilustrasi Masami. Volume 7 baru dirilis dan menyertakan pengumuman anime pada wraparound band.
Manga Adaptasi: Ilustrator Oonoimo memulai serialisasi di Comic Fire sejak Mei 2022. Volume 7 terbit 1 April, sedangkan Volume 8 dijadwalkan 1 September.
Lisensi Bahasa Inggris:J-Novel Club melisensikan manga (November 2023) dan light novel (Januari 2024) untuk rilis digital. Novel Vol. 6 rilis 21 Mei, Manga Vol. 4 rilis 4 Juni.
Sinopsis
Elizabeth Leiston, putri perdana menteri kerajaan Haldoria, tampak sempurna sebagai calon ratu. Namun setelah tunangan memutuskan pertunangan secara publik dan menebar fitnah, Elizabeth berkata: cukup. Mengapa tetap mengabdi pada negeri yang tak menghargainya? Dengan kecerdikan dan—yang terpenting—tujuh buku sihir (grimoire), Elizabeth bersumpah membalas. Misinya: menumbangkan negeri yang mengkhianatinya. A Livid Lady’s Guide to Getting Even bukan sekadar balas dendam; ini buku panduan merombak takdir, halaman demi halaman.
Tahun 2025 bisa disebut sebagai salah satu periode paling krusial bagi genre first-person shooter (FPS). Setelah lebih dari dua dekade mendominasi dunia game, genre ini kini berada dalam situasi yang unik: di satu sisi, ada ekspektasi besar terhadap proyek-proyek AAA yang mahal, sinematik, dan penuh fitur inovatif. Di sisi lain, semakin banyak game gratis yang menawarkan akses instan, monetisasi kosmetik, dan gameplay yang bisa dijalankan lintas platform. Nah ini waktu yang tepat bahas Battlefield 6 vs Delta Force.
Dalam lanskap ini, dua judul baru mencuri perhatian global. Battlefield 6, produk andalan Electronic Arts yang dikembangkan oleh DICE, hadir sebagai jawaban atas kegagalan Battlefield 2042. Game ini bukan sekadar sekuel, tapi sebuah proyek pemulihan reputasi yang ditujukan untuk mengembalikan kepercayaan komunitas dan mempertegas identitas Battlefield sebagai “raja perang skala besar.”
Di sisi lain, ada Delta Force (Hawk Ops), nama lama yang sempat hilang dari radar industri. Dilahirkan kembali oleh TiMi Studios di bawah naungan Tencent, Delta Force mencoba masuk kembali ke panggung FPS modern dengan strategi berbeda: free-to-play, cross-platform, dan hybrid gameplay yang menggabungkan pertempuran besar ala Battlefield dengan mode extraction bergaya Escape from Tarkov. Strategi ini jelas diarahkan untuk menjangkau audiens seluas mungkin, dari pemain hardcore PC hingga gamer mobile.
Persaingan keduanya pun menarik, bukan hanya karena kesamaan elemen gameplay, tapi juga perbedaan filosofi. Battlefield 6 datang dengan harga penuh, memposisikan diri sebagai blockbuster premium, sedangkan Delta Force menawarkan jalan gratis namun dengan kompromi teknis dan desain. Keduanya berusaha menjawab kebutuhan gamer modern, tapi dengan cara yang sangat berbeda.
Tidak heran kalau perdebatan segera mencuat di komunitas: apakah Delta Force bisa benar-benar menggantikan Battlefield 6, atau justru Battlefield yang akan kembali mempertegas dominasinya di arena perang digital?
Pembahasan Versi Vidio – Lebih Pendek Gak Terlalu Detail
Kamu juga bisa menyimak versi narasi melalui video ini. Pembahasan di video dibuat lebih ringkas dibandingkan artikel. Silakan tonton langsung di bawah ini atau klik di sini untuk menuju ke videonya.
Tabel Konten Artikel Battlefield 6 vs Delta Force
Sejarah Panjang Dua Franchise
Sebelum menilai siapa lebih unggul di tahun 2025, penting untuk menoleh ke belakang dan memahami warisan yang dibawa kedua game ini. Battlefield dan Delta Force lahir dari era berbeda, tetapi sama-sama menjadi saksi bagaimana genre shooter berevolusi selama lebih dari dua dekade.
Battlefield: Dari 1942 ke 2042, Naik Turun Sebuah Legenda
Franchise Battlefield dimulai pada tahun 2002 dengan Battlefield 1942. Game ini langsung mengguncang industri berkat skala pertempurannya yang luar biasa untuk zamannya. Dengan 64 pemain bertarung di peta luas, kendaraan tank, pesawat tempur, hingga kapal perang, Battlefield 1942 menghadirkan sesuatu yang belum pernah ada: perang digital yang terasa masif, hidup, dan tak terduga.
Kesuksesan itu membuka jalan untuk seri-seri berikutnya. Battlefield Vietnam memperkenalkan musik era perang dan helikopter, sementara Battlefield 2 menjadi salah satu game multiplayer paling populer di PC pada 2005. Namun, yang benar-benar mengangkat nama Battlefield ke level mainstream adalah Bad Company dan Bad Company 2. Kehadiran Frostbite Engine memperkenalkan fitur ikonik: destruksi lingkungan. Dinding rumah bisa ditembus RPG, gedung bisa runtuh menimpa musuh—dan semua ini menjadikan Battlefield punya identitas unik dibanding Call of Duty yang lebih linear.
Puncaknya ada di Battlefield 3 (2011) dan Battlefield 4 (2013). Keduanya dipuji sebagai salah satu shooter multipemain terbaik sepanjang masa, dengan grafis realistis, kendaraan canggih, dan mode Conquest yang semakin matang. Bagi banyak pemain, periode ini adalah “masa keemasan” Battlefield.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Battlefield 1 (2016) yang mengambil latar Perang Dunia I memang dipuji atas keberanian konsep, tetapi sebagian komunitas merasa gameplay-nya kurang seimbang. Battlefield V (2018) lebih kontroversial lagi, terutama karena setting Perang Dunia II yang dianggap kurang autentik. Puncak masalah terjadi di Battlefield 2042 (2021). Diluncurkan dengan bug parah, map luas tapi kosong, serta hilangnya fitur inti seperti sistem kelas, game ini jadi salah satu kekecewaan terbesar dalam sejarah franchise. EA dan DICE bahkan butuh waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki sebagian besar masalah.
Maka, Battlefield 6 hadir dengan beban besar: menghapus memori buruk 2042 dan mengembalikan kejayaan era Battlefield 3–4. Dengan janji “back to basics” plus inovasi modern, Battlefield 6 diposisikan bukan hanya sebagai sekuel, melainkan penebusan.
Delta Force: Dari Mil-Sim Ringan ke Kebangkitan F2P
Sementara Battlefield lahir di awal 2000-an, Delta Force sudah lebih dulu muncul pada 1998 lewat studio Novalogic. Berbeda dengan Battlefield yang menekankan chaos berskala besar, Delta Force saat itu tampil sebagai shooter taktis dengan nuansa militer realistis. Grafis voxel 3D khas era 90-an membuatnya unik, meski juga kaku. Seri-seri lanjutannya, seperti Delta Force 2, Land Warrior, dan Black Hawk Down, memperluas reputasi sebagai game semi mil-sim yang lebih serius dibanding FPS arus utama.
Puncak popularitas Delta Force ada di awal 2000-an, ketika Black Hawk Down (2003) dirilis. Terinspirasi film dengan judul sama, game ini menghadirkan campaign berbasis operasi militer AS di Mogadishu. Mode multipemainnya juga cukup populer di kalangan gamer PC kala itu, meski jelas tidak sebesar Battlefield. Sayangnya, setelah itu pamor Delta Force meredup. Novalogic tak mampu mengikuti tren industri, hingga akhirnya franchise ini terhenti total di 2009.
