Tahun 2025 bisa disebut sebagai salah satu periode paling krusial bagi genre first-person shooter (FPS). Setelah lebih dari dua dekade mendominasi dunia game, genre ini kini berada dalam situasi yang unik: di satu sisi, ada ekspektasi besar terhadap proyek-proyek AAA yang mahal, sinematik, dan penuh fitur inovatif. Di sisi lain, semakin banyak game gratis yang menawarkan akses instan, monetisasi kosmetik, dan gameplay yang bisa dijalankan lintas platform. Nah ini waktu yang tepat bahas Battlefield 6 vs Delta Force.
Dalam lanskap ini, dua judul baru mencuri perhatian global. Battlefield 6, produk andalan Electronic Arts yang dikembangkan oleh DICE, hadir sebagai jawaban atas kegagalan Battlefield 2042. Game ini bukan sekadar sekuel, tapi sebuah proyek pemulihan reputasi yang ditujukan untuk mengembalikan kepercayaan komunitas dan mempertegas identitas Battlefield sebagai “raja perang skala besar.”
Di sisi lain, ada Delta Force (Hawk Ops), nama lama yang sempat hilang dari radar industri. Dilahirkan kembali oleh TiMi Studios di bawah naungan Tencent, Delta Force mencoba masuk kembali ke panggung FPS modern dengan strategi berbeda: free-to-play, cross-platform, dan hybrid gameplay yang menggabungkan pertempuran besar ala Battlefield dengan mode extraction bergaya Escape from Tarkov. Strategi ini jelas diarahkan untuk menjangkau audiens seluas mungkin, dari pemain hardcore PC hingga gamer mobile.
Persaingan keduanya pun menarik, bukan hanya karena kesamaan elemen gameplay, tapi juga perbedaan filosofi. Battlefield 6 datang dengan harga penuh, memposisikan diri sebagai blockbuster premium, sedangkan Delta Force menawarkan jalan gratis namun dengan kompromi teknis dan desain. Keduanya berusaha menjawab kebutuhan gamer modern, tapi dengan cara yang sangat berbeda.
Tidak heran kalau perdebatan segera mencuat di komunitas: apakah Delta Force bisa benar-benar menggantikan Battlefield 6, atau justru Battlefield yang akan kembali mempertegas dominasinya di arena perang digital?
Pembahasan Versi Vidio – Lebih Pendek Gak Terlalu Detail
Kamu juga bisa menyimak versi narasi melalui video ini. Pembahasan di video dibuat lebih ringkas dibandingkan artikel. Silakan tonton langsung di bawah ini atau klik di sini untuk menuju ke videonya.
Tabel Konten Artikel Battlefield 6 vs Delta Force
Sejarah Panjang Dua Franchise
Sebelum menilai siapa lebih unggul di tahun 2025, penting untuk menoleh ke belakang dan memahami warisan yang dibawa kedua game ini. Battlefield dan Delta Force lahir dari era berbeda, tetapi sama-sama menjadi saksi bagaimana genre shooter berevolusi selama lebih dari dua dekade.
Battlefield: Dari 1942 ke 2042, Naik Turun Sebuah Legenda
Franchise Battlefield dimulai pada tahun 2002 dengan Battlefield 1942. Game ini langsung mengguncang industri berkat skala pertempurannya yang luar biasa untuk zamannya. Dengan 64 pemain bertarung di peta luas, kendaraan tank, pesawat tempur, hingga kapal perang, Battlefield 1942 menghadirkan sesuatu yang belum pernah ada: perang digital yang terasa masif, hidup, dan tak terduga.
Kesuksesan itu membuka jalan untuk seri-seri berikutnya. Battlefield Vietnam memperkenalkan musik era perang dan helikopter, sementara Battlefield 2 menjadi salah satu game multiplayer paling populer di PC pada 2005. Namun, yang benar-benar mengangkat nama Battlefield ke level mainstream adalah Bad Company dan Bad Company 2. Kehadiran Frostbite Engine memperkenalkan fitur ikonik: destruksi lingkungan. Dinding rumah bisa ditembus RPG, gedung bisa runtuh menimpa musuh—dan semua ini menjadikan Battlefield punya identitas unik dibanding Call of Duty yang lebih linear.