Butuh lebih dari satu dekade hingga akhirnya nama Delta Force muncul lagi. Pada 2023, TiMi Studios—developer asal Tiongkok di bawah Tencent—mengumumkan kebangkitan franchise ini dengan judul baru: Delta Force: Hawk Ops. Dengan dukungan modal besar dan strategi modern, Delta Force diposisikan untuk masuk ke pasar global lewat pendekatan free-to-play lintas platform.
Namun, strategi ini juga mengundang keraguan. Banyak yang menilai TiMi hanya ingin membuat “Battlefield versi murah”, lengkap dengan pertempuran besar 32v32, kendaraan, dan map luas. Bedanya, di sini Delta Force tidak punya teknologi destruksi sehebat Frostbite. Hasilnya lebih mendekati Battlefield lama atau bahkan Battlefield 2042 yang banyak dikritik karena destruksinya dangkal. Meski begitu, TiMi mencoba membedakan diri lewat mode extraction shooter Hazard Operations, sesuatu yang belum sepenuhnya digarap Battlefield.
Dengan warisan panjang ini, duel 2025 antara Battlefield 6 dan Delta Force bukan hanya sekadar adu fitur, melainkan benturan dua identitas: satu mewakili kejayaan AAA barat yang mencoba bangkit, satu lagi mewakili eksperimen besar developer Asia yang ingin merebut pasar global lewat strategi gratis.
Model Bisnis & Gameplay
Jika dibandingkan secara langsung, Battlefield 6 dan Delta Force bukan hanya berbeda dalam hal harga, tetapi juga filosofi bagaimana keduanya mendekati pengalaman bermain. Perbedaan ini penting, karena ia bukan sekadar soal aksesibilitas, melainkan juga soal bagaimana kedua game membentuk identitas mereka di mata pemain.
Premium Blockbuster vs Gratisan Populis
Battlefield 6 tetap memegang teguh model premium berbayar penuh. Dengan harga $69,99 atau Rp799,999, EA mengemas game ini sebagai pengalaman sinematik AAA: grafis mutakhir, sistem destruksi canggih, dan desain peta yang dikurasi ketat. Model ini mengirimkan pesan yang jelas: Battlefield bukan game “asal coba”, melainkan investasi hiburan berkualitas yang diharapkan mampu bertahan bertahun-tahun lewat dukungan update.
Sebaliknya, Delta Force (Hawk Ops) mengambil jalur free-to-play. Semua orang bisa masuk tanpa membayar sepeser pun, baik di PC, konsol, maupun mobile. Strategi ini memungkinkan basis pemain yang masif sejak hari pertama, terutama di pasar Asia yang sangat akrab dengan game gratis. Namun, konsekuensinya jelas: monetisasi berpusat pada battle pass, skin kosmetik, hingga item-item tambahan. Walau developer menegaskan tidak ada pay-to-win, stigma F2P tetap melekat. Banyak gamer skeptis bahwa kualitas akan sebanding dengan produk premium sekelas Battlefield.
Gameplay: Ketika Delta Force “Meniru” Battlefield
Hal yang paling menarik adalah bagaimana kedua game ini beririsan dalam mode pertempuran skala besar. Battlefield sudah lama dikenal dengan map masif berisi 64 pemain, kendaraan darat, helikopter, hingga jet tempur. Battlefield 6 melanjutkan tradisi ini, tetapi dengan level detail yang jauh lebih kaya berkat Tactical Destruction—fitur yang memungkinkan pemain mengubah lanskap peta secara signifikan. Ledakan bisa meruntuhkan dinding, RPG bisa membuka jalur baru, dan bangunan bisa runtuh untuk mengubah jalannya pertempuran.
Delta Force mencoba menghadirkan hal serupa lewat mode Warfare 32v32. Sekilas, ia tampak seperti upaya menghadirkan “Battlefield versi gratis.” Ada tank, helikopter, map luas, dan infanteri saling tembak di medan terbuka. Namun, begitu dimainkan, kelemahan mulai terlihat. Destruksi lingkungan hampir tidak ada; sebagian besar peta terasa statis, mirip Battlefield era lama atau bahkan Battlefield 2042 yang banyak dikritik karena efek destruksinya dangkal. Alih-alih menciptakan dinamika taktis, peta Delta Force cenderung menjadi arena besar yang sekadar menampung jumlah pemain, bukan medan perang yang hidup.
Di sinilah perbedaan kualitas terasa tajam. Battlefield 6 menempatkan destruksi sebagai inti identitas gameplay, sedangkan Delta Force lebih sekadar meniru konsep permukaan tanpa kedalaman. Hasilnya, banyak pemain menggambarkan Delta Force sebagai “Battlefield versi murah”—cukup untuk memberi sensasi perang besar, tapi tidak punya kedalaman teknis yang membuat momen benar-benar tak terlupakan.
Hazard Operations: Senjata Rahasia Delta Force
Meski begitu, Delta Force punya satu kartu unik yang tidak dimiliki Battlefield: Hazard Operations. Mode extraction shooter ini membawa rasa tegang ala Escape from Tarkov atau Warzone DMZ. Pemain ditugaskan masuk ke area tertentu, mengumpulkan loot, lalu mengekstraksinya sebelum waktu habis atau sebelum tim lain menghabisi mereka. Risiko tinggi inilah yang memberi Delta Force daya tarik berbeda.
Mode ini tidak sempurna, tetapi menjadi alasan utama sebagian pemain melihat Delta Force bukan sekadar klon Battlefield. Dengan Hazard Ops, game ini menyentuh segmen yang lebih survival-oriented, memberikan cerita unik di setiap sesi. Namun, tetap saja, ketika bicara soal pertempuran masif, Battlefield 6 masih jauh di depan.
Teknologi, Visual, Komunitas & Statistik
Jika ada satu aspek yang paling jelas membedakan Battlefield 6 dan Delta Force (Hawk Ops), maka jawabannya ada pada sisi teknologi. Kedua game ini sama-sama menawarkan pertempuran besar, namun fondasi teknis dan pilihan desain audiovisual mereka membuat pengalaman bermain terasa jauh berbeda.
Battlefield 6 dan Kekuatan Frostbite
Battlefield 6 kembali dibangun menggunakan Frostbite Engine, sebuah teknologi yang sudah identik dengan franchise sejak era Bad Company. Di generasi terbaru ini, Frostbite membawa peningkatan besar pada fisika, sistem pencahayaan, dan detail destruksi. Setiap ledakan bukan hanya efek visual, tetapi juga mengubah jalannya pertempuran. Dinding yang runtuh bisa membuka jalur baru, puing-puing bisa menjadi cover darurat, dan gedung yang hancur bisa merombak total taktik tim.
Tak kalah penting, audio dalam Battlefield 6 didesain untuk memberikan rasa “immersive warfare.” Suara tembakan punya gema yang berbeda tergantung lingkungan, ledakan terasa menekan di headset, dan langkah kaki musuh bisa didengar dengan jelas di sekitar pemain. Semua ini menciptakan atmosfer sinematik khas Battlefield—sesuatu yang sulit ditiru oleh pesaing.
Dari sisi performa, Battlefield 6 memang menuntut spesifikasi tinggi. Namun, di PC modern dan konsol generasi terbaru, hasilnya setimpal. Visual yang mendekati fotorealisme dan skala map yang masif menjadi daya tarik utama yang sulit disaingi.
Delta Force: Optimasi Lintas Platform, Tapi Penuh Kompromi
Sebaliknya, Delta Force menghadapi tantangan berbeda. Dengan ambisi rilis lintas platform (PC, konsol, mobile), game ini harus kompromi banyak hal. Secara visual, Delta Force memang terlihat modern, tetapi jelas tidak sebanding dengan detail Frostbite. Efek destruksi nyaris minim, tekstur lebih sederhana, dan animasi sering terlihat kaku jika dibandingkan dengan standar AAA.
Namun, kekuatan Delta Force justru ada pada aksesibilitas. Game ini bisa dijalankan di perangkat menengah, bahkan mobile, tanpa kehilangan identitas intinya. Untuk pasar global, strategi ini masuk akal: tidak semua orang punya PC atau konsol kelas atas. Dengan cara ini, Delta Force bisa meraih audiens jauh lebih luas dibanding Battlefield yang hanya terbatas pada platform premium.
Tapi kompromi tersebut juga punya harga. Bagi gamer PC hardcore, Delta Force terasa seperti Battlefield versi jadul. Pertempuran memang besar, tapi tanpa kedalaman teknis. Banyak yang menyebut pengalaman ini mirip dengan Battlefield 2042—sebuah game yang punya map luas, tapi terasa kosong dan kurang “hidup.”
Komunitas dan Statistik Pemain
Popularitas dua game ini saat fase beta dan rilis awal juga menunjukkan kontras menarik. Battlefield 6, dalam periode open beta, langsung memecahkan rekor franchise dengan lebih dari 500.000 pemain aktif bersamaan di Steam. Angka ini menempatkannya di daftar 20 besar game dengan concurrent player terbanyak sepanjang sejarah platform tersebut. Antusiasme ini diperkuat oleh ledakan di Twitch, di mana ratusan ribu penonton menyaksikan aksi para streamer yang mencoba game ini.
Sementara itu, Delta Force juga mencatat angka yang tidak bisa dianggap remeh. Saat peluncuran F2P di PC, game ini berhasil menarik hampir 200.000 pemain bersamaan. Untuk game baru, ini merupakan capaian yang luar biasa, apalagi jika melihat basis komunitas Delta Force yang sempat mati suri selama lebih dari satu dekade. Namun, ada satu perbedaan penting: tren Delta Force lebih cepat menurun dibanding Battlefield. Ini wajar, mengingat model F2P cenderung menarik banyak pemain di awal, tapi kesulitan mempertahankan mereka tanpa konten baru yang konsisten.
Reaksi Komunitas: Antara Euforia dan Kritik
Reaksi komunitas terhadap kedua game juga cukup beragam. Di kubu Battlefield, mayoritas pemain lega melihat kembalinya sistem kelas klasik, map dengan variasi lebih baik, dan destruksi yang benar-benar berdampak pada gameplay. Namun, keluhan soal Time-to-Kill yang terlalu singkat, visibilitas musuh, hingga bug matchmaking masih menghantui. DICE berusaha cepat menanggapi dengan patch, sebuah langkah positif setelah kegagalan 2042.
Delta Force, di sisi lain, menuai komentar campuran. Banyak yang mengapresiasi upaya membawa franchise lama kembali hidup, terutama dengan Hazard Operations sebagai mode unik. Tetapi, tidak sedikit pula yang merasa mode Warfare 32v32 hanyalah tiruan Battlefield yang tidak setara. Desain map dianggap datar, kendaraan kurang memuaskan, dan atmosfer pertempuran tidak sekaotik yang dijanjikan. Komunitas PC juga vokal mengkritik sistem anti-cheat ACE yang berjalan di level kernel, menimbulkan isu privasi dan kompatibilitas.
Kritik, Filosofi, Masa Depan & Kesimpulan
Kritik dan Kontroversi
Tidak ada rilis besar yang lolos dari sorotan tajam komunitas, dan Battlefield 6 maupun Delta Force sama-sama mengalaminya.
Bagi Battlefield 6, fase open beta menunjukkan banyak harapan, tapi juga sejumlah masalah. Time-to-Kill (TTK) yang terlalu singkat membuat pertempuran terasa tidak seimbang; pemain merasa kalah terlalu cepat tanpa sempat bereaksi. Masalah lain datang dari visibilitas musuh di map tertentu, serta bug matchmaking yang kadang mengacaukan distribusi tim. Tidak ketinggalan, absennya dukungan teknologi grafis DLSS/DLAA pada fase beta pertama membuat sebagian gamer PC kecewa, walau ada saat fase beta kedua.
Namun, kelebihan Battlefield 6 ada pada respons cepat DICE. Berbeda dengan 2042 yang butuh waktu lama untuk ditambal, kali ini developer segera merilis patch balancing, menyesuaikan kendaraan, dan mengubah mekanisme spawn untuk memperbaiki pengalaman. Sikap ini memberi sinyal positif: EA dan DICE belajar dari kegagalan masa lalu dan tidak ingin mengulanginya.
Delta Force menghadapi tantangan berbeda. Sistem anti-cheat ACE yang berjalan di level kernel memang efektif mencegah kecurangan, tapi menuai kontroversi soal privasi dan kompatibilitas dengan software lain. Tidak sedikit gamer yang merasa curiga, terutama karena anti-cheat semacam ini berpotensi menimbulkan konflik dengan sistem operasi. Di luar isu teknis, kritik lain diarahkan pada mode Warfare 32v32 yang dianggap terlalu mirip Battlefield, tapi tanpa kualitas yang sama. Banyak pemain menggambarkannya seperti Battlefield 2042 versi gratis: peta luas tapi terasa kosong, destruksi dangkal, dan intensitas yang tidak seimbang.
Filosofi Desain: Cinematic Chaos vs Survival Fleksibel
Battlefield 6 dan Delta Force membawa dua filosofi desain yang berbeda.
Battlefield tetap setia pada konsep cinematic chaos. Filosofinya sederhana: setiap pertandingan harus terasa seperti adegan film perang. Ada tank yang tiba-tiba muncul di tikungan, helikopter jatuh menabrak gedung, atau ledakan yang meruntuhkan bangunan tempat tim bersembunyi. Sistem destruksi yang canggih membuat medan perang terasa hidup, bukan sekadar arena. Battlefield 6 ingin pemain keluar dari sesi permainan dengan cerita unik—“momen Battlefield” yang sulit direplikasi di game lain.
Delta Force, di sisi lain, mencoba menawarkan fleksibilitas. Dengan menggabungkan PvP skala besar dan extraction shooter, ia ingin merangkul dua audiens sekaligus: pemain yang mencari perang besar gratis, dan pemain yang menginginkan ketegangan survival. Filosofi ini menarik, tapi juga membuat identitas Delta Force terasa tidak sekuat Battlefield. Alih-alih punya ciri khas jelas, Delta Force lebih terlihat sebagai hibrida: sedikit Battlefield, sedikit Tarkov, tapi tidak mendefinisikan dirinya sendiri.
Posisi di Industri FPS
Dalam lanskap FPS global, Battlefield dan Delta Force menempati ceruk yang berbeda.
Battlefield 6 diposisikan sebagai jawaban AAA barat terhadap dominasi Call of Duty. Dengan kualitas visual tinggi, produksi besar, dan skala sinematik, ia berusaha merebut kembali kepercayaan gamer hardcore yang kecewa dengan 2042. Battlefield tidak mencoba menjadi game untuk semua orang; ia ingin menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari pengalaman perang paling epik di pasar premium.
Delta Force, sebaliknya, adalah eksperimen global ala Tencent. Dengan model free-to-play lintas platform, game ini menarget pasar raksasa Asia, pemain mobile, dan audiens casual. Strateginya adalah menjangkau sebanyak mungkin pemain, meski harus mengorbankan kedalaman teknis. Delta Force bukan ancaman langsung bagi Battlefield, melainkan alternatif: pilihan gratis bagi mereka yang enggan atau tidak mampu membeli game AAA.
Masa Depan dan Potensi
Ke depan, Battlefield 6 kemungkinan besar akan bertahan sebagai pilar utama FPS premium. Selama DICE konsisten merilis update, memperluas map, dan menjaga kualitas balancing, game ini bisa menjadi “penebusan” setelah 2042. Dukungan komunitas konten kreator juga memberi nilai tambah: montage sinematik, momen lucu ragdoll, dan adegan chaos yang selalu viral di media sosial.