Puncaknya ada di Battlefield 3 (2011) dan Battlefield 4 (2013). Keduanya dipuji sebagai salah satu shooter multipemain terbaik sepanjang masa, dengan grafis realistis, kendaraan canggih, dan mode Conquest yang semakin matang. Bagi banyak pemain, periode ini adalah “masa keemasan” Battlefield.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Battlefield 1 (2016) yang mengambil latar Perang Dunia I memang dipuji atas keberanian konsep, tetapi sebagian komunitas merasa gameplay-nya kurang seimbang. Battlefield V (2018) lebih kontroversial lagi, terutama karena setting Perang Dunia II yang dianggap kurang autentik. Puncak masalah terjadi di Battlefield 2042 (2021). Diluncurkan dengan bug parah, map luas tapi kosong, serta hilangnya fitur inti seperti sistem kelas, game ini jadi salah satu kekecewaan terbesar dalam sejarah franchise. EA dan DICE bahkan butuh waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki sebagian besar masalah.
Maka, Battlefield 6 hadir dengan beban besar: menghapus memori buruk 2042 dan mengembalikan kejayaan era Battlefield 3–4. Dengan janji “back to basics” plus inovasi modern, Battlefield 6 diposisikan bukan hanya sebagai sekuel, melainkan penebusan.
Delta Force: Dari Mil-Sim Ringan ke Kebangkitan F2P
Sementara Battlefield lahir di awal 2000-an, Delta Force sudah lebih dulu muncul pada 1998 lewat studio Novalogic. Berbeda dengan Battlefield yang menekankan chaos berskala besar, Delta Force saat itu tampil sebagai shooter taktis dengan nuansa militer realistis. Grafis voxel 3D khas era 90-an membuatnya unik, meski juga kaku. Seri-seri lanjutannya, seperti Delta Force 2, Land Warrior, dan Black Hawk Down, memperluas reputasi sebagai game semi mil-sim yang lebih serius dibanding FPS arus utama.
Puncak popularitas Delta Force ada di awal 2000-an, ketika Black Hawk Down (2003) dirilis. Terinspirasi film dengan judul sama, game ini menghadirkan campaign berbasis operasi militer AS di Mogadishu. Mode multipemainnya juga cukup populer di kalangan gamer PC kala itu, meski jelas tidak sebesar Battlefield. Sayangnya, setelah itu pamor Delta Force meredup. Novalogic tak mampu mengikuti tren industri, hingga akhirnya franchise ini terhenti total di 2009.
Butuh lebih dari satu dekade hingga akhirnya nama Delta Force muncul lagi. Pada 2023, TiMi Studios—developer asal Tiongkok di bawah Tencent—mengumumkan kebangkitan franchise ini dengan judul baru: Delta Force: Hawk Ops. Dengan dukungan modal besar dan strategi modern, Delta Force diposisikan untuk masuk ke pasar global lewat pendekatan free-to-play lintas platform.
Namun, strategi ini juga mengundang keraguan. Banyak yang menilai TiMi hanya ingin membuat “Battlefield versi murah”, lengkap dengan pertempuran besar 32v32, kendaraan, dan map luas. Bedanya, di sini Delta Force tidak punya teknologi destruksi sehebat Frostbite. Hasilnya lebih mendekati Battlefield lama atau bahkan Battlefield 2042 yang banyak dikritik karena destruksinya dangkal. Meski begitu, TiMi mencoba membedakan diri lewat mode extraction shooter Hazard Operations, sesuatu yang belum sepenuhnya digarap Battlefield.
Dengan warisan panjang ini, duel 2025 antara Battlefield 6 dan Delta Force bukan hanya sekadar adu fitur, melainkan benturan dua identitas: satu mewakili kejayaan AAA barat yang mencoba bangkit, satu lagi mewakili eksperimen besar developer Asia yang ingin merebut pasar global lewat strategi gratis.
Model Bisnis & Gameplay
Jika dibandingkan secara langsung, Battlefield 6 dan Delta Force bukan hanya berbeda dalam hal harga, tetapi juga filosofi bagaimana keduanya mendekati pengalaman bermain. Perbedaan ini penting, karena ia bukan sekadar soal aksesibilitas, melainkan juga soal bagaimana kedua game membentuk identitas mereka di mata pemain.
Premium Blockbuster vs Gratisan Populis
Battlefield 6 tetap memegang teguh model premium berbayar penuh. Dengan harga $69,99 atau Rp799,999, EA mengemas game ini sebagai pengalaman sinematik AAA: grafis mutakhir, sistem destruksi canggih, dan desain peta yang dikurasi ketat. Model ini mengirimkan pesan yang jelas: Battlefield bukan game “asal coba”, melainkan investasi hiburan berkualitas yang diharapkan mampu bertahan bertahun-tahun lewat dukungan update.
Sebaliknya, Delta Force (Hawk Ops) mengambil jalur free-to-play. Semua orang bisa masuk tanpa membayar sepeser pun, baik di PC, konsol, maupun mobile. Strategi ini memungkinkan basis pemain yang masif sejak hari pertama, terutama di pasar Asia yang sangat akrab dengan game gratis. Namun, konsekuensinya jelas: monetisasi berpusat pada battle pass, skin kosmetik, hingga item-item tambahan. Walau developer menegaskan tidak ada pay-to-win, stigma F2P tetap melekat. Banyak gamer skeptis bahwa kualitas akan sebanding dengan produk premium sekelas Battlefield.
Gameplay: Ketika Delta Force “Meniru” Battlefield
Hal yang paling menarik adalah bagaimana kedua game ini beririsan dalam mode pertempuran skala besar. Battlefield sudah lama dikenal dengan map masif berisi 64 pemain, kendaraan darat, helikopter, hingga jet tempur. Battlefield 6 melanjutkan tradisi ini, tetapi dengan level detail yang jauh lebih kaya berkat Tactical Destruction—fitur yang memungkinkan pemain mengubah lanskap peta secara signifikan. Ledakan bisa meruntuhkan dinding, RPG bisa membuka jalur baru, dan bangunan bisa runtuh untuk mengubah jalannya pertempuran.
Delta Force mencoba menghadirkan hal serupa lewat mode Warfare 32v32. Sekilas, ia tampak seperti upaya menghadirkan “Battlefield versi gratis.” Ada tank, helikopter, map luas, dan infanteri saling tembak di medan terbuka. Namun, begitu dimainkan, kelemahan mulai terlihat. Destruksi lingkungan hampir tidak ada; sebagian besar peta terasa statis, mirip Battlefield era lama atau bahkan Battlefield 2042 yang banyak dikritik karena efek destruksinya dangkal. Alih-alih menciptakan dinamika taktis, peta Delta Force cenderung menjadi arena besar yang sekadar menampung jumlah pemain, bukan medan perang yang hidup.
Di sinilah perbedaan kualitas terasa tajam. Battlefield 6 menempatkan destruksi sebagai inti identitas gameplay, sedangkan Delta Force lebih sekadar meniru konsep permukaan tanpa kedalaman. Hasilnya, banyak pemain menggambarkan Delta Force sebagai “Battlefield versi murah”—cukup untuk memberi sensasi perang besar, tapi tidak punya kedalaman teknis yang membuat momen benar-benar tak terlupakan.
Hazard Operations: Senjata Rahasia Delta Force
Meski begitu, Delta Force punya satu kartu unik yang tidak dimiliki Battlefield: Hazard Operations. Mode extraction shooter ini membawa rasa tegang ala Escape from Tarkov atau Warzone DMZ. Pemain ditugaskan masuk ke area tertentu, mengumpulkan loot, lalu mengekstraksinya sebelum waktu habis atau sebelum tim lain menghabisi mereka. Risiko tinggi inilah yang memberi Delta Force daya tarik berbeda.