Delta Force punya masa depan yang lebih tidak pasti. Mode Hazard Operations memberi potensi unik, terutama di kalangan streamer yang menyukai drama loot extraction. Namun, keberlanjutan game F2P sangat bergantung pada konsistensi update dan kemampuan menjaga keseimbangan monetisasi. Jika developer tergoda untuk memasukkan elemen pay-to-win, kepercayaan komunitas bisa runtuh seketika.
Kesimpulan: Siapa yang Lebih Unggul?
Jadi, siapa pemenangnya?
Jika bicara kualitas sinematik dan pengalaman perang besar, jawabannya jelas: Battlefield 6. Game ini menawarkan skala, teknologi, dan atmosfer yang sulit ditandingi. Delta Force mungkin mencoba meniru, tapi hasilnya terasa seperti versi murah—cukup untuk memberi sensasi perang, tapi tanpa kedalaman dan chaos yang jadi ciri khas Battlefield.
Namun, jika bicara soal aksesibilitas dan fleksibilitas, Delta Force tetap relevan. Sebagai game gratis dengan hybrid mode, ia bisa menarik banyak pemain casual, terutama di pasar mobile. Hazard Operations juga menambahkan sesuatu yang unik, meski belum cukup untuk menggoyang dominasi Battlefield.
Pada akhirnya, Battlefield dan Delta Force bukanlah rival yang saling meniadakan. Mereka adalah dua produk dengan target berbeda: satu premium AAA, satu free-to-play populis. Battlefield 6 kemungkinan akan tetap jadi “main event” di genre perang modern, sementara Delta Force akan bertahan sebagai pilihan alternatif bagi mereka yang ingin merasakan perang tanpa membayar tiket masuk.
Akhirnya Battlefield 6 rilis dan ini review Battlefield 6Open Beta-nya aku buat. Selama Week 1 dan Week 2, aku menjajal semua mode—dari Conquest, Breakthrough, Domination, King of the Hill, Close Quarters sampai Rush—merasakan map baru Empire State, dan menikmati chaos yang kembali “Battlefield banget”. Minggu kedua hadir dengan grafis lebih tajam berkat opsi upscaling baru, meski beberapa glitch khas beta masih muncul. Di sini aku bakal bahas rasa gunplay, keseimbangan kendaraan, audio yang kembali ikonik, performa di PC, serta seberapa optimistis aku menyambut rilis penuhnya.
Tabel Konten Artikel Review Battlefield 6 Open Beta
Review Battlefield 6 Open Beta Versi Narasi
Review ini juga tersedia dalam bentuk video narasi yang saya bacakan. Di video tersebut, kamu bisa menonton versi singkat dari ulasan ini. Silakan klik di sini untuk menuju channel gaming saya, atau langsung tonton melalui pemutar di bawah.
Gameplay Multiplayer Battlefield 6 Open Beta Week 1
Gameplay Multiplayer Battlefield 6 Open Beta Week 2
Mode Permainan yang Ramai dan Chaos
Battlefield 6 Open Beta menghadirkan beragam mode sejak Week 1 hingga Week 2, termasuk Conquest, Breakthrough, Closed Weapon Conquest, Domination, King of The Hill, hingga Close Quarters. Di dalamnya, mode ikonik seperti Deathmatch Squad dan Rush juga sudah hadir meski masih berstatus beta.
Perbedaan antara Week 1 dan Week 2 tidak signifikan dari sisi mode. Bedanya, Week 2 menambahkan map baru “Empire State” serta peningkatan tajam pada kualitas grafis, terutama berkat opsi upscaling tambahan. Selain itu, setiap minggu ada tantangan yang bisa diselesaikan untuk memperoleh kosmetik saat game resmi rilis.
Gameplay di setiap mode benar-benar chaos. Teamwork memang ada, tapi seringkali bergantung pada kondisi. Inilah esensi Battlefield: kekacauan berskala besar yang tak selalu butuh koordinasi rapi untuk menghasilkan pengalaman tak terlupakan.
Progresi Senjata dan Class Sistem
Meski beta, sistem progresi sudah aktif. Pemain bisa membuka berbagai senjata, attachment, serta loadout sesuai preferensi. Class tradisional Battlefield kembali di sini: Assault, Medic, Engineer, dan Recon.
Setiap class terasa unik dengan senjata khas masing-masing. Misalnya, Assault dengan NVO-228E yang solid, Engineer dengan PW72A recoil rasa nol, atau Medic dengan Carbine MP17 A2 yang sakit banget. Sniper saat beta belum ada yang benar-benar nyaman, tapi secara umum pemilihan senjata terasa natural.
Kendaraan juga seimbang. Tank kini lebih realistis: kebal di beberapa bagian tapi gerakannya lambat, dan pelurunya terbatas sehingga tidak bisa lagi jadi “tank sniper”. Helikopter juga lebih realistis dengan fisika gravitasi yang membatasi manuver berlebihan, sementara jet kini mirip semi-simulator ala War Thunder—lebih sulit digunakan, tembakannya menyebar, dan daya tahannya sangat lemah. Semua ini membuat pertempuran darat-udara lebih seimbang dibanding seri sebelumnya.
Map dan Desain Dunia
Battlefield 6 Open Beta menghadirkan empat map yang bisa dimainkan: Siege of Cairo, Iberian Offensive, Liberation Peak, dan tambahan Empire State di Week 2. Skala map terasa pas untuk 64 pemain dengan kendaraan, tidak terlalu luas tapi cukup untuk menciptakan pertempuran intens dan dinamis.
Setiap map punya identitas kuat:
Siege of Cairo: suasana perkotaan padat dengan bangunan yang bisa dijadikan cover, sekaligus glitch yang memungkinkan pemain naik ke gedung tinggi dan menembak dari atas. Walau bug ini mengganggu, map tetap memberikan nuansa perang perkotaan yang kacau.
Iberian Offensive: area semi-terbuka dengan campuran desa dan perbukitan, cocok untuk adu jarak menengah hingga sniper.
Liberation Peak: lanskap pegunungan dengan jalur sempit, menciptakan pertempuran vertikal yang dramatis.
Empire State (Week 2): menghadirkan nuansa perkotaan Amerika dengan detail gedung-gedung tinggi, memberi variasi baru yang lebih modern dibanding map lain.
Desain map secara keseluruhan sangat imersif. Banyak objek, puing, dan bangunan bisa dijadikan cover, dan fitur destruktif bangunan kembali lebih gila dibanding Battlefield 5. Saat granat, roket, atau tank menghantam dinding, bagian bangunan bisa runtuh secara realistis. Detail estetika map juga memberi atmosfer otentik seolah sedang berada di zona perang sesungguhnya.
Meski begitu, bug khas beta masih ada. Misalnya, pemain yang jatuh menembus map lalu mati sendiri, atau glitch di Siege of Cairo yang membuat player bisa parkour dari gedung ke gedung. Tapi, hal ini lumrah di fase Open Beta dan masih bisa diperbaiki saat rilis penuh.
Visual dan Performa
Salah satu kejutan terbesar dari Battlefield 6 Open Beta adalah kualitas visualnya. Dibandingkan Battlefield 2042, perbedaannya bagaikan “langit dan bumi”. Jika BF2042 terasa seperti game free-to-play dengan kualitas seadanya, Battlefield 6 tampil jauh lebih matang, detail, dan imersif.
Detail Visual
Lingkungan: setiap map dipenuhi detail kecil—puing, bangunan, dedaunan, bahkan bekas ledakan—yang menambah kesan realistis. Ketika granat meledak, debu dan serpihan beterbangan dengan efek partikel yang meyakinkan.
Lighting: pencahayaan lebih natural dibanding seri sebelumnya. Sorotan matahari di Empire State atau bayangan di Siege of Cairo terlihat dramatis dan menambah atmosfer perang.