Mode ini tidak sempurna, tetapi menjadi alasan utama sebagian pemain melihat Delta Force bukan sekadar klon Battlefield. Dengan Hazard Ops, game ini menyentuh segmen yang lebih survival-oriented, memberikan cerita unik di setiap sesi. Namun, tetap saja, ketika bicara soal pertempuran masif, Battlefield 6 masih jauh di depan.
Teknologi, Visual, Komunitas & Statistik
Jika ada satu aspek yang paling jelas membedakan Battlefield 6 dan Delta Force (Hawk Ops), maka jawabannya ada pada sisi teknologi. Kedua game ini sama-sama menawarkan pertempuran besar, namun fondasi teknis dan pilihan desain audiovisual mereka membuat pengalaman bermain terasa jauh berbeda.
Battlefield 6 dan Kekuatan Frostbite
Battlefield 6 kembali dibangun menggunakan Frostbite Engine, sebuah teknologi yang sudah identik dengan franchise sejak era Bad Company. Di generasi terbaru ini, Frostbite membawa peningkatan besar pada fisika, sistem pencahayaan, dan detail destruksi. Setiap ledakan bukan hanya efek visual, tetapi juga mengubah jalannya pertempuran. Dinding yang runtuh bisa membuka jalur baru, puing-puing bisa menjadi cover darurat, dan gedung yang hancur bisa merombak total taktik tim.
Tak kalah penting, audio dalam Battlefield 6 didesain untuk memberikan rasa “immersive warfare.” Suara tembakan punya gema yang berbeda tergantung lingkungan, ledakan terasa menekan di headset, dan langkah kaki musuh bisa didengar dengan jelas di sekitar pemain. Semua ini menciptakan atmosfer sinematik khas Battlefield—sesuatu yang sulit ditiru oleh pesaing.
Dari sisi performa, Battlefield 6 memang menuntut spesifikasi tinggi. Namun, di PC modern dan konsol generasi terbaru, hasilnya setimpal. Visual yang mendekati fotorealisme dan skala map yang masif menjadi daya tarik utama yang sulit disaingi.
Delta Force: Optimasi Lintas Platform, Tapi Penuh Kompromi
Sebaliknya, Delta Force menghadapi tantangan berbeda. Dengan ambisi rilis lintas platform (PC, konsol, mobile), game ini harus kompromi banyak hal. Secara visual, Delta Force memang terlihat modern, tetapi jelas tidak sebanding dengan detail Frostbite. Efek destruksi nyaris minim, tekstur lebih sederhana, dan animasi sering terlihat kaku jika dibandingkan dengan standar AAA.
Namun, kekuatan Delta Force justru ada pada aksesibilitas. Game ini bisa dijalankan di perangkat menengah, bahkan mobile, tanpa kehilangan identitas intinya. Untuk pasar global, strategi ini masuk akal: tidak semua orang punya PC atau konsol kelas atas. Dengan cara ini, Delta Force bisa meraih audiens jauh lebih luas dibanding Battlefield yang hanya terbatas pada platform premium.
Tapi kompromi tersebut juga punya harga. Bagi gamer PC hardcore, Delta Force terasa seperti Battlefield versi jadul. Pertempuran memang besar, tapi tanpa kedalaman teknis. Banyak yang menyebut pengalaman ini mirip dengan Battlefield 2042—sebuah game yang punya map luas, tapi terasa kosong dan kurang “hidup.”
Komunitas dan Statistik Pemain
Popularitas dua game ini saat fase beta dan rilis awal juga menunjukkan kontras menarik. Battlefield 6, dalam periode open beta, langsung memecahkan rekor franchise dengan lebih dari 500.000 pemain aktif bersamaan di Steam. Angka ini menempatkannya di daftar 20 besar game dengan concurrent player terbanyak sepanjang sejarah platform tersebut. Antusiasme ini diperkuat oleh ledakan di Twitch, di mana ratusan ribu penonton menyaksikan aksi para streamer yang mencoba game ini.