Karakter & Senjata: model karakter lebih halus, animasi reload dan recoil terasa lebih nyata. Senjata terlihat detail hingga ke tekstur kecil seperti goresan logam.
Destruktifitas juga menjadi nilai jual utama. Bangunan bisa runtuh secara bertahap, tidak sekadar efek visual instan. Hal ini menciptakan dinamika gameplay baru: posisi yang aman di awal bisa hancur total setelah beberapa menit pertempuran.
Performa di PC Aku memainkan game ini di spesifikasi tinggi dengan setting rata kanan (Ultra). Hasilnya, framerate stabil meskipun chaos di layar sangat intens. Namun, ada beberapa catatan:
DLSS Frame Generation (x2–x4): justru menimbulkan stuttering dan patah-patah di Week 2. Jadi, walaupun teknologi ini seharusnya meningkatkan FPS, di Battlefield 6 masih terasa belum optimal.
DLAA: menjadi opsi yang lebih aman. Dengan DLAA aktif, visual tetap tajam dan FPS tinggi bisa terjaga tanpa stuttering.
Stabilitas: secara keseluruhan, performa jauh lebih konsisten daripada BF2042 yang terkenal penuh masalah di awal.
Bug Visual
Meski grafisnya impresif, Open Beta masih punya bug. Misalnya, beberapa pemain terjatuh menembus map hingga mati sendiri. Di Siege of Cairo, glitch memungkinkan pemain parkour ke atap gedung untuk menembak dari atas. Masalah seperti ini wajar di fase beta, tapi perlu segera diperbaiki agar tidak merusak pengalaman saat rilis penuh.
Kesimpulan Visual & Performa
Battlefield 6 Open Beta berhasil mengembalikan standar kualitas visual yang diharapkan dari seri ini. Efek sinematik, detail realistis, dan destruktifitas bangunan membuat setiap momen terasa megah. Walaupun masih ada bug dan optimisasi DLSS yang kurang mulus, performa dasarnya sudah solid. Dengan penyempurnaan lebih lanjut, game ini berpotensi jadi salah satu FPS dengan grafis terbaik di generasi saat ini.
Audio dan Musik
Suara senjata di Battlefield 6 sangat realistis dan impactful, memberikan kepuasan setiap kali peluru dilepaskan. Audio positional juga bekerja baik; langkah kaki musuh jelas terdengar, terutama di ruangan sempit atau suasana sunyi.
Musik latar justru menjadi nilai tambah besar. Soundtrack Battlefield 6 membawa nuansa nostalgia, mengingatkan kembali ke masa kejayaan Battlefield 3 dan Battlefield 4. Suara kendaraan dan ledakan pun autentik, menghadirkan atmosfer perang besar yang khas seri ini.
Chaos yang Cinematic
Salah satu momen paling memorable di Open Beta adalah ketika kekacauan terjadi di satu titik map. Ledakan, kendaraan, dan pasukan bertabrakan, menciptakan adegan yang terasa seperti potongan film aksi. Inilah ciri khas Battlefield yang kembali terasa di seri ini—“Battlefield banget”, jauh lebih otentik daripada BF2042.
Gunplay juga seimbang, terasa arcade tapi dengan sentuhan semi-realistis. Handling senjata mudah dipelajari, namun tetap punya tantangan tergantung attachment. Perpaduan ini membuat gameplay terasa lebih ramah bagi pemain baru tanpa mengorbankan kedalaman untuk veteran.
Rekomendasi dan Harapan
Berdasarkan Open Beta Week 1 dan Week 2, Battlefield 6 jelas lebih solid daripada BF2042. Chaos besar-besaran kembali, visual lebih stabil, audio autentik, dan kendaraan terasa seimbang. Namun, ada beberapa hal yang patut diperhatikan untuk rilis penuh:
Optimisasi Grafis Grafis memang tajam dan memukau, tapi juga berat. Di PC high-end, performa stabil, namun opsi DLSS Frame Gen justru menimbulkan stuttering. EA perlu memastikan optimisasi lebih baik agar game bisa berjalan lancar di berbagai spek.
Jumlah Map Terbatas Informasi yang beredar, hanya ada sekitar 9 map saat rilis penuh. Untuk game sebesar Battlefield, jumlah ini terasa kurang. Seri ini identik dengan variasi medan perang, jadi menambah map atau mempercepat update jadi kebutuhan penting.
Monetisasi & Battle Pass Kehadiran battle pass dan kosmetik dalam jumlah banyak menimbulkan kekhawatiran. Ukuran file game bisa membengkak karena skin, sementara konten inti seperti map dan mode bisa tertinggal. Harapannya, EA tidak mengulang kesalahan dengan fokus ke kosmetik berlebihan.
Legacy & Kepercayaan Pemain Setelah BF2042 yang dianggap gagal, EA perlu membuktikan bahwa mereka mendengar kritik. Beta ini sudah memberikan sinyal positif, tapi di rilis penuh mereka harus konsisten. Jika tidak, kepercayaan fans bisa runtuh lagi.
Harga dan Nilai Jika harga rilis sekitar Rp 800.000, sebenarnya pantas untuk kualitas yang ditawarkan. Namun, dengan track record buruk dari seri sebelumnya, aku pribadi menyarankan pemain tidak pre-order, melainkan menunggu review day one atau gameplay dari komunitas.
Secara keseluruhan, Battlefield 6 adalah langkah ke arah yang benar. Game ini terasa kembali ke akarnya, menghadirkan chaos epik khas seri, dan memperbaiki banyak kelemahan BF2042. Dengan sedikit perbaikan teknis dan komitmen konten pasca-rilis, Battlefield 6 bisa jadi kebangkitan besar bagi franchise ini.
Kesimpulan Battlefield 6Open Beta
Battlefield 6 Open Beta Week 1 dan Week 2 memberikan sinyal positif. Chaos besar-besaran kembali, visual dan audio lebih kuat dari sebelumnya, serta keseimbangan kendaraan jauh lebih realistis.
Walaupun ada bug minor dan kekhawatiran soal monetisasi, pengalaman beta ini menunjukkan bahwa Battlefield 6 bisa menjadi kebangkitan seri. Aku pribadi tidak akan melakukan pre-order, tapi akan menunggu rilis penuh dan melihat kondisi day one. Untuk fans, game ini jelas layak diantisipasi, tapi bagi gamer umum, ada baiknya menunggu review final sebelum membeli.
Banyak game survival mencoba menarik pemain dengan ancaman dunia pasca-bencana, tapi Atomfall menawarkan sesuatu yang berbeda. Bukannya melemparkanmu ke dalam aksi intens sejak awal, game ini justru membiarkanmu tersesat dalam dunia terbuka penuh misteri. Dengan pacing lambat, misi samar, dan panggilan telepon misterius yang selalu mengganggu setiap langkah, Atomfall membangun atmosfer unik yang bikin rasa penasaran tak pernah reda. Namun, apakah daya tarik misteri ini cukup untuk menutupi kekurangan di sisi gameplay dan dunia yang terasa kosong?
Tabel Konten Artikel Review Atomfall
Review Narasi Atomfall
Versi ulasan dalam bentuk narasi video tersedia di bawah ini. Ulasannya cukup mendalam, meski tidak sedetail artikel tertulis disini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel videonya.
Gameplay Atomfall
Dunia yang Luas tapi Sepi
Atomfall menghadirkan sebuah dunia open world yang cukup luas, walau tidak sebesar seri sejenis. Ada sedikit loading saat berpindah area, tapi secara keseluruhan tetap terasa sebagai dunia terbuka penuh. Saat pertama kali keluar dari bunker, pemain dibiarkan tersesat dalam kebingungan. Misi utamanya samar, seolah menantang kita untuk mencari arah sendiri. Inilah yang membuat pacing cerita terasa lambat sejak awal, karena game tidak pernah memberi instruksi jelas.
Meski begitu, eksplorasi di Atomfall tetap punya daya tarik. Lingkungan terasa cukup indah jika dilihat dari ketinggian, walau tidak menawarkan keajaiban visual yang benar-benar spektakuler. NPC dalam dunia ini terasa repetitif, aktivitas mereka monoton, dan worldbuilding terkesan kosong. Namun, setiap NPC penting tetap punya quest yang menyinggung kondisi dunia dan berhubungan dengan misteri besar: Oberon.
Cerita: Misteri Telepon dan Oberon
Inti cerita Atomfall berputar pada dua hal: Oberon dan penelpon misterius. Sejak keluar dari bunker, karakter kita selalu mendapat panggilan telepon umum yang muncul setelah melakukan tindakan tertentu. Hook ini menjadi ciri khas game, sekaligus penuntun pemain menuju inti cerita.
Namun, pacing cerita yang lambat dan misi yang terlalu samar bisa membuat pemain tersesat. Menariknya, hal ini justru mendorong investigasi mandiri, sehingga rasa penasaran akan identitas Oberon terus tumbuh. Saat akhirnya kebenaran terungkap, ternyata Oberon tidak se-menakutkan yang dibayangkan, justru cukup biasa.
Game ini memiliki multiple ending, dengan salah satunya—ending telepon—menjadi yang paling sulit dicapai. Ending tersebut menuntut eksplorasi penuh dan kesabaran ekstra, tapi justru terasa kurang memuaskan karena terlalu banyak misteri yang tetap dibiarkan menggantung.
Gameplay: Eksplorasi, Loot, dan Upgrade
Gameplay Atomfall berputar pada tiga hal: eksplorasi, loot, dan upgrade. Progresi karakter dilakukan melalui sistem perk serta peningkatan senjata api. Crafting dan resource management juga cukup signifikan, memengaruhi pola bermain secara nyata.
Sistem combat memberi kebebasan pemain untuk memilih gaya bertarung. Ada senjata tajam, senjata api, panah, hingga beragam granat buatan. Kombinasi ini membuat pertarungan terasa variatif, meskipun AI musuh cenderung repetitif dan kurang menantang.
Dari sisi tingkat kesulitan, Atomfall memberikan pilihan luas: mulai dari Sightseer yang sangat mudah, hingga Veteran yang ekstrem. Bahkan, kesulitan bisa dikustomisasi untuk menciptakan pengalaman paling hardcore. Sayangnya, game ini tidak menyediakan fitur quality-of-life seperti fast travel atau quest tracker. Semua harus dijalani dengan manual, yang mungkin terasa membatasi untuk sebagian pemain.
Quest utama jelas punya bobot, namun side quest lebih condong ke eksplorasi dunia tanpa memberikan sesuatu yang benar-benar istimewa.
Audio dan Musik: Generik tapi Dinamis
Dari sisi audio, Atomfall masih berada di level standar. Efek ambient cukup bagus, meski kurang detail. Suara senjata terasa solid, tapi environment sound masih lemah. Sesekali, muncul bug audio seperti suara yang tersangkut atau delay.
Musik dalam game ini sayangnya tidak memorable. OST terasa generik dan tidak meninggalkan kesan berarti. Meski begitu, musik dinamis bekerja dengan baik: saat pertarungan, lagu menjadi tegang, sementara di situasi tenang musiknya lebih redup. Voice acting pun biasa saja, tidak memberikan penekanan emosional yang kuat.
Visual dan Performa: Stabil tapi Biasa
Secara grafis, Atomfall tergolong menarik. Dunia yang ditampilkan indah untuk dilihat dari sudut tertentu, meski desain dunia secara keseluruhan terasa standar. Desain karakter dan musuh pun cenderung generik tanpa ciri khas menonjol.
Namun, performa patut diapresiasi. Game berjalan stabil di pengaturan ultra tanpa kendala berarti. Tidak ada bug fatal yang merusak pengalaman, hanya sedikit glitch resource saat menggunakan trainer/cheats, dan bug suara yang kadang muncul. UI dan navigasi menu terasa nyaman, sehingga tidak menambah beban pemain.
Harga dan Rekomendasi
Saat artikel ini dibuat, harga resmi Atomfall di Steam adalah Rp 375.999 untuk edisi standar, sementara di Xbox/Microsoft Store mencapai Rp 790.000. Aku sendiri menilai harga pantas untuk game ini sekitar Rp 250.000, dan paling ideal jika diskon hingga Rp 150.000.
Alasannya sederhana: Atomfall tidak menawarkan fitur spektakuler seperti siklus siang-malam, musiknya standar, dan gameplay survival-nya terasa sengaja dibuat menyulitkan tanpa inovasi berarti. Keunggulan utamanya hanya pada grafis yang stabil dan rasa eksplorasi sesaat.
Meskipun begitu, aku tetap merekomendasikan Atomfall—dengan catatan ekspektasi yang wajar. Game ini cocok untuk penggemar survival yang sabar, serta mereka yang tertarik dengan nuansa misteri dan folklore Inggris. Jika masuk kategori itu, maka Atomfall bisa menjadi pengalaman yang menarik.
Kesimpulan
Atomfall adalah game survival open world yang penuh misteri, dengan cerita yang berpusat pada telepon misterius dan sosok Oberon. Meski pacing lambat, misi samar, dan worldbuilding terasa kosong, game ini tetap menawarkan pengalaman unik melalui eksplorasi dan multiple ending. Visualnya stabil, gameplay cukup variatif, tapi audio dan musiknya tidak meninggalkan kesan berarti.
Dengan harga resmi yang relatif tinggi, Atomfall lebih cocok dibeli saat diskon. Namun, bagi penggemar genre survival misteri, game ini bisa menjadi petualangan yang berbeda dari biasanya.
Situs resmi anime Sakamoto Days mengumumkan pembaruan untuk Sakamoto Days Part 2: visual terbaru, video trailer, dan daftar pemeran tambahan. Paruh kedua serial adaptasi manga komedi-aksi karya Yuuto Suzuki ini mulai tayang 15 Juli.
Pemeran Tambahan
Nao Toramaru diperankan Hisako Kanemoto
Jouichirou Kaji diperankan Tomoaki Maeno
Shinaya diperankan Tatsumaru Tachibana
Staf Utama
Sutradara: Masaki Watanabe
Series Composition: Taku Kishimoto
Desain Karakter: You Moriyama
Musik: Yuuki Hayashi
Studio:TMS Entertainment
Info Manga & Rilis
Serialisasi:Manga karya Yuuto Suzuki terbit di Weekly Shounen Jump sejak November 2020.
Little Nightmares II di PC dengan kontroler terasa lebih nyaman dibandingkan menggunakan keyboard dan mouse. Tata letak tombol yang sederhana membuat navigasi lebih intuitif, meski aku merasakan sedikit delay pada beberapa momen—entah karena kurang terbiasa memakai stik atau memang ada sedikit kekurangan responsivitas.
Kontrol
Kontrol kamera dan pergerakan terasa lebih halus dibandingkan seri sebelumnya. Walau sistem kamera tetap memakai sudut tetap (fixed angle), karakter bisa bergerak ke arah atas dan bawah selain kiri-kanan, memberikan kebebasan yang lebih besar, meski juga menuntut adaptasi.
Tabel Konten Artikel Review Little Nightmares II
Review NarasiLittle Nightmares 2
Versi ulasan dalam bentuk narasi video tersedia di bawah ini. Ulasannya cukup mendalam, meski tidak sedetail artikel tertulis disini. Video disajikan dalam bahasa Indonesia. Klik di sini untuk mengunjungi channel videonya.
GameplayLittle Nightmares 2
Tingkat Kesulitan dan Mekanisme Permainan
Secara umum, tingkat kesulitannya tergolong cukup mudah. Namun, pemain baru mungkin akan sering meleset saat bergerak atau melompat karena sudut kamera yang unik. Menggunakan kontroler memberi pengalaman bermain yang lebih konsisten dan natural, terutama dalam momen aksi cepat atau saat dikejar oleh musuh.