Sementara itu, Delta Force juga mencatat angka yang tidak bisa dianggap remeh. Saat peluncuran F2P di PC, game ini berhasil menarik hampir 200.000 pemain bersamaan. Untuk game baru, ini merupakan capaian yang luar biasa, apalagi jika melihat basis komunitas Delta Force yang sempat mati suri selama lebih dari satu dekade. Namun, ada satu perbedaan penting: tren Delta Force lebih cepat menurun dibanding Battlefield. Ini wajar, mengingat model F2P cenderung menarik banyak pemain di awal, tapi kesulitan mempertahankan mereka tanpa konten baru yang konsisten.
Reaksi Komunitas: Antara Euforia dan Kritik
Reaksi komunitas terhadap kedua game juga cukup beragam. Di kubu Battlefield, mayoritas pemain lega melihat kembalinya sistem kelas klasik, map dengan variasi lebih baik, dan destruksi yang benar-benar berdampak pada gameplay. Namun, keluhan soal Time-to-Kill yang terlalu singkat, visibilitas musuh, hingga bug matchmaking masih menghantui. DICE berusaha cepat menanggapi dengan patch, sebuah langkah positif setelah kegagalan 2042.
Delta Force, di sisi lain, menuai komentar campuran. Banyak yang mengapresiasi upaya membawa franchise lama kembali hidup, terutama dengan Hazard Operations sebagai mode unik. Tetapi, tidak sedikit pula yang merasa mode Warfare 32v32 hanyalah tiruan Battlefield yang tidak setara. Desain map dianggap datar, kendaraan kurang memuaskan, dan atmosfer pertempuran tidak sekaotik yang dijanjikan. Komunitas PC juga vokal mengkritik sistem anti-cheat ACE yang berjalan di level kernel, menimbulkan isu privasi dan kompatibilitas.
Kritik, Filosofi, Masa Depan & Kesimpulan
Kritik dan Kontroversi
Tidak ada rilis besar yang lolos dari sorotan tajam komunitas, dan Battlefield 6 maupun Delta Force sama-sama mengalaminya.
Bagi Battlefield 6, fase open beta menunjukkan banyak harapan, tapi juga sejumlah masalah. Time-to-Kill (TTK) yang terlalu singkat membuat pertempuran terasa tidak seimbang; pemain merasa kalah terlalu cepat tanpa sempat bereaksi. Masalah lain datang dari visibilitas musuh di map tertentu, serta bug matchmaking yang kadang mengacaukan distribusi tim. Tidak ketinggalan, absennya dukungan teknologi grafis DLSS/DLAA pada fase beta pertama membuat sebagian gamer PC kecewa, walau ada saat fase beta kedua.
Namun, kelebihan Battlefield 6 ada pada respons cepat DICE. Berbeda dengan 2042 yang butuh waktu lama untuk ditambal, kali ini developer segera merilis patch balancing, menyesuaikan kendaraan, dan mengubah mekanisme spawn untuk memperbaiki pengalaman. Sikap ini memberi sinyal positif: EA dan DICE belajar dari kegagalan masa lalu dan tidak ingin mengulanginya.
Delta Force menghadapi tantangan berbeda. Sistem anti-cheat ACE yang berjalan di level kernel memang efektif mencegah kecurangan, tapi menuai kontroversi soal privasi dan kompatibilitas dengan software lain. Tidak sedikit gamer yang merasa curiga, terutama karena anti-cheat semacam ini berpotensi menimbulkan konflik dengan sistem operasi. Di luar isu teknis, kritik lain diarahkan pada mode Warfare 32v32 yang dianggap terlalu mirip Battlefield, tapi tanpa kualitas yang sama. Banyak pemain menggambarkannya seperti Battlefield 2042 versi gratis: peta luas tapi terasa kosong, destruksi dangkal, dan intensitas yang tidak seimbang.
Filosofi Desain: Cinematic Chaos vs Survival Fleksibel
Battlefield 6 dan Delta Force membawa dua filosofi desain yang berbeda.