Visual, Grafis, dan Atmosfer
Penilaian grafis di Little Nightmares II agak tricky mengingat suasananya yang cenderung gelap. Namun, dari pengamatan, kualitas visual jelas lebih baik dibanding seri pertama. Pencahayaan dibuat lebih seimbang—tidak terlalu gelap seperti di game pertama—sehingga detail lingkungan dapat dinikmati dengan lebih jelas. Setiap chapter memiliki tema visual yang unik, memperkuat kesan naratif sekaligus membangun suasana horor yang lebih dalam. Perhatian terhadap detail membuat dunia game terasa hidup dan imersif.
Audio dan Efek Suara
Kualitas audio di Little Nightmares II adalah salah satu kekuatannya. Musik latar mengalun dengan nada misterius, mendukung ketegangan di setiap adegan. Efek ambient seperti suara langkah, derit lantai, dan hembusan angin terdengar detail, membuat pemain seakan berada langsung di dalam dunia game. Suara juga dimanfaatkan sebagai elemen kejutan, seperti momen tak terduga di mana lantai ambruk dan makhluk jatuh—sebuah jumpscare berbasis audio yang efektif memancing reaksi spontan.
Cerita dan Karakter
Dibanding seri pertama, alur cerita di Little Nightmares II lebih mudah dipahami meski tetap menyisakan misteri. Hubungan antara Mono dan Six terasa alami, seakan mereka adalah duo yang tak terpisahkan. Menariknya, game ini berperan sebagai prekuel dari Little Nightmares pertama, memperlihatkan latar belakang Six sebelum terjebak di The Maw. Namun, meski memberi beberapa jawaban, game ini juga meninggalkan pertanyaan baru—terutama tentang asal-usul Mono dan bagaimana Six akhirnya sampai ke The Maw.
Desain Musuh dan AI
Musuh dirancang untuk memaksa pemain berpikir cepat dan cerdas. AI tidak terlalu canggih, tetapi cukup untuk menciptakan tekanan saat dikejar atau bersembunyi. Beberapa pertarungan bos, seperti melawan makhluk laba-laba dan sosok mirip Slenderman, menjadi sorotan tersendiri.
Puzzle dan Eksplorasi
Puzzle dalam game ini terasa bervariasi, berfokus pada pemanfaatan objek di lingkungan sekitar. Tidak repetitif, namun tetap menantang pemain untuk menganalisis ruang dan fungsi setiap elemen yang tersedia. Desain ini membuat gameplay terasa segar hingga akhir.
Momen Paling Berkesan
Salah satu momen paling mendebarkan adalah saat dikejar oleh bos terakhir, di mana waktu seolah melambat. Pergerakan karakter menjadi sangat lambat, memaksa pemain tetap fokus dan tepat waktu meski situasi membuat frustrasi. Ketegangan ini menjadi puncak adrenalin sebelum mencapai akhir cerita.
Kelebihan
Kekuatan terbesar Little Nightmares II terletak pada visualnya yang lebih matang, dengan pencahayaan seimbang yang membuat detail dunia gelap ini lebih mudah dinikmati. Desain level dan tema setiap chapter memberi identitas unik, memperkuat atmosfer horor yang sudah dibangun sejak awal permainan. Audio yang kaya detail dan ambient sound yang menghidupkan suasana membuat setiap langkah pemain terasa nyata. Cerita yang lebih mudah diikuti tanpa mengorbankan misteri, serta hubungan antara karakter utama yang terasa natural, menambah kedalaman narasi. Selain itu, puzzle yang bervariasi dan bebas repetisi menjaga pengalaman bermain tetap segar hingga akhir.
Kekurangan
Meski begitu, game ini masih memiliki beberapa kekurangan yang terasa di beberapa titik. Terdapat sedikit delay pada kontrol di momen tertentu, yang bisa mengganggu terutama saat momen aksi cepat. Sudut kamera fixed angle, meskipun menjadi ciri khas, tetap menuntut adaptasi dan terkadang membuat pergerakan terasa kurang presisi. AI musuh pun cenderung sederhana, sehingga ancaman yang mereka berikan lebih mengandalkan desain situasi daripada kecerdasan perilaku.
Kesimpulan
Little Nightmares II adalah sekuel yang berhasil mengembangkan apa yang sudah kuat di seri pertama, sekaligus memperbaiki beberapa kelemahan sebelumnya. Dengan kombinasi visual yang lebih tajam, audio yang mendalam, dan narasi yang lebih terarah, game ini menjadi pengalaman horor-petualangan yang memikat dari awal hingga akhir. Meski masih menyisakan misteri yang belum terjawab, justru inilah yang membuat dunia Little Nightmares semakin menarik untuk ditelusuri di masa depan.
TO Books mengumumkan adaptasi anime dari light novel karya Firehead, Kaketa Tsuki no Mercedes: Kyuuketsuki no Kizoku ni Tensei shita kedo Suteraresou nanode Dungeon wo Seiha suru (Mercedes and the Waning Moon: The Dungeoneering Feats of a Discarded Vampire Aristocrat). Detail tanggal tayang belum diungkap.
Perjalanan Novel
Asal-usul: Serial dimulai di Shousetsuka ni Narou pada Oktober 2018.
Edisi Cetak:TO Books menerbitkan versi cetak dengan ilustrasi KeG sejak Mei 2021; Volume 3 rilis Februari 2022.
Volume Terbaru:Volume 4 dijadwalkan rilis digital pada 15 Agustus.
Adaptasi Manga
Serialisasi:Manga oleh Pochi Edoya tayang di situs Corona EX sejak Agustus 2021.
Rilis Tankoubon:Volume 4 terbit September 2024; Volume 5 juga direncanakan 15 Agustus.
Lisensi Bahasa Inggris
J-Novel Club melisensikan light novel dan manga untuk rilis digital pada November 2024.
Novel:Volume 2 dirilis 18 Juni; Volume 3 dijadwalkan 22 September.
Terlahir kembali sebagai vampir, Mercedes Grunewald—putri dari bangsawan dan selir yang tersisih—tahu bahwa suatu hari ia akan disingkirkan dari garis pewaris. Ibunya tak punya keterampilan, sang pelayan sudah sepuh, dan Mercedes masih kanak-kanak. Untuk bertahan, ia memilih dungeon crawling—pekerjaan yang “bisa dilakukan siapa saja”, bahkan anak kecil. Berlatih sejak usia prasekolah dan ditopang potensi kuat dari negeri para vampir, Mercedes berjanji menulis ulang takdirnya. Kali ini ia tak ingin mati dengan penyesalan: di kedalaman dungeon, ia mencari sesuatu yang akan membuat “bulan” miliknya kembali purnama.
Asmik Ace membuka situs resmi untuk anime Arne no Jikenbo (The Case Book of Arne) dan merilis teaser trailer pertama. Adaptasi ini dijadwalkan tayang pada Januari 2026 dengan pengungkapan staf inti produksi.
Staf Produksi
Sutradara: Keisuke Inoue
Series Composition: Murasaki, Keisuke Inoue
Desain Karakter & Chief Animation Director: Akiko Satou
Musik: Yoshimasa Fujisawa
Studio:SILVER LINK.
Dari RPG Maker ke Layar Kaca
AnimeArne no Jikenbo mengadaptasi gim misteri vampir karya Harumurasaki, dibuat dengan RPG Maker dan dirilis gratis di situs Vaka Game Magazine pada November 2017. Versi Steam menyusul pada Oktober 2020 dengan dukungan bahasa Jepang, Mandarin, dan Inggris—membawa kultus penggemar ke kancah global.
Adaptasi Manga
Manga oleh Soraho Ina terbit di majalah Comic Gene sejak November 2018. Seri ini berakhir di Volume 4 yang rilis Maret 2022—menjadi jembatan penting sebelum Arne no Jikenbo resmi melompat ke medium anime.
Nexon Games bersama pengembang LoreVault mengumumkan Woochi the Wayfarer, gim single-player fantasy action-adventure berlatar era Joseon di Korea. Gim ini direncanakan rilis di PlayStation 5, Xbox Series, dan PC—tanggal rilis belum diumumkan.
Visi & Pesan Penerbit
CEO Nexon Games Park Yong-hyun menyebut Woochi the Wayfarer mengusung material tradisional Korea dengan emosi yang universal, menargetkan kisah kuat yang menunjukkan kapabilitas pengembangan Nexon serta relevan untuk pemain global.
Detail Pertama
Tokoh & Premis: Mengisahkan petualangan Jeon Woochi, Dosa (Mage of the Way) yang menumpas ketidakadilan dan mempermainkan kaum korup—terinspirasi dari novel klasik The Tale of Jeon Woochi.
Mesin Gim:Unreal Engine 5, menghadirkan visual hidup dari dunia fantasi Joseon.
Pengalaman: Narasi single-player yang imersif dengan aksi intens, setting magis, monster tradisional Korea, dan sentuhan musik etnik.
Teaser Pertama
Teaser berdurasi sekitar 2 menit 20 detik membangun ketegangan melalui sosok Myoan, seorang dukun misterius yang melafalkan mantra, serta siluet Woochi di hutan lebat. Paruh akhir menampilkan adu kekuatan sengit antara dua figur tersebut.
Musik & Suara
Soundtrack digarap Jung Jae-il—komposer di balik musik film Parasite dan serial Netflix Squid Game—menggabungkan palet emosional dengan musik tradisional Korea untuk memperkuat identitas budaya gim.
Produksi & Riset Lokasi
Sebagai judul baru, Woochi the Wayfarer dikembangkan untuk memenuhi ekspektasi pasar global. LoreVault berkolaborasi dengan pakar sastra dan musik tradisional Korea, melakukan location hunting ke situs budaya di seluruh negeri demi merekonstruksi era Joseon dalam 3D berkualitas tinggi.
Adaptasi anime dari light novel karya Tail Yuzuhara, Akuyaku Reijou no Tsuihougo!: Kyoukai Kaikaku Gohan de Yuuyuu Sister-gurashi, diumumkan oleh mangaka Tsumuji Yoshimura. Judul internasionalnya: I was Exiled as a Villainess! I am Now a Sister Living the Good life Through a Culinary Reform.
Asal-usul Seri
Novel Web: Yuzuhara memulai penulisan di Shousetsuka ni Narou pada September 2018.
Cetak Kadokawa: Novel edisi cetak dengan ilustrasi Yuu Siroya terbit mulai Maret 2019 dan berakhir di Volume 2 pada September 2019.
Adaptasi Manga:Tsumuji Yoshimura memulai manga di ComicWalker (kini Kadocomi) pada Desember 2018, berakhir Juli 2024. Volume 11 yang juga final rilis Agustus 2024.
Rilis Bahasa Inggris (Manga):Kadokawa mulai menerbitkan versi Inggris di BookWalker pada November 2024.
Sinopsis
Terlahir kembali sebagai “villainess”, Elizabeth Fontini sudah berjuang melawan takdir, namun serangkaian salah paham dan keadaan sial tetap menjerumuskannya ke pengasingan di biara. Alih-alih hukuman, kehidupan sebagai suster justru membuka kebebasan yang lama ia rindukan. Kedamaian singkat itu terusik oleh kedatangan Leonid Guardhelm, kepala ksatria dari kerajaan lamanya. Meski begitu, optimisme Elizabeth tak goyah. Berbekal pengalaman hidup sebelumnya sebagai event planner, ia bertekad melakukan reformasi kuliner—membawa “rasa manis” ke hidup banyak orang lewat hidangan rumahan, satu resep demi satu senyap perubahan.
Catatan Tambahan
Pengumuman anime Akuyaku Reijou no Tsuihougo!: Kyoukai Kaikaku Gohan de Yuuyuu Sister-gurashi menambah deretan adaptasi bertema villainess dengan twist unik pada reformasi kuliner. Judul internasional I was Exiled as a Villainess! I am Now a Sister Living the Good life Through a Culinary Reform membantu pembaca global mengenali seri ini di layanan digital dan katalog penerbit.
Kodansha membuka situs resmi untuk adaptasi anime Kuroneko to Majo no Kyoushitsu. (The Classroom of a Black Cat and a Witch) karya Yosuke Kaneda, disertai teaser visual dan teaser trailer. Serial ini dijadwalkan tayang pada 2026. Bersamaan dengan itu, jajaran pemeran utama dan staf kunci juga terungkap.
Pemeran Utama
Kaede Hondo sebagai Spica Virgo
Nobunaga Shimazaki sebagai Claude Sirius
Staf Produksi
Sutradara: Naoyuki Tatsuwa
Series Composition: Midori Gotou
Desain Karakter: Takayuki Onoda
Studio: LIDENFILMS
Info Manga
Serialisasi: Yosuke Kaneda memulai Kuroneko to Majo no Kyoushitsu. di platform Magazine Pocket sejak Maret 2022.
English Simulpublish: Kodansha menerbitkan versi bahasa Inggris di layanan K Manga mulai Mei 2023 dengan judul The Classroom of a Black Cat and a Witch.
Sinopsis
Royal Diana Academy adalah sekolah bergengsi bagi mereka yang mahir sihir. Lulusannya menempati puncak profesi atau direkrut keluarga kerajaan. Spica Virgo bercita-cita belajar di sana, mengikuti jejak idolanya, Claude Sirius—penyihir kelas dunia yang jadi pengajar termuda, namun menghilang secara misterius tak lama kemudian. Minim pengalaman dan koneksi, Spica kesulitan berkembang. Hingga suatu hari ia bertemu kucing hitam yang bisa berbicara dan memiliki kemampuan sihir. Demi mengubah nasib, Spica memohon menjadi muridnya. Sang kucing setuju dengan satu syarat: Spica harus menemukan cara mencabut kutukan yang menjadikannya kucing. Tantangan berat menanti, tetapi Spica bertekad membuktikan diri layak menjadi muridnya.
Kadokawa membuka situs resmi untuk anime Replica datte Koi wo Suru.. (Even a Replica Can Fall in Love) dan merilis teaser visual serta teaser trailer pertama. Adaptasi dari novel romansa supernatural karya Don Haruna ini dijadwalkan tayang pada 2026. Pengumuman mencantumkan pemeran utama, staf kunci, dan studio produksi.
Pemeran Utama
Sumire Morohoshi sebagai Nao dan Sunao Aikawa.
Staf Produksi
Sutradara: Ryuuichi Kimura
Series Composition: Tomoko Shinozuka
Skenario: Tomoko Shinozuka, Misaki Morie
Desain Karakter: Eiji Abiko
Studio: Voil
Novel & Manga: Timeline Rilis
Novel: Don Haruna memulai seri ini di label Dengeki Bunko dengan ilustrasi oleh raemz pada Februari 2023. Volume 4 terbit Juli 2024, sementara Volume 5 dijadwalkan 8 Agustus.
Manga: Momose Hanada memulai adaptasi manga di majalah Dengeki Maoh sejak April 2023. Volume 3 rilis Desember 2024, dan Volume 4 dijadwalkan 8 Agustus.
Lisensi Bahasa Inggris & Distribusi Digital
Yen Press melisensikan novel untuk rilis bahasa Inggris pada Maret 2024 dan menerbitkan Volume 3 pada 15 Juli.
Kadokawa mulai menayangkan manga di BookWalker sejak Juni 2024.
Yen Press juga melisensikan manga pada 7 Juli, dengan Volume 1 direncanakan rilis 16 Desember.