Battlefield tetap setia pada konsep cinematic chaos. Filosofinya sederhana: setiap pertandingan harus terasa seperti adegan film perang. Ada tank yang tiba-tiba muncul di tikungan, helikopter jatuh menabrak gedung, atau ledakan yang meruntuhkan bangunan tempat tim bersembunyi. Sistem destruksi yang canggih membuat medan perang terasa hidup, bukan sekadar arena. Battlefield 6 ingin pemain keluar dari sesi permainan dengan cerita unik—“momen Battlefield” yang sulit direplikasi di game lain.
Delta Force, di sisi lain, mencoba menawarkan fleksibilitas. Dengan menggabungkan PvP skala besar dan extraction shooter, ia ingin merangkul dua audiens sekaligus: pemain yang mencari perang besar gratis, dan pemain yang menginginkan ketegangan survival. Filosofi ini menarik, tapi juga membuat identitas Delta Force terasa tidak sekuat Battlefield. Alih-alih punya ciri khas jelas, Delta Force lebih terlihat sebagai hibrida: sedikit Battlefield, sedikit Tarkov, tapi tidak mendefinisikan dirinya sendiri.
Posisi di Industri FPS
Dalam lanskap FPS global, Battlefield dan Delta Force menempati ceruk yang berbeda.
Battlefield 6 diposisikan sebagai jawaban AAA barat terhadap dominasi Call of Duty. Dengan kualitas visual tinggi, produksi besar, dan skala sinematik, ia berusaha merebut kembali kepercayaan gamer hardcore yang kecewa dengan 2042. Battlefield tidak mencoba menjadi game untuk semua orang; ia ingin menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari pengalaman perang paling epik di pasar premium.
Delta Force, sebaliknya, adalah eksperimen global ala Tencent. Dengan model free-to-play lintas platform, game ini menarget pasar raksasa Asia, pemain mobile, dan audiens casual. Strateginya adalah menjangkau sebanyak mungkin pemain, meski harus mengorbankan kedalaman teknis. Delta Force bukan ancaman langsung bagi Battlefield, melainkan alternatif: pilihan gratis bagi mereka yang enggan atau tidak mampu membeli game AAA.
Masa Depan dan Potensi
Ke depan, Battlefield 6 kemungkinan besar akan bertahan sebagai pilar utama FPS premium. Selama DICE konsisten merilis update, memperluas map, dan menjaga kualitas balancing, game ini bisa menjadi “penebusan” setelah 2042. Dukungan komunitas konten kreator juga memberi nilai tambah: montage sinematik, momen lucu ragdoll, dan adegan chaos yang selalu viral di media sosial.
Delta Force punya masa depan yang lebih tidak pasti. Mode Hazard Operations memberi potensi unik, terutama di kalangan streamer yang menyukai drama loot extraction. Namun, keberlanjutan game F2P sangat bergantung pada konsistensi update dan kemampuan menjaga keseimbangan monetisasi. Jika developer tergoda untuk memasukkan elemen pay-to-win, kepercayaan komunitas bisa runtuh seketika.
Kesimpulan: Siapa yang Lebih Unggul?
Jadi, siapa pemenangnya?
Jika bicara kualitas sinematik dan pengalaman perang besar, jawabannya jelas: Battlefield 6. Game ini menawarkan skala, teknologi, dan atmosfer yang sulit ditandingi. Delta Force mungkin mencoba meniru, tapi hasilnya terasa seperti versi murah—cukup untuk memberi sensasi perang, tapi tanpa kedalaman dan chaos yang jadi ciri khas Battlefield.
Namun, jika bicara soal aksesibilitas dan fleksibilitas, Delta Force tetap relevan. Sebagai game gratis dengan hybrid mode, ia bisa menarik banyak pemain casual, terutama di pasar mobile. Hazard Operations juga menambahkan sesuatu yang unik, meski belum cukup untuk menggoyang dominasi Battlefield.
Pada akhirnya, Battlefield dan Delta Force bukanlah rival yang saling meniadakan. Mereka adalah dua produk dengan target berbeda: satu premium AAA, satu free-to-play populis. Battlefield 6 kemungkinan akan tetap jadi “main event” di genre perang modern, sementara Delta Force akan bertahan sebagai pilihan alternatif bagi mereka yang ingin merasakan perang tanpa membayar tiket masuk.